Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 17 September 2015 08:05

Hijrah Spiritual ke Tanah Suci

Hijrah Spiritual ke Tanah Suci

 

Kita sekarang berada di hari pertama bulan Dzulhijjah dan hari-hari pelaksanaan manasik haji. Sekarang adalah musim haji dan dua kota yaitu Mekkah dan Madinah saat ini sedang menyaksikan pementasan kecintaan dan kerinduan umat Muslim. Para peziarah kiblat datang berduyun-duyun dengan harapan rahmat dan terkabulnya syukur dan taubat mereka.

 

Labbaik allahumma labbaik! Mereka menjawab seruan Allah Swt. Ini adalah untaian kata kesaksian iman mereka kepada Allah Swt. Kehadiran mereka di Ka’bah adalah manifestasi kecintaan dan penghambaan mereka. Dalam ritual agama mana lagi selain Islam, dapat kita saksikan umat berkumpul di satu tempat dan bergerak seirama, sehati dan sekata? Haji adalah pementasan indah partisipasi jutaan manusia untuk membuktikan penghambaan mereka dan juga merupakan gambaran kecil dari umat besar bertauhid.

 

Seluruh urusan ada di tangan Allah Swt Yang Maha Bijaksana. Segala sesuat di alam semesta ini berdasarkan hikmah dalam rahasia yang hanya diketahui Allah Swt. Ajaran dan ketentuan agama diatur sedemikian rupa sehingga membimbing manusia menuju kesempurnaan. Dapat dikatakan bahwa semua ajaran agama dari pandangan secara menyeluruh dan komprehensif, adalah sarana bagi perjalanan transendental menuju kesempurnaan dan juga sebagai pagar agar tidak terjerumus dalam kelalaian dan kekhilafan.

 

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, puncak tujuan penciptaan adalah ibadah. Hubungan manusia dengan Allah Swt akan kokoh melalui ibadah, yang juga akan meningkatkan kualitas jiwa dan spiritualnya. Haji adalah sebuah ibadah yang akan memposisikan manusia dalam sebuah proses perubahan batin. Akan tetapi, proses perubahan batin yang jauh dari kesombongan dan pamrih itu, tidak dalam kesendirian melainkan dalam sebuah gerakan agung dan seirama. Dengan demikian seorang pelaksana haji, merasakan keterikatan batin yang sangat kuat dengan saudara-saudaranya dalam proses tersebut. 

 

Manasik haji, adalah penitian jejak kehidupan manusia-manusia besar seperti Nabi Ibrahim dan Ismail as. Nabi Ibrahim as telah sepenuhnya menyerahkan diri di hadapan kehendak Allah Swt dan telah mencabut ikatan duniawi yang paling dalam dari hatinya, yaitu kecintaan pada anaknya. Hakikat di balik kisah Nabi Ibrahim as adalah pengorbanan seluruh keterikatan dan ketergantungan di jalan Allah. Para hujjaj secara simbolik juga melaksanakannya dalam manasik haji.

 

Mereka meninggalkan keluarga, rumah dan tanah air mereka menuju tanah Mekkah. Mereka bersabar dari kerinduan untuk keluarga sebagai ujian untuk melepas diri dari seluruh ketergantungan dan keterikatan duniawi. Melepaskan semua beban yang memberatkan langkah manusia, akan semakin membuka jalan mencapai Allah Swt. Jika para hujjaj membuang seluruh pesona selain Allah Swt dari hati mereka, maka mereka telah semakin dekat dalam memahami makna sejati haji.

 

Manasik haji sedemikin rupa sehingga dalam setiap tahapannya, akan tercipta perubahan dalam batin manusia. Para hujjaj yang pada awalnya mengenakan baju dengan berbagai warna, harus menggantinya dengan busana putih sederhana bernama ihram. Busana sederhana tersebut, menanggalkan seluruh atribut yang menjadi nilai unggul dan status seseorang. Ihram menanggalkan semua jabatan, posisi, kekayaan bahkan etnis. Semua atribut manusia ditanggalkan dengan busana Ihram sehingga hanya satu nama yang tepat bagi seluruh pemakai Ihram yaitu “hamba”.

 

Hujjaj kemudian memulai bertawaf. Dengan gerakan perlahan dan berkesinambungan, mereka mengelilingi Ka’bah. Semua mengelilingi poros Tauhid dengan ritme gerakan khusus. Salah satu kapasitas besar agama ini adalah kemampuan mengumpulkan kekuatan manusia sebesar ini di sebuah tempat dan mengerahkannya menuju satu tujuan. Para pelaksana tawaf bergerak sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dan Ka’bah adalah jantung dunia Islam yang berdetak, menjadi poros gerakan agung itu.

 

Dalam kongres agung ini, para hujjaj akan menyaksikan sebuah fenomena baru hidup mereka. Para hujjaj harus menjauhkan diri mereka dari permusuhan, perang, upaya untuk mencapai keunggulan dan dominasi serta tidak membiarkan dirinya melanggar hak-hak orang lain. Para peziarah rumah Allah, akan berbagi pengalaman spiritualitas tersebut dengan saudara-saudaranya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa hujjaj adalah pembawa pesan perdamaian dan persahabatan untuk seluruh umat manusia serta menyampaikannya kepada seluruh dunia. Pesannya adalah, selama uang, kekuatan, supremasi dan imperialisme menjadi tujuan dan poros politik para penguasa dunia, maka jalan untuk mencapai perdamaian dan kebahagiaan dunia akan sangat sulit.

 

Apa yang akan membebaskan dunia sekarang dari kubangan instabilitas dan kekerasan, adalah penghindaran egoisme dan ketamakan. Caranya adalah dengan menghindari perspektif dominatif dan menjadikan Allah Swt sebagai asas dalam hubungan individu dan sosial. Manasik haji merupakan kesempatan bagi manusia untuk hadir dalam sebuah nuansa damai dan menitinya bersama-sama dengan saudara seagama. Apa yang disaksikan dari perkumpulan besar ini adalah perdamaian dan persahabatan. Para hujjaj menginginkan ketenangan dan kenyamanan bagi semua orang bahkan mereka menunjukkan kasih sayang untuk tumbuh-tumbuhan dan binatang.

 

Dalam kondisi ini, umat Islam dapat merasakan manfaat besar haji di berbagai sektor budaya, sosial, ekonomi dan politik. Ini termasuk di antara tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt dalam haji. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Haj ayat 27-28 yang artinya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”

 

Dengan demikian, kehendak Allah Swt adalah bahwa energi terfokus ini bertujuan islah urusan masyarakat. Umat Muslim yang dalam kongres akbar ini dapat bertukar pengalaman dengan saudaranya, maka dia telah dekat dengan makna dan tujuan sejati haji. Dengan harapan kongres akbar umat Islam memperkokoh semangat solidaritas dan partisipasi lebih besar mereka dalam perjuangan menghadapi kekuatan imperialis dan dukungan untuk bangsa-bangsa tertindas.(IRIB Indonesia)

 

Add comment


Security code
Refresh