Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 29 Desember 2015 10:41

Ajaran Nabi Muhammad Saw Untuk Kehidupan

“Sebaik-baik kalian adalah yang lebih baik bagi keluarganya. Dan saya lebih baik dari kalian semua bagi keluarga saya.” Hadis keemasan Rasulullah Saw ini harus dipigorakan dan ditempelkan di tempat yang bisa terlihat. Siapa saja dan dengan segala kedudukannya, akan menjadi orang terbaik bila ia adalah yang terbaik bagi keluarganya.

Sabtu, 19 Desember 2015 15:31

Interaksi dengan Anggota Keluarga

Lakukanlah interaksi dengan anak-anak kalian. Sayangi dan bekerjasamalah dengan istri kalian. Istri kalian harus benar-benar merasa bahwa kalian menghargai jerih payahnya.  (27/7/80) Bila istri kalian bukan seorang istri yang membarengi dan sepakat dengan kalian maka kalian tidak akan mampu melakukan pekerjaan. Anda mengatakan, tidak. Mari kita coba. Kita katakan pada ibu-ibu ini untuk berakhlak buruk pada kalian sehari saja, supaya kalian tahu kondisinya bagaimana. Bila istri mau menyesuaikan diri, mau membarengi, mau membantu, berakhlak baik, mau mengurus rumah, mengasuh anak-anak, menjadikan nyaman lingkungan rumah, maka ini merupakan salah satu faktor terbesar kesuksesan pekerjaan kalian. Semua lelaki demikian dimana ketika mereka pergi ke lingkungan di luar rumah – lingkungan politik, lingkungan bisnis, lingkungan militer, lingkungan berbagai kerjaan – mereka berusaha, membanting tulang dan kembali lagi ke rumah, berkhayal telah menaklukkan Khaibar dan ibu-ibu ini misalnya menganggur di balik medan pertempuran. Padahal mereka lupa bahwa bila tidak ada yang tinggal di balik medan pertempuran maka kalian di medan pertempuran tidak akan bisa melakukan apa-apa. Kalian para pemuda dan yang lainnya, harus benar-benar menghargai istri kalian. Jangan sampai dari seorang lelaki mukmin dan revolusioner muncul perilaku dan akhlak yang bertentangan dengan yang dipesankan oleh Islam terkait perilaku seorang suami pada istrinya. Tentunya ibu-ibu juga bukan maksum [terjaga dari dosa]! Kami tidak ingin mengatakan semua kesalahan penyebabnya adalah para suami. Tidak. Ibu-ibu juga harus bekerjasama, membantu dan bersabar. Bagaimanapun juga ada sejumlah kesulitan. (2/7/83)

Kalian para istri bila menanggung kerepotan dari sisi suami kalian dan suami membebankan kerepotan ini karena pekerjaan, usaha dan perjuangannya, maka kerepotan ini ada pahalanya di sisi Allah. Meski tidak ada orang yang tahu sesaatpun. Banyak yang tidak tahu akan kerepotan ibu-ibu. Masyarakat terbiasa beranggapan bahwa kerepotan adalah sesuatu yang dilakukan dengan lengan, badan dan jasmani. Mereka tidak tahu bahwa kerepotan kejiwaan dan emosional terkadang malah lebih berat. Bapak-bapak tidak banyak tahu tentang kerepotan-kerepotan kalian. Namun Allah Swt “La Yakhfa Alaihi Khafiyah” (Kafi/ Kita ar-Raudhah/ Khutbah Li Amiril Mu’minin) – Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya – Dia sebagai Pengawas pekerjaan kalian dan kalian punya pahala. Bila kalian membantu suami kalian demi kesuksesan dalam menjalani tanggung jawabnya, maka nilai, kadar dan pahala kalian di sisi Allah lebih besar. (18/7/81)

Ketika Rasulullah Saw berhijrah dari Mekah ke Madinah, Amirul Mukminin as pada waktu berusia sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahunan. Waktu itu sejak awal sudah mulai ada perjuangan dan berbagai peperangan. Dalam semua peperangan ini, pemuda ini juga kalau tidak sebagai pembawa panji ya sebagai pelopor atau pahlawan utama. Kesimpulannya, beliaulah yang paling banyak memikul tanggung jawab. Perang tidak mengenal masa; saat udara panas, saat dingin, saat pagi, saat anak lagi sakit. Selama sepuluh tahun pemerintahan Nabi Muhammad Saw, terjadi sekitar sebanyak tujuh puluh perang besar dan kecil; mulai dari perang yang berlangsung selama satu bulan atau lebih, sampai perang-perang yang hanya terjadi beberapa hari. Dari semua perang itu Amirul Mukminin as ikut serta di dalamnya, kecuali hanya satu perang. Selain perang-perang ini, beliau juga pernah diutus oleh Rasulullah Saw ke Yaman untuk bertugas menjadi hakim. Dengan demikian Sayidah Fathimah az-Zahra as senantiasa menghadapi kondisi; kalau suaminya tidak dalam peperangan, ya badannya dalam kondisi terluka dan kembali dari perang atau berada di sisi Rasulullah sibuk dengan urusan penting di dalam kota Madinah atau dalam bepergian tugas.

Dikatakan, “Jihadul  Mar’ati Husnut Taba’ul” Jihadnya wanita adalah berbakti pada suami. (Kafi, Kitab al-Jihad, Bab Jihad ar-Rajuli wa al-Mar’ati) Husnut Taba’ul itu apa? (18/7/81) Di masa rezim zalim [Shah Pahlevi] (11/7/81) ketika saya dan orang-orang seperti saya berada di medan perjuangan, pemerintah cepat atau lambat akan menyoroti dan menemukan kami. Mereka mengirim antek-anteknya untuk mendatangi kami dan menyeret kami dari rumah-rumah kami. Di depan mata istri dan anak-anak mereka membawa kami ke tempat-tempat penyiksaan SAVAK. Saya pernah mengalami dipenjara, saya bertahan menghadapi penyiksaan mereka. Namun saya tahu bahwa yang lebih banyak tersiksa adalah nyonya; kekhawatiran, ketakutan, degdegan, kepanikan dan kesedihan tidak membuatnya tenang sedikitpun. Saya mengetahui hal ini. Bahkan ketika di penjara, di sel individu, ketika saya berpikir, saya tahu bahwa kondisi mereka lebih buruk dari kondisi saya. Hati saya terbakar karena mereka. Saat saya keluar [dari penjara] ketika saya bertanya, meskipun tidak ingin mengatakannya, namun saya tahu apa yang telah berlalu pada mereka. Seseorang merawat beberapa anak kecil, tidak ada penghasilan, tidak ada uang, tidak ada fasilitas yang memudahkan, tidak ada keamanan; apalagi beberapa orang menyalahkannya, ini lebih buruk lagi. Di rumah sendirian, tanpa suami; kondisi ayahnya anak-anak juga tidak jelas bagaimana; mereka lebih banyak merasa tersiksa. (2/7/83)

Minggu, 13 Desember 2015 05:49

Kerukunan Dalam Rumah Tangga

Di dalam rumah tangga, kerukunan adalah kebaikan, bukan aib. (8/3/81) Ia adalah bagian dari kewajiban. (9/4/78) Bila berdamai dan rukun dengan Amerika dan Zionis serta orang-orang yang buruk adalah jelek. Rukun dan damai dengan pasangan hidup adalah baik. Tentunya rukun dengan teman-teman yang lain juga baik. Namun sebaik-baik kerukunan dari semua kerukunan adalah rukun dengan pasangan hidup. Seseorang harus rukun dengan pasangan hidupnya. (11/1/82) Dengan musuh, tidak ada yang namanya perdamaian, juga sikap menyerah. Namun dengan pasangan hidup, selain harus berdamai juga harus menyerah. (1/6/82) Suami dan istri jangan sampai mengambil keputusan seenaknya sendiri. Semaunya dan seenaknya sendiri. Tidak. Jangan sampai demikian. Keduanya harus rukun dan damai. Kerukunan ini diperlukan. Bila keinginan Anda tidak akan terpenuhi kecuali harus dengan mengalah, maka mengalahlah. (9/4/78) Tentu saja keduanya harus mengalah. Namun karena wanita memiliki tabiat yang fleksibel, lembut dan halus, ia lebih bisa menunjukkan kerukunannya. Ini bukan berarti ketika para lelaki melakukan segala sesuatu seenaknya saja dan menuntut segala sesuatu tidak pada tempatnya, lalu seseorang mengatakan, wanita harus menyesuaikan diri. Tidak! Para lelaki juga diwajibkan untuk menjaga keadilan. (11/7/81) Juga tidak boleh kita katakan bahwa istri harus mengikuti suami di mana saja. Tidak! Yang demikian ini tidak ada dalam Islam juga tidak ada dalam syariat. “Ar-Rijalu Qawwamuna Alan Nisa’” Maknanya bukan berarti istri harus mengikuti suami dalam segala perkara. Tidak! Atau seperti mereka yang tidak pernah tahu Eropa, lebih buruk dari Eropa dan mengikutinya, lantas kita katakan bahwa wanita sebagai penentu segalanya dan suami harus mengikutinya. Tidak! Ini juga salah. Alhasil keduanya adalah partner dan kawan. Pada satu tempat suami harus mengalah. Pada satu tempat istri harus mengalah. Yang satu di sini harus mengabaikan seleranya sendiri, yang satunya lagi di tempat lain; supaya bisa hidup bersama-sama. (19/1/77) Di Republik Islam, bukan suami saja sebagai penentu, dan bukan istri saja sebagai penentu, tapi rumah tangga [suami-istri] yang menjadi penentu. (12/12/62)

Sabtu, 12 Desember 2015 05:18

Sekarang Waktunya Membangun Rumah Tangga

Poin selanjutnya, pilar rumah tangga berlandaskan pada kerukunan suami dan istri. Keduanya harus rukun. Sama-sama rukun ini memiliki makna yang sangat dalam. Suatu hari saya menemui Imam Khomeini ra. Beliau waktu itu akan membacakan akad nikah. Begitu beliau melihat saya langsung berkata, “Silahkan Anda yang menjadi wakil bagi pihak lain dari pasangan pengantin. Beliau pertama membacakan akad nikah dulu, tidak seperti kami yang berceramah terlebih dahulu agak lama. Beliau pertama membacakan akad nikah, kemudian berbicara dua, tiga kalimat. Saya menyaksikan beliau membacakan akad nikah, kemudian menghadap pasangan pengantin seraya berkata, “Sekarang waktunya membangun rumah tangga!”

Terkait bagaimana cara dan mengelola urusan pernikahan, Islam juga memiliki ide. Ide ini berkaitan dengan pemilihan pasangan hidup. Masalah siapakah yang harus kita pilih sebagai pasangan hidup dalam pernikahan adalah masalah yang sangat penting. (13/12/81) Dalam memilih pasangan hidup, menurut Islam ada sejumlah parameter standar dan parameter ini berbeda dengan parameter masa jahiliyah. Parameter jahiliyah memperhatikan nama, jabatan, uang, sosok, kekayaan, pekerjaan dan sebagainya. (19/3/82) Mereka yang suka dunia mencari lahiriyahnya dunia. Untuk memilih pasangan hidup pertama melihat apa pendidikannya, bagaimana kekayaannya, bagaimana bentuk dan wajahnya? Meskipun hal-hal ini menarik secara alami dan manusia menyukainya. Namun tidak satupun darinya menyebabkan kebahagiaan. Yang menyebabkan seseorang bahagia dalam urusan pernikahan adalah menikah dengan orang yang memiliki kelayakan, kebaikan, agama dan kemuliaan. Semua inilah yang menjadikan kehidupan bersama senantiasa kontinyu.

Selasa, 08 Desember 2015 12:24

Pernikahan Imam Ali dan Sayidah Fathimah as

Sebaik-baik gadis di alam dan sebaik-baik pemuda di alam telah menikah, padahal maharnya adalah “Mahrussunnah” dan jahiziyehnya juga sangat sederhana dan simpel. (13/12/81) Kehidupan Amirul Mukminin dan Sayidah Fathimah az-Zahra adalah contohnya. Amirul Mukminin adalah sebaik-baik pemuda di alam dan menikah di usia muda. Beliau menikah dengan sebaik-baik gadis di semua periode sejarah yaitu Sayidah Fathimah az-Zahra. (18/6/82) Sebaik-baik gadis demi sehelai rambutnya dan sebaik-baik pemuda demi sehelai rambut Amriul Mukminin as. Ketahui juga bahwa Amirul Mukminin adalah sebaik-baik pemuda yang bukan hanya dari sisi spiritual saja. Pemuda ini adalah pahlawan besar di medan-medan perang. Gadis ini, Sayidah Fathimah as juga putrinya sosok nomer satu di dunia Islam pada masa itu. Putri sosok pertama dunia Islam dan sebaik-baik pemuda pada masa itu mahar dan jahiziyehnya seperti ini. (13/12/81)

Senin, 07 Desember 2015 13:11

Pemborosan dan Kemewahan Dalam Kehidupan

Jangan Kalian bangun kehidupan kalian dengan kemewahan. (30/11/81) Kami meyakini bahwa kehidupan harus dikelola secara sederhana dan dengan biaya minimal. (6/6/81) Maksud kami, sederhana bukan berarti kemewahan dan keindahan itu jelek. Tidak. Keindahan, kemewahan dan segala hal yang dapat mewujudkan lingkungan yang indah bagi jiwa manusia, menurut pendapat syariat tidak masalah, selama tidak berakhir dengan pemborosan, sikap berlebihan dan jorjoran. (13/10/77) Jangan menjadikan diri kalian sebagai tawanan formalitas. Bila sejak awal kalian masuk pada persaingan formalitas, maka sulit untuk keluar darinya. Sekarang [sistem pemerintahan] adalah Republik Islam, siapa saja ingin hidup sederhana, maka bisa. Kali waktu, dulu tidak bisa dan sangat sulit. Sekarang bisa, meskipun sebagian menyulitkan kehidupannya dengan tangannya sendiri; dalam bajunya, dalam tempat tinggalnya, dalam kemewahannya, dalam mebelnya, dalam kordennya yang bermacam-macam, dalam berbagai jenis formalitasnya, mereka sendiri yang menyulitkan urusannya sendiri. Tapi bila sebagian ingin tidak melakukannya, maka bisa. Kalian jangan melakukannya. Sejak awal pernikahan, jalanilah kehidupan secara sederhana, mudah, sedang-sedang sesuai kebutuhan dan tidak melebihi kebutuhan, jalanilah kehidupan seperti ini. (10/2/75) Jalanilah kehidupan sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan gunakan nikmat-nikmat ilahi secara seimbang dan adil. Juga sedang-sedang saja juga secara adil. Yakni perhatikan keadilan, lihatlah bagaimana orang lain. Jangan terlalu membuat jarak antara kalian dan orang lain. (8/3/72) Berqonaahlah, jangan malu untuk berqonaah. Sebagian beranggapan bahwa qonaah itu milik orang-orang miskin dan fakir dan bila seseorang punya, maka tidak perlu lagi qonaah. Tidak. Qonaah yakni berhenti dalam batas yang diperlukan, dalam batas kecukupan. (1/1/76) Kehidupan formal, kehidupan mewah, kehidupan bergaya bangsawan, kehidupan yang pengeluarannya besar dan kehidupan konsumtif menyengsarakan manusia. Ini tidak bagus. Kehidupan harus berjalan secukupnya dan nyaman, tidak banyak pengeluaran juga tidak mewah. Dua hal ini mengapa sebagian orang salah memahaminya? Secukupnya yakni tidak sampai membutuhkan pada orang lain dan bisa mengelola kehidupannya, tanpa butuh pada siapapun. (2/1/78) Banyak dan tingginya tuntutan materi juga menyebabkan kesulitan dalam hidup dan kesusahan manusia itu sendiri. Bila seseorang mengurangi tuntutannya dari kehidupan, maka ini akan menjadi sumber kebahagiaan baginya. Tidak saja bagus untuk kehidupan akhirat seseorang, tapi bagus juga untuk kehidupan duniawinya. (21/12/79) Saya ingin menyampaikan kepada ibu-ibu muslimah, ibu-ibu muda dan ibu-ibu rumah tangga, jangan sampai mengejar kehidupan konsumtif, bak penyakit kusta yang dilemparkan oleh Barat terhadap jiwa bangsa-bangsa di dunia di antaranya bangsa-bangsa negara yang sedang berkembang dan negara setengah maju termasuk negara kita. (25/9/75) Semoga Allah melaknat para pembawa budaya Barat yang salah dan orang asing yang datang untuk menggoyahkan pilar-pilar asli kehidupan rumah tangga - yang ada di tengah-tengah tradisi kita, yang kita ambil juga dari Islam -. Sangat buruk. Menyibukkan para wanita dan pria dengan formalitas dan kemewahan dan semacamnya. (14/2/63) Konsumsi harus dalam batas yang diperlukan, bukan dalam batas berlebihan. (25/9/75)

Selasa, 29 Desember 2015 10:41

Ajaran Nabi Muhammad Saw Untuk Kehidupan

“Sebaik-baik kalian adalah yang lebih baik bagi keluarganya. Dan saya lebih baik dari kalian semua bagi keluarga saya.” Hadis keemasan Rasulullah Saw ini harus dipigorakan dan ditempelkan di tempat yang bisa terlihat. Siapa saja dan dengan segala kedudukannya, akan menjadi orang terbaik bila ia adalah yang terbaik bagi keluarganya.

Sabtu, 19 Desember 2015 15:31

Interaksi dengan Anggota Keluarga

Lakukanlah interaksi dengan anak-anak kalian. Sayangi dan bekerjasamalah dengan istri kalian. Istri kalian harus benar-benar merasa bahwa kalian menghargai jerih payahnya.  (27/7/80) Bila istri kalian bukan seorang istri yang membarengi dan sepakat dengan kalian maka kalian tidak akan mampu melakukan pekerjaan. Anda mengatakan, tidak. Mari kita coba. Kita katakan pada ibu-ibu ini untuk berakhlak buruk pada kalian sehari saja, supaya kalian tahu kondisinya bagaimana. Bila istri mau menyesuaikan diri, mau membarengi, mau membantu, berakhlak baik, mau mengurus rumah, mengasuh anak-anak, menjadikan nyaman lingkungan rumah, maka ini merupakan salah satu faktor terbesar kesuksesan pekerjaan kalian. Semua lelaki demikian dimana ketika mereka pergi ke lingkungan di luar rumah – lingkungan politik, lingkungan bisnis, lingkungan militer, lingkungan berbagai kerjaan – mereka berusaha, membanting tulang dan kembali lagi ke rumah, berkhayal telah menaklukkan Khaibar dan ibu-ibu ini misalnya menganggur di balik medan pertempuran. Padahal mereka lupa bahwa bila tidak ada yang tinggal di balik medan pertempuran maka kalian di medan pertempuran tidak akan bisa melakukan apa-apa. Kalian para pemuda dan yang lainnya, harus benar-benar menghargai istri kalian. Jangan sampai dari seorang lelaki mukmin dan revolusioner muncul perilaku dan akhlak yang bertentangan dengan yang dipesankan oleh Islam terkait perilaku seorang suami pada istrinya. Tentunya ibu-ibu juga bukan maksum [terjaga dari dosa]! Kami tidak ingin mengatakan semua kesalahan penyebabnya adalah para suami. Tidak. Ibu-ibu juga harus bekerjasama, membantu dan bersabar. Bagaimanapun juga ada sejumlah kesulitan. (2/7/83)

Kalian para istri bila menanggung kerepotan dari sisi suami kalian dan suami membebankan kerepotan ini karena pekerjaan, usaha dan perjuangannya, maka kerepotan ini ada pahalanya di sisi Allah. Meski tidak ada orang yang tahu sesaatpun. Banyak yang tidak tahu akan kerepotan ibu-ibu. Masyarakat terbiasa beranggapan bahwa kerepotan adalah sesuatu yang dilakukan dengan lengan, badan dan jasmani. Mereka tidak tahu bahwa kerepotan kejiwaan dan emosional terkadang malah lebih berat. Bapak-bapak tidak banyak tahu tentang kerepotan-kerepotan kalian. Namun Allah Swt “La Yakhfa Alaihi Khafiyah” (Kafi/ Kita ar-Raudhah/ Khutbah Li Amiril Mu’minin) – Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya – Dia sebagai Pengawas pekerjaan kalian dan kalian punya pahala. Bila kalian membantu suami kalian demi kesuksesan dalam menjalani tanggung jawabnya, maka nilai, kadar dan pahala kalian di sisi Allah lebih besar. (18/7/81)

Ketika Rasulullah Saw berhijrah dari Mekah ke Madinah, Amirul Mukminin as pada waktu berusia sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahunan. Waktu itu sejak awal sudah mulai ada perjuangan dan berbagai peperangan. Dalam semua peperangan ini, pemuda ini juga kalau tidak sebagai pembawa panji ya sebagai pelopor atau pahlawan utama. Kesimpulannya, beliaulah yang paling banyak memikul tanggung jawab. Perang tidak mengenal masa; saat udara panas, saat dingin, saat pagi, saat anak lagi sakit. Selama sepuluh tahun pemerintahan Nabi Muhammad Saw, terjadi sekitar sebanyak tujuh puluh perang besar dan kecil; mulai dari perang yang berlangsung selama satu bulan atau lebih, sampai perang-perang yang hanya terjadi beberapa hari. Dari semua perang itu Amirul Mukminin as ikut serta di dalamnya, kecuali hanya satu perang. Selain perang-perang ini, beliau juga pernah diutus oleh Rasulullah Saw ke Yaman untuk bertugas menjadi hakim. Dengan demikian Sayidah Fathimah az-Zahra as senantiasa menghadapi kondisi; kalau suaminya tidak dalam peperangan, ya badannya dalam kondisi terluka dan kembali dari perang atau berada di sisi Rasulullah sibuk dengan urusan penting di dalam kota Madinah atau dalam bepergian tugas.

Dikatakan, “Jihadul  Mar’ati Husnut Taba’ul” Jihadnya wanita adalah berbakti pada suami. (Kafi, Kitab al-Jihad, Bab Jihad ar-Rajuli wa al-Mar’ati) Husnut Taba’ul itu apa? (18/7/81) Di masa rezim zalim [Shah Pahlevi] (11/7/81) ketika saya dan orang-orang seperti saya berada di medan perjuangan, pemerintah cepat atau lambat akan menyoroti dan menemukan kami. Mereka mengirim antek-anteknya untuk mendatangi kami dan menyeret kami dari rumah-rumah kami. Di depan mata istri dan anak-anak mereka membawa kami ke tempat-tempat penyiksaan SAVAK. Saya pernah mengalami dipenjara, saya bertahan menghadapi penyiksaan mereka. Namun saya tahu bahwa yang lebih banyak tersiksa adalah nyonya; kekhawatiran, ketakutan, degdegan, kepanikan dan kesedihan tidak membuatnya tenang sedikitpun. Saya mengetahui hal ini. Bahkan ketika di penjara, di sel individu, ketika saya berpikir, saya tahu bahwa kondisi mereka lebih buruk dari kondisi saya. Hati saya terbakar karena mereka. Saat saya keluar [dari penjara] ketika saya bertanya, meskipun tidak ingin mengatakannya, namun saya tahu apa yang telah berlalu pada mereka. Seseorang merawat beberapa anak kecil, tidak ada penghasilan, tidak ada uang, tidak ada fasilitas yang memudahkan, tidak ada keamanan; apalagi beberapa orang menyalahkannya, ini lebih buruk lagi. Di rumah sendirian, tanpa suami; kondisi ayahnya anak-anak juga tidak jelas bagaimana; mereka lebih banyak merasa tersiksa. (2/7/83)

Minggu, 13 Desember 2015 05:49

Kerukunan Dalam Rumah Tangga

Di dalam rumah tangga, kerukunan adalah kebaikan, bukan aib. (8/3/81) Ia adalah bagian dari kewajiban. (9/4/78) Bila berdamai dan rukun dengan Amerika dan Zionis serta orang-orang yang buruk adalah jelek. Rukun dan damai dengan pasangan hidup adalah baik. Tentunya rukun dengan teman-teman yang lain juga baik. Namun sebaik-baik kerukunan dari semua kerukunan adalah rukun dengan pasangan hidup. Seseorang harus rukun dengan pasangan hidupnya. (11/1/82) Dengan musuh, tidak ada yang namanya perdamaian, juga sikap menyerah. Namun dengan pasangan hidup, selain harus berdamai juga harus menyerah. (1/6/82) Suami dan istri jangan sampai mengambil keputusan seenaknya sendiri. Semaunya dan seenaknya sendiri. Tidak. Jangan sampai demikian. Keduanya harus rukun dan damai. Kerukunan ini diperlukan. Bila keinginan Anda tidak akan terpenuhi kecuali harus dengan mengalah, maka mengalahlah. (9/4/78) Tentu saja keduanya harus mengalah. Namun karena wanita memiliki tabiat yang fleksibel, lembut dan halus, ia lebih bisa menunjukkan kerukunannya. Ini bukan berarti ketika para lelaki melakukan segala sesuatu seenaknya saja dan menuntut segala sesuatu tidak pada tempatnya, lalu seseorang mengatakan, wanita harus menyesuaikan diri. Tidak! Para lelaki juga diwajibkan untuk menjaga keadilan. (11/7/81) Juga tidak boleh kita katakan bahwa istri harus mengikuti suami di mana saja. Tidak! Yang demikian ini tidak ada dalam Islam juga tidak ada dalam syariat. “Ar-Rijalu Qawwamuna Alan Nisa’” Maknanya bukan berarti istri harus mengikuti suami dalam segala perkara. Tidak! Atau seperti mereka yang tidak pernah tahu Eropa, lebih buruk dari Eropa dan mengikutinya, lantas kita katakan bahwa wanita sebagai penentu segalanya dan suami harus mengikutinya. Tidak! Ini juga salah. Alhasil keduanya adalah partner dan kawan. Pada satu tempat suami harus mengalah. Pada satu tempat istri harus mengalah. Yang satu di sini harus mengabaikan seleranya sendiri, yang satunya lagi di tempat lain; supaya bisa hidup bersama-sama. (19/1/77) Di Republik Islam, bukan suami saja sebagai penentu, dan bukan istri saja sebagai penentu, tapi rumah tangga [suami-istri] yang menjadi penentu. (12/12/62)

Sabtu, 12 Desember 2015 05:18

Sekarang Waktunya Membangun Rumah Tangga

Poin selanjutnya, pilar rumah tangga berlandaskan pada kerukunan suami dan istri. Keduanya harus rukun. Sama-sama rukun ini memiliki makna yang sangat dalam. Suatu hari saya menemui Imam Khomeini ra. Beliau waktu itu akan membacakan akad nikah. Begitu beliau melihat saya langsung berkata, “Silahkan Anda yang menjadi wakil bagi pihak lain dari pasangan pengantin. Beliau pertama membacakan akad nikah dulu, tidak seperti kami yang berceramah terlebih dahulu agak lama. Beliau pertama membacakan akad nikah, kemudian berbicara dua, tiga kalimat. Saya menyaksikan beliau membacakan akad nikah, kemudian menghadap pasangan pengantin seraya berkata, “Sekarang waktunya membangun rumah tangga!”

Terkait bagaimana cara dan mengelola urusan pernikahan, Islam juga memiliki ide. Ide ini berkaitan dengan pemilihan pasangan hidup. Masalah siapakah yang harus kita pilih sebagai pasangan hidup dalam pernikahan adalah masalah yang sangat penting. (13/12/81) Dalam memilih pasangan hidup, menurut Islam ada sejumlah parameter standar dan parameter ini berbeda dengan parameter masa jahiliyah. Parameter jahiliyah memperhatikan nama, jabatan, uang, sosok, kekayaan, pekerjaan dan sebagainya. (19/3/82) Mereka yang suka dunia mencari lahiriyahnya dunia. Untuk memilih pasangan hidup pertama melihat apa pendidikannya, bagaimana kekayaannya, bagaimana bentuk dan wajahnya? Meskipun hal-hal ini menarik secara alami dan manusia menyukainya. Namun tidak satupun darinya menyebabkan kebahagiaan. Yang menyebabkan seseorang bahagia dalam urusan pernikahan adalah menikah dengan orang yang memiliki kelayakan, kebaikan, agama dan kemuliaan. Semua inilah yang menjadikan kehidupan bersama senantiasa kontinyu.

Selasa, 08 Desember 2015 12:24

Pernikahan Imam Ali dan Sayidah Fathimah as

Sebaik-baik gadis di alam dan sebaik-baik pemuda di alam telah menikah, padahal maharnya adalah “Mahrussunnah” dan jahiziyehnya juga sangat sederhana dan simpel. (13/12/81) Kehidupan Amirul Mukminin dan Sayidah Fathimah az-Zahra adalah contohnya. Amirul Mukminin adalah sebaik-baik pemuda di alam dan menikah di usia muda. Beliau menikah dengan sebaik-baik gadis di semua periode sejarah yaitu Sayidah Fathimah az-Zahra. (18/6/82) Sebaik-baik gadis demi sehelai rambutnya dan sebaik-baik pemuda demi sehelai rambut Amriul Mukminin as. Ketahui juga bahwa Amirul Mukminin adalah sebaik-baik pemuda yang bukan hanya dari sisi spiritual saja. Pemuda ini adalah pahlawan besar di medan-medan perang. Gadis ini, Sayidah Fathimah as juga putrinya sosok nomer satu di dunia Islam pada masa itu. Putri sosok pertama dunia Islam dan sebaik-baik pemuda pada masa itu mahar dan jahiziyehnya seperti ini. (13/12/81)

Senin, 07 Desember 2015 13:11

Pemborosan dan Kemewahan Dalam Kehidupan

Jangan Kalian bangun kehidupan kalian dengan kemewahan. (30/11/81) Kami meyakini bahwa kehidupan harus dikelola secara sederhana dan dengan biaya minimal. (6/6/81) Maksud kami, sederhana bukan berarti kemewahan dan keindahan itu jelek. Tidak. Keindahan, kemewahan dan segala hal yang dapat mewujudkan lingkungan yang indah bagi jiwa manusia, menurut pendapat syariat tidak masalah, selama tidak berakhir dengan pemborosan, sikap berlebihan dan jorjoran. (13/10/77) Jangan menjadikan diri kalian sebagai tawanan formalitas. Bila sejak awal kalian masuk pada persaingan formalitas, maka sulit untuk keluar darinya. Sekarang [sistem pemerintahan] adalah Republik Islam, siapa saja ingin hidup sederhana, maka bisa. Kali waktu, dulu tidak bisa dan sangat sulit. Sekarang bisa, meskipun sebagian menyulitkan kehidupannya dengan tangannya sendiri; dalam bajunya, dalam tempat tinggalnya, dalam kemewahannya, dalam mebelnya, dalam kordennya yang bermacam-macam, dalam berbagai jenis formalitasnya, mereka sendiri yang menyulitkan urusannya sendiri. Tapi bila sebagian ingin tidak melakukannya, maka bisa. Kalian jangan melakukannya. Sejak awal pernikahan, jalanilah kehidupan secara sederhana, mudah, sedang-sedang sesuai kebutuhan dan tidak melebihi kebutuhan, jalanilah kehidupan seperti ini. (10/2/75) Jalanilah kehidupan sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan gunakan nikmat-nikmat ilahi secara seimbang dan adil. Juga sedang-sedang saja juga secara adil. Yakni perhatikan keadilan, lihatlah bagaimana orang lain. Jangan terlalu membuat jarak antara kalian dan orang lain. (8/3/72) Berqonaahlah, jangan malu untuk berqonaah. Sebagian beranggapan bahwa qonaah itu milik orang-orang miskin dan fakir dan bila seseorang punya, maka tidak perlu lagi qonaah. Tidak. Qonaah yakni berhenti dalam batas yang diperlukan, dalam batas kecukupan. (1/1/76) Kehidupan formal, kehidupan mewah, kehidupan bergaya bangsawan, kehidupan yang pengeluarannya besar dan kehidupan konsumtif menyengsarakan manusia. Ini tidak bagus. Kehidupan harus berjalan secukupnya dan nyaman, tidak banyak pengeluaran juga tidak mewah. Dua hal ini mengapa sebagian orang salah memahaminya? Secukupnya yakni tidak sampai membutuhkan pada orang lain dan bisa mengelola kehidupannya, tanpa butuh pada siapapun. (2/1/78) Banyak dan tingginya tuntutan materi juga menyebabkan kesulitan dalam hidup dan kesusahan manusia itu sendiri. Bila seseorang mengurangi tuntutannya dari kehidupan, maka ini akan menjadi sumber kebahagiaan baginya. Tidak saja bagus untuk kehidupan akhirat seseorang, tapi bagus juga untuk kehidupan duniawinya. (21/12/79) Saya ingin menyampaikan kepada ibu-ibu muslimah, ibu-ibu muda dan ibu-ibu rumah tangga, jangan sampai mengejar kehidupan konsumtif, bak penyakit kusta yang dilemparkan oleh Barat terhadap jiwa bangsa-bangsa di dunia di antaranya bangsa-bangsa negara yang sedang berkembang dan negara setengah maju termasuk negara kita. (25/9/75) Semoga Allah melaknat para pembawa budaya Barat yang salah dan orang asing yang datang untuk menggoyahkan pilar-pilar asli kehidupan rumah tangga - yang ada di tengah-tengah tradisi kita, yang kita ambil juga dari Islam -. Sangat buruk. Menyibukkan para wanita dan pria dengan formalitas dan kemewahan dan semacamnya. (14/2/63) Konsumsi harus dalam batas yang diperlukan, bukan dalam batas berlebihan. (25/9/75)

Selasa, 29 Desember 2015 10:41

Ajaran Nabi Muhammad Saw Untuk Kehidupan

“Sebaik-baik kalian adalah yang lebih baik bagi keluarganya. Dan saya lebih baik dari kalian semua bagi keluarga saya.” Hadis keemasan Rasulullah Saw ini harus dipigorakan dan ditempelkan di tempat yang bisa terlihat. Siapa saja dan dengan segala kedudukannya, akan menjadi orang terbaik bila ia adalah yang terbaik bagi keluarganya.

Sabtu, 19 Desember 2015 15:31

Interaksi dengan Anggota Keluarga

Lakukanlah interaksi dengan anak-anak kalian. Sayangi dan bekerjasamalah dengan istri kalian. Istri kalian harus benar-benar merasa bahwa kalian menghargai jerih payahnya.  (27/7/80) Bila istri kalian bukan seorang istri yang membarengi dan sepakat dengan kalian maka kalian tidak akan mampu melakukan pekerjaan. Anda mengatakan, tidak. Mari kita coba. Kita katakan pada ibu-ibu ini untuk berakhlak buruk pada kalian sehari saja, supaya kalian tahu kondisinya bagaimana. Bila istri mau menyesuaikan diri, mau membarengi, mau membantu, berakhlak baik, mau mengurus rumah, mengasuh anak-anak, menjadikan nyaman lingkungan rumah, maka ini merupakan salah satu faktor terbesar kesuksesan pekerjaan kalian. Semua lelaki demikian dimana ketika mereka pergi ke lingkungan di luar rumah – lingkungan politik, lingkungan bisnis, lingkungan militer, lingkungan berbagai kerjaan – mereka berusaha, membanting tulang dan kembali lagi ke rumah, berkhayal telah menaklukkan Khaibar dan ibu-ibu ini misalnya menganggur di balik medan pertempuran. Padahal mereka lupa bahwa bila tidak ada yang tinggal di balik medan pertempuran maka kalian di medan pertempuran tidak akan bisa melakukan apa-apa. Kalian para pemuda dan yang lainnya, harus benar-benar menghargai istri kalian. Jangan sampai dari seorang lelaki mukmin dan revolusioner muncul perilaku dan akhlak yang bertentangan dengan yang dipesankan oleh Islam terkait perilaku seorang suami pada istrinya. Tentunya ibu-ibu juga bukan maksum [terjaga dari dosa]! Kami tidak ingin mengatakan semua kesalahan penyebabnya adalah para suami. Tidak. Ibu-ibu juga harus bekerjasama, membantu dan bersabar. Bagaimanapun juga ada sejumlah kesulitan. (2/7/83)

Kalian para istri bila menanggung kerepotan dari sisi suami kalian dan suami membebankan kerepotan ini karena pekerjaan, usaha dan perjuangannya, maka kerepotan ini ada pahalanya di sisi Allah. Meski tidak ada orang yang tahu sesaatpun. Banyak yang tidak tahu akan kerepotan ibu-ibu. Masyarakat terbiasa beranggapan bahwa kerepotan adalah sesuatu yang dilakukan dengan lengan, badan dan jasmani. Mereka tidak tahu bahwa kerepotan kejiwaan dan emosional terkadang malah lebih berat. Bapak-bapak tidak banyak tahu tentang kerepotan-kerepotan kalian. Namun Allah Swt “La Yakhfa Alaihi Khafiyah” (Kafi/ Kita ar-Raudhah/ Khutbah Li Amiril Mu’minin) – Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya – Dia sebagai Pengawas pekerjaan kalian dan kalian punya pahala. Bila kalian membantu suami kalian demi kesuksesan dalam menjalani tanggung jawabnya, maka nilai, kadar dan pahala kalian di sisi Allah lebih besar. (18/7/81)

Ketika Rasulullah Saw berhijrah dari Mekah ke Madinah, Amirul Mukminin as pada waktu berusia sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahunan. Waktu itu sejak awal sudah mulai ada perjuangan dan berbagai peperangan. Dalam semua peperangan ini, pemuda ini juga kalau tidak sebagai pembawa panji ya sebagai pelopor atau pahlawan utama. Kesimpulannya, beliaulah yang paling banyak memikul tanggung jawab. Perang tidak mengenal masa; saat udara panas, saat dingin, saat pagi, saat anak lagi sakit. Selama sepuluh tahun pemerintahan Nabi Muhammad Saw, terjadi sekitar sebanyak tujuh puluh perang besar dan kecil; mulai dari perang yang berlangsung selama satu bulan atau lebih, sampai perang-perang yang hanya terjadi beberapa hari. Dari semua perang itu Amirul Mukminin as ikut serta di dalamnya, kecuali hanya satu perang. Selain perang-perang ini, beliau juga pernah diutus oleh Rasulullah Saw ke Yaman untuk bertugas menjadi hakim. Dengan demikian Sayidah Fathimah az-Zahra as senantiasa menghadapi kondisi; kalau suaminya tidak dalam peperangan, ya badannya dalam kondisi terluka dan kembali dari perang atau berada di sisi Rasulullah sibuk dengan urusan penting di dalam kota Madinah atau dalam bepergian tugas.

Dikatakan, “Jihadul  Mar’ati Husnut Taba’ul” Jihadnya wanita adalah berbakti pada suami. (Kafi, Kitab al-Jihad, Bab Jihad ar-Rajuli wa al-Mar’ati) Husnut Taba’ul itu apa? (18/7/81) Di masa rezim zalim [Shah Pahlevi] (11/7/81) ketika saya dan orang-orang seperti saya berada di medan perjuangan, pemerintah cepat atau lambat akan menyoroti dan menemukan kami. Mereka mengirim antek-anteknya untuk mendatangi kami dan menyeret kami dari rumah-rumah kami. Di depan mata istri dan anak-anak mereka membawa kami ke tempat-tempat penyiksaan SAVAK. Saya pernah mengalami dipenjara, saya bertahan menghadapi penyiksaan mereka. Namun saya tahu bahwa yang lebih banyak tersiksa adalah nyonya; kekhawatiran, ketakutan, degdegan, kepanikan dan kesedihan tidak membuatnya tenang sedikitpun. Saya mengetahui hal ini. Bahkan ketika di penjara, di sel individu, ketika saya berpikir, saya tahu bahwa kondisi mereka lebih buruk dari kondisi saya. Hati saya terbakar karena mereka. Saat saya keluar [dari penjara] ketika saya bertanya, meskipun tidak ingin mengatakannya, namun saya tahu apa yang telah berlalu pada mereka. Seseorang merawat beberapa anak kecil, tidak ada penghasilan, tidak ada uang, tidak ada fasilitas yang memudahkan, tidak ada keamanan; apalagi beberapa orang menyalahkannya, ini lebih buruk lagi. Di rumah sendirian, tanpa suami; kondisi ayahnya anak-anak juga tidak jelas bagaimana; mereka lebih banyak merasa tersiksa. (2/7/83)

Minggu, 13 Desember 2015 05:49

Kerukunan Dalam Rumah Tangga

Di dalam rumah tangga, kerukunan adalah kebaikan, bukan aib. (8/3/81) Ia adalah bagian dari kewajiban. (9/4/78) Bila berdamai dan rukun dengan Amerika dan Zionis serta orang-orang yang buruk adalah jelek. Rukun dan damai dengan pasangan hidup adalah baik. Tentunya rukun dengan teman-teman yang lain juga baik. Namun sebaik-baik kerukunan dari semua kerukunan adalah rukun dengan pasangan hidup. Seseorang harus rukun dengan pasangan hidupnya. (11/1/82) Dengan musuh, tidak ada yang namanya perdamaian, juga sikap menyerah. Namun dengan pasangan hidup, selain harus berdamai juga harus menyerah. (1/6/82) Suami dan istri jangan sampai mengambil keputusan seenaknya sendiri. Semaunya dan seenaknya sendiri. Tidak. Jangan sampai demikian. Keduanya harus rukun dan damai. Kerukunan ini diperlukan. Bila keinginan Anda tidak akan terpenuhi kecuali harus dengan mengalah, maka mengalahlah. (9/4/78) Tentu saja keduanya harus mengalah. Namun karena wanita memiliki tabiat yang fleksibel, lembut dan halus, ia lebih bisa menunjukkan kerukunannya. Ini bukan berarti ketika para lelaki melakukan segala sesuatu seenaknya saja dan menuntut segala sesuatu tidak pada tempatnya, lalu seseorang mengatakan, wanita harus menyesuaikan diri. Tidak! Para lelaki juga diwajibkan untuk menjaga keadilan. (11/7/81) Juga tidak boleh kita katakan bahwa istri harus mengikuti suami di mana saja. Tidak! Yang demikian ini tidak ada dalam Islam juga tidak ada dalam syariat. “Ar-Rijalu Qawwamuna Alan Nisa’” Maknanya bukan berarti istri harus mengikuti suami dalam segala perkara. Tidak! Atau seperti mereka yang tidak pernah tahu Eropa, lebih buruk dari Eropa dan mengikutinya, lantas kita katakan bahwa wanita sebagai penentu segalanya dan suami harus mengikutinya. Tidak! Ini juga salah. Alhasil keduanya adalah partner dan kawan. Pada satu tempat suami harus mengalah. Pada satu tempat istri harus mengalah. Yang satu di sini harus mengabaikan seleranya sendiri, yang satunya lagi di tempat lain; supaya bisa hidup bersama-sama. (19/1/77) Di Republik Islam, bukan suami saja sebagai penentu, dan bukan istri saja sebagai penentu, tapi rumah tangga [suami-istri] yang menjadi penentu. (12/12/62)

Sabtu, 12 Desember 2015 05:18

Sekarang Waktunya Membangun Rumah Tangga

Poin selanjutnya, pilar rumah tangga berlandaskan pada kerukunan suami dan istri. Keduanya harus rukun. Sama-sama rukun ini memiliki makna yang sangat dalam. Suatu hari saya menemui Imam Khomeini ra. Beliau waktu itu akan membacakan akad nikah. Begitu beliau melihat saya langsung berkata, “Silahkan Anda yang menjadi wakil bagi pihak lain dari pasangan pengantin. Beliau pertama membacakan akad nikah dulu, tidak seperti kami yang berceramah terlebih dahulu agak lama. Beliau pertama membacakan akad nikah, kemudian berbicara dua, tiga kalimat. Saya menyaksikan beliau membacakan akad nikah, kemudian menghadap pasangan pengantin seraya berkata, “Sekarang waktunya membangun rumah tangga!”

Terkait bagaimana cara dan mengelola urusan pernikahan, Islam juga memiliki ide. Ide ini berkaitan dengan pemilihan pasangan hidup. Masalah siapakah yang harus kita pilih sebagai pasangan hidup dalam pernikahan adalah masalah yang sangat penting. (13/12/81) Dalam memilih pasangan hidup, menurut Islam ada sejumlah parameter standar dan parameter ini berbeda dengan parameter masa jahiliyah. Parameter jahiliyah memperhatikan nama, jabatan, uang, sosok, kekayaan, pekerjaan dan sebagainya. (19/3/82) Mereka yang suka dunia mencari lahiriyahnya dunia. Untuk memilih pasangan hidup pertama melihat apa pendidikannya, bagaimana kekayaannya, bagaimana bentuk dan wajahnya? Meskipun hal-hal ini menarik secara alami dan manusia menyukainya. Namun tidak satupun darinya menyebabkan kebahagiaan. Yang menyebabkan seseorang bahagia dalam urusan pernikahan adalah menikah dengan orang yang memiliki kelayakan, kebaikan, agama dan kemuliaan. Semua inilah yang menjadikan kehidupan bersama senantiasa kontinyu.

Selasa, 08 Desember 2015 12:24

Pernikahan Imam Ali dan Sayidah Fathimah as

Sebaik-baik gadis di alam dan sebaik-baik pemuda di alam telah menikah, padahal maharnya adalah “Mahrussunnah” dan jahiziyehnya juga sangat sederhana dan simpel. (13/12/81) Kehidupan Amirul Mukminin dan Sayidah Fathimah az-Zahra adalah contohnya. Amirul Mukminin adalah sebaik-baik pemuda di alam dan menikah di usia muda. Beliau menikah dengan sebaik-baik gadis di semua periode sejarah yaitu Sayidah Fathimah az-Zahra. (18/6/82) Sebaik-baik gadis demi sehelai rambutnya dan sebaik-baik pemuda demi sehelai rambut Amriul Mukminin as. Ketahui juga bahwa Amirul Mukminin adalah sebaik-baik pemuda yang bukan hanya dari sisi spiritual saja. Pemuda ini adalah pahlawan besar di medan-medan perang. Gadis ini, Sayidah Fathimah as juga putrinya sosok nomer satu di dunia Islam pada masa itu. Putri sosok pertama dunia Islam dan sebaik-baik pemuda pada masa itu mahar dan jahiziyehnya seperti ini. (13/12/81)

Senin, 07 Desember 2015 13:11

Pemborosan dan Kemewahan Dalam Kehidupan

Jangan Kalian bangun kehidupan kalian dengan kemewahan. (30/11/81) Kami meyakini bahwa kehidupan harus dikelola secara sederhana dan dengan biaya minimal. (6/6/81) Maksud kami, sederhana bukan berarti kemewahan dan keindahan itu jelek. Tidak. Keindahan, kemewahan dan segala hal yang dapat mewujudkan lingkungan yang indah bagi jiwa manusia, menurut pendapat syariat tidak masalah, selama tidak berakhir dengan pemborosan, sikap berlebihan dan jorjoran. (13/10/77) Jangan menjadikan diri kalian sebagai tawanan formalitas. Bila sejak awal kalian masuk pada persaingan formalitas, maka sulit untuk keluar darinya. Sekarang [sistem pemerintahan] adalah Republik Islam, siapa saja ingin hidup sederhana, maka bisa. Kali waktu, dulu tidak bisa dan sangat sulit. Sekarang bisa, meskipun sebagian menyulitkan kehidupannya dengan tangannya sendiri; dalam bajunya, dalam tempat tinggalnya, dalam kemewahannya, dalam mebelnya, dalam kordennya yang bermacam-macam, dalam berbagai jenis formalitasnya, mereka sendiri yang menyulitkan urusannya sendiri. Tapi bila sebagian ingin tidak melakukannya, maka bisa. Kalian jangan melakukannya. Sejak awal pernikahan, jalanilah kehidupan secara sederhana, mudah, sedang-sedang sesuai kebutuhan dan tidak melebihi kebutuhan, jalanilah kehidupan seperti ini. (10/2/75) Jalanilah kehidupan sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan gunakan nikmat-nikmat ilahi secara seimbang dan adil. Juga sedang-sedang saja juga secara adil. Yakni perhatikan keadilan, lihatlah bagaimana orang lain. Jangan terlalu membuat jarak antara kalian dan orang lain. (8/3/72) Berqonaahlah, jangan malu untuk berqonaah. Sebagian beranggapan bahwa qonaah itu milik orang-orang miskin dan fakir dan bila seseorang punya, maka tidak perlu lagi qonaah. Tidak. Qonaah yakni berhenti dalam batas yang diperlukan, dalam batas kecukupan. (1/1/76) Kehidupan formal, kehidupan mewah, kehidupan bergaya bangsawan, kehidupan yang pengeluarannya besar dan kehidupan konsumtif menyengsarakan manusia. Ini tidak bagus. Kehidupan harus berjalan secukupnya dan nyaman, tidak banyak pengeluaran juga tidak mewah. Dua hal ini mengapa sebagian orang salah memahaminya? Secukupnya yakni tidak sampai membutuhkan pada orang lain dan bisa mengelola kehidupannya, tanpa butuh pada siapapun. (2/1/78) Banyak dan tingginya tuntutan materi juga menyebabkan kesulitan dalam hidup dan kesusahan manusia itu sendiri. Bila seseorang mengurangi tuntutannya dari kehidupan, maka ini akan menjadi sumber kebahagiaan baginya. Tidak saja bagus untuk kehidupan akhirat seseorang, tapi bagus juga untuk kehidupan duniawinya. (21/12/79) Saya ingin menyampaikan kepada ibu-ibu muslimah, ibu-ibu muda dan ibu-ibu rumah tangga, jangan sampai mengejar kehidupan konsumtif, bak penyakit kusta yang dilemparkan oleh Barat terhadap jiwa bangsa-bangsa di dunia di antaranya bangsa-bangsa negara yang sedang berkembang dan negara setengah maju termasuk negara kita. (25/9/75) Semoga Allah melaknat para pembawa budaya Barat yang salah dan orang asing yang datang untuk menggoyahkan pilar-pilar asli kehidupan rumah tangga - yang ada di tengah-tengah tradisi kita, yang kita ambil juga dari Islam -. Sangat buruk. Menyibukkan para wanita dan pria dengan formalitas dan kemewahan dan semacamnya. (14/2/63) Konsumsi harus dalam batas yang diperlukan, bukan dalam batas berlebihan. (25/9/75)