Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Jumat, 18 Desember 2015 10:24

Hargailah Suami yang Mukmin dan Revolusioner

Hargailah Suami yang Mukmin dan Revolusioner

Kalian para istri bila menanggung kerepotan dari sisi suami kalian dan suami membebankan kerepotan ini karena pekerjaan, usaha dan perjuangannya, maka kerepotan ini ada pahalanya di sisi Allah. Meski tidak ada orang yang tahu sesaatpun. Banyak yang tidak tahu akan kerepotan ibu-ibu. Masyarakat terbiasa beranggapan bahwa kerepotan adalah sesuatu yang dilakukan dengan lengan, badan dan jasmani. Mereka tidak tahu bahwa kerepotan kejiwaan dan emosional terkadang malah lebih berat. Bapak-bapak tidak banyak tahu tentang kerepotan-kerepotan kalian. Namun Allah Swt “La Yakhfa Alaihi Khafiyah” (Kafi/ Kita ar-Raudhah/ Khutbah Li Amiril Mu’minin) – Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya – Dia sebagai Pengawas pekerjaan kalian dan kalian punya pahala. Bila kalian membantu suami kalian demi kesuksesan dalam menjalani tanggung jawabnya, maka nilai, kadar dan pahala kalian di sisi Allah lebih besar. (18/7/81)

 

Pahala kalian lebih pasti jaminannya ketimbang pahala suami kalian. Mengapa? Karena bila sang suami ini – jangan sampai – mengerjakan pekerjaan yang baik atas dasar riya bukan karena untuk mendekatkan diri kepada Allah, di sana telah masuk niat yang tidak benar,  maka ia telah kehilangan pahalanya. Namun kalian yang melayaninya, mendidik anak-anaknya, menjaga amanat dan kehormatannya, menjaga harga dirinya, menyediakan fasilitas kenyamanan untuknya, menampilkan senyuman di depannya,  menjalani kehidupan sebagai istri yang layak bersamanya, maka pahala kalian sudah terjamin. Keistimewaan ini betul-betul besar.

 

Bila suami aktif dalam keilmuan dan aktif dalam pekerjaan, dan berjuang di instansi-instansi Republik Islam, maka istrinya harus berkerjasama dengannya supaya bisa melaksanakan pekerjaannya dengan mudah. (5/1/72) Semua orang yang bekerja di jalan Allah, maka istrinya juga demikian. (1/1/72) Hargailah nilai istri kalian. Mereka adalah bagian dari warga yang terbaik negara kita saat ini. Saya tidak mengatakan terbaik, tapi bagian dari yang terbaik. Mengapa? Kalian melihat sejumlah orang hanya memikirkan kepentingan dirinya dan dengan beragam cara; dengan kebohongan, kecurangan, menjilat, mencampuradukkan yang benar dan yang tidak benar, mendompleng ke golongan ini dan golongan itu, berbicara berdasarkan keinginan hati seseorang, dan dengan segala macam cara penipuan untuk mengantongi keuntungan bagi dirinya. Tentunya banyak orang-orang semacam ini di seluruh penjuru dunia dan ratusan kali lipat lebih parah dari masyarakat kita. Dalam kondisi seperti ini, lantas ada seorang lelaki yang memilih sebuah pekerjaan dan dengan pekerjaan itu ia merasa menjalankan kewajiban, maka pekerjaan dan orang ini; keduanya adalah mulia. Khususnya bila tugas ini adalah tugas yang berat dan sulit. Istrinya juga akan bangga.

 

Kalian harus menghargai orang-orang lelaki dan pekerjaan-pekerjaan seperti ini dan sesekali ketahuilah kesulitan-kesulitan ini. Yakinlah bahwa yang akan membersihkan debu ketergantungan dan kotoran kebobrokan dan kehinan dari wajah sebuah bangsa, adalah keberadaan orang-orang lelaki seperti ini di tengah-tengah negara dan bangsa tersebut. Setiap bangsa, ketika memiliki orang-orang lelaki yang siap melakukan tugas-tugas besar,  menghadapi resiko, menjadikan dada-dada mereka sebagai tameng, maka bangsa seperti ini akan memiliki kemandirian. Sebuah bangsa yang menempatkan dirinya di bawah atap kenyamanan meski dengan harga harus menyeret seratus orang lain dari bawah atap tersebut, sebuah bangsa yang tidak memiliki lelaki siap berkorban, pejuang, pemberani, pandai dan pengambil keputusan di jalan yang benar, meski berusia berabad-abad lamanya, maka bangsa ini tidak akan lepas dari kehinaan. Yakni musibah yang suatu hari telah ditimpakan kepada negara kita, saat ini juga sedang ditimpakan kepada banyak negara-negara Islam dan non Islam. Untuk itu, berbanggalah pada suami-suami kalian. (27/7/80) Pekerjaan mereka di sisi Allah mulia. Itulah mengapa membarengi dan membantu mereka adalah sebuah kebanggaan. Dapatkan dan amalkan hal itu dengan niat ini. (27/7/80) Dengan niat bahwa dalam bentuk apapun saja kalian mengabdi kepada suami yang telah menjalani masa mudanya di jalan Allah, maka kalian telah mengabdi kepada Allah. Kehidupan rumah tangga kalian bukan hanya sekedar kehidupan rumah tangga yang sederhana saja, tapi juga sebagai pentas pengabdian kalian. Oleh karena, selain kalian harus mengharapkan pahala ilahi, kalian juga harus menghargai kesempatan ini. (27/7/80)

 

Kalian para istri, sebagai saudari dan putri-putri saya. Suami-suami kalian juga seperti anak-anak saya sendiri. Istri semacan ini adalah sumber kebanggaan. Ketahuilah bahwa masyarakat juga memandang kalian. Bila mereka melihat bahwa istrinya si fulan begitu menyukai kemewahan, perhiasan yang banyak, bersikap jorjoran dan lain-lain yang tak bermakna, maka mereka akan mengatakan, silahkan...mereka ini slogannya demikian, tapi lihatlah bagaimana istri-istrinya; kalian harus hati-hati! Menjaga harga diri para suami ini pada hakikatnya adalah menjaga harga diri revolusi. Menjaga harga diri negara. Dan kalianlah yang harus menjaganya. Alhasil keluarga-keluarga ini dari satu sisi memiliki posisi, dari sisi lain juga tidak boleh memiliki hal-hal tertentu. Di semua tempat juga demikian. Semua manusia juga demikian. Segalanya tidak mungkin bisa berkumpul dalam satu tempat. Harus bersabar.  Harus menjalani kehidupan sesuai yang diinginkan Allah. Saya menganjurkan agar kalian, ibu-ibu yang masih muda sebagai istri para pemuda ini, menjaga sisi syariat dan revolusi dan jadilah simbol revolusi. Jadilah simbol seorang wanita revolusi. Jangan terlalu mempedulikan sebagian kemewahan ini. Jangan sampai menggunakan setiap penghasilan untuk membeli emas dan perhiasan. Ini tidak sesuai dengan posisi kalian. (1/1/72) Disampaikan untuk para istri Nabi, “Ya Nisaan Nabi, Man Ya’ti Minkunna Bifahisyatin Mubayyinatin Yudha’af Lahal Adzabu Dhi’fain.” (QS. Ahzab:30-32) Setiap dari kalian berbuat dosa, maka azabnya dua kali lipat. Mengapa? Istri nabi, karena sebagai istri nabi, maka bila berbuat dosa, azabnya dua kali lipat. “Wa Kana Dzalika Alallahi Yasiran.”   “Wa Man Yaqnut Minkunna Lillahi Wa Rasulihi Wa Ta’mal Shalihan Nu’tiha Ajraha Marratain.” Dari sisi yang lain juga demikian, bila kalian beribadah, bila kalian berbuat baik, bila kalian mengerjakan amal saleh, maka Kami akan memberikan dua kali lipat pahala dari yang lainnya. Yakni shalatnya istri Nabi Muhammad, memiliki pahala dua kali lipat dari shalatnya orang lain. Ibadahnya memiliki pahala dua kali lipat dari ibadah orang lain. Bila –jangan sampai terjadi- melakukan ghibah [menggunjing] maka dosanya dua kali lipat dari dosa orang lain yang menggunjing.  “Ya Nisaan Nabi Lastunna Ka Ahadin Minan Nisai Inittaqaitunna.” Bila kalian bertakwa, maka kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain. Kalian punya kelebihan dari wanita-wanita lain. Kemudian lanjutannya, “Fa La Takhdha’na Bilqauli Fa Yathma’allazi Fi Qalbi Maradhun Wa Qulna Qaulan Ma’rufan.” Ini disampaikan untuk para istri Nabi Saw. Namun para istri nabi [dengan sendirinya] tidak punya kekhususan. Kekhususan para istri Nabi Saw karena ada keterkaitan pada Nabi Saw. (5/5/84)

 

Tentunya saya juga ingin menyampaikan kepada kalian, para pemuda. Kalian harus menjadi teladan sebagai suami. Saya terkadang mendengar kabar-kabar dari sebagian orang yang tidak menunjukkan hal ini. Seorang lelaki mukmin adalah seorang lelaki yang bekerja di jalan Allah, semua kancah dan arena kehidupannya juga harus sesuai dengan yang diinginkan Allah. Salah satu kancah itu adalah interaksi dengan keluarga, khususnya interaksi dengan istri dan anak-anak. Kalian harus menjadi simbol akhlak. Boleh jadi kalian di luar rumah marah karena munculnya satu kejadian kecil. Tapi kemarahan ini tidak boleh ditunjukkan di dalam rumah. Bersikaplah penuh kasih sayang pada istri kalian. Untuk anak-anak, jadilah ayah dengan makna yang sebenarnya. Dalam berbagai macam acara saya berpesan kepada para pejabat, jadilah ayah bagi anak-anak kalian. Jangan asing dengan mereka. (27/7/80)

 

Perhatikan dan penuhilah kebutuhan keluarga kalian. Jangan katakan, ada kerjaan penting di pundak kami. Bila kita terlambat pulang satu jam dua jam, lantas tidak senyum. memangnya telah kufur? Memangnya langit jatuh ke bumi? [tidak ada apa-apa]. Jangan! Saya juga telah berpesan kepada para pejabat negara; saya sampaikan bahwa luangkan waktu senggang selama beberapa saat dalam sehari semalam khusus untuk keluarga kalian. Berikanlah kasih sayang kalian, penjagaan kalian, perhatian kalian untuk istri dan anak-anak kalian.(1/1/72) Jangan sampai melupakan rumah dan kehidupan. Sebagian orang pagi-pagi sudah keluar rumah dan kembali pada pukul 10 malam. Jangan! Kami selalu berpesan kepada mereka yang ada kemungkinan untuk bertemu keluarganya, ketika waktu zuhur tiba hendaknya pulang dan bertemu dengan istri dan anaknya. Makan siang di rumah. Satu jam berkumpul sama keluarganya. Kemudian pergi lagi melakukan pekerjaannya. Lalu, pada waktu yang tepat, permulaan malam hendaknya kembali ke rumah menjenguk anak-anaknya. Lakukan pertemuan keluarga secara hakiki. (18/6/76) Jangan sampai semua berpikir, bila menjadi istri salah satu pejabat, maka tidak ada lagi yang namanya ketenangan dan kenyamanan. Tidak Pak! Kasih sayang, perhatian dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, khususnya pada istri dan anak-anak dan mereka yang punya ayah dan ibu; pada ayah dan ibu. Dalam sejumlah tanggung jawab yang saya dan kalian miliki, juga harus lebih besar dari masyarakat umum. Kalian harus menjadi teladan. (1/1/72)

 

Sekarang anak-anak kalian membutuhkan sebuah tungku kasih sayang dan itu adalah lingkungan rumah tangga. Perhatikan dan penuhi kebutuhan anak-anak kalian. Bersikaplah sebagai ayah sekaligus teman bagi mereka. Sebaik-baik ayah adalah mereka yang menjadi teman bagi putra dan putrinya. Selain sebagai sesepuh, pembimbing dan ayah yang penyayang yang bisa menyelesaikan masalah, juga sebagai teman sehati bagi anaknya. Bila anak remaja kalian memiliki pertanyaan dan omongan serta curhatan, maka telinga yang pertama kali harus mendengar adalah telinga kalian dan telinga istri kalian.

 

Dengan demikian, pesan saya sebagai seorang ayah kepada kalian para pemuda adalah aturlah secara logis perilaku kalian di dalam rumah tangga. Perilaku secara logis itu bagaimana? Yakni dengan penuh kasih sayang dan hadir di dalam rumah - sebisa mungkin – bersikap akrab, perhatian dan memenuhi kebutuhan, bukan dengan sikap tak peduli dan bermuka masam. Sekarang tugas besar ini adalah tanggung jawab kalian. Lakukan sedemikian rupa sehingga kalian bisa membentuk tunas-tunas yang baru tumbuh di samping kalian ini dan meninggi yang akarnya sama dengan akar kalian, agar menjadi pohon yang besar dan remaja kalian ini merasa memiliki sandaran yang kokoh. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

 

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

Add comment


Security code
Refresh