Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 15 Desember 2015 06:37

Jihad Seorang Wanita; Membarengi Pekerjaan Suami yang Diridhai Allah

Jihad Seorang Wanita; Membarengi Pekerjaan Suami yang Diridhai Allah

Dikatakan, “Jihadul  Mar’ati Husnut Taba’ul” Jihadnya wanita adalah berbakti pada suami. (Kafi, Kitab al-Jihad, Bab Jihad ar-Rajuli wa al-Mar’ati) Husnut Taba’ul itu apa? (18/7/81) Di masa rezim zalim [Shah Pahlevi] (11/7/81) ketika saya dan orang-orang seperti saya berada di medan perjuangan, pemerintah cepat atau lambat akan menyoroti dan menemukan kami. Mereka mengirim antek-anteknya untuk mendatangi kami dan menyeret kami dari rumah-rumah kami. Di depan mata istri dan anak-anak mereka membawa kami ke tempat-tempat penyiksaan SAVAK. Saya pernah mengalami dipenjara, saya bertahan menghadapi penyiksaan mereka. Namun saya tahu bahwa yang lebih banyak tersiksa adalah nyonya; kekhawatiran, ketakutan, degdegan, kepanikan dan kesedihan tidak membuatnya tenang sedikitpun. Saya mengetahui hal ini. Bahkan ketika di penjara, di sel individu, ketika saya berpikir, saya tahu bahwa kondisi mereka lebih buruk dari kondisi saya. Hati saya terbakar karena mereka. Saat saya keluar [dari penjara] ketika saya bertanya, meskipun tidak ingin mengatakannya, namun saya tahu apa yang telah berlalu pada mereka. Seseorang merawat beberapa anak kecil, tidak ada penghasilan, tidak ada uang, tidak ada fasilitas yang memudahkan, tidak ada keamanan; apalagi beberapa orang menyalahkannya, ini lebih buruk lagi. Di rumah sendirian, tanpa suami; kondisi ayahnya anak-anak juga tidak jelas bagaimana; mereka lebih banyak merasa tersiksa. (2/7/83)

 

Sebagian dari ibu-ibu ketika datang ke penjara menjenguk suaminya, kepada mereka suaminya bertanya, “Apa Kabar?” Menjawab, “Sangat baik.” Tidak ada masalah keuangan? Menjawab, “Tidak. [kondisi keuangan] juga sangat baik.” Anak-anak tidak sakit? Mengapa engkau tidak membawa mereka? Menjawab, “Mereka sedang bermain dan sehat-sehat saja.” Saya katakan, jangan sampai saya membuat mereka tersiksa. Kemudian ternyata selama sebulan anak-anak kondisinya tidak sehat. Istri ini tidak mengizinkan suaminya di dalam penjara tahu bahwa anaknya tidak sehat supaya suaminya jangan sampai khawatir.

 

Suami bertanya, “Engkau sendiri gimana? Dan sang istripun menjawab, “Sangat baik dan kondisiku juga baik.” Padahal sang istri sendiri membutuhkan perawatan. Kita juga punya yang seperti ini. Semua ini merupakan bantuan [dari istri]. Sebagian istri juga ada yang tidak demikian. Ketika mengunjungi, tujuan utamanya adalah menyampaikan sambatan dan keluhan; Kamu tidak ada-lah, kami tidak punya uang-lah, kami tidak punya roti-lah, tidak ada orang yang perhatian pada kami-lah, anak-anak mencari ayahnya, sekolahnya ngomong demikian. Orang yang dipenjara itu sendiri punya ribuan masalah di dalam penjara, dari luar hatinya dipenuhi dengan kesedihan, otomatis semangatnya akan melemah. Bila di sana [penjara] ia tidak memutuskan untuk menulis surat penyesalan agar terbebaskan dari penjara, pasti giliran berikutnya bila ingin mengambil sebuah langkah penting, maka tangan dan kakinya akan gemetaran [mengalami kegoyahan]. (11/7/81)

 

Peran Para Wanita Dalam Revolusi

 

Sejak awal revolusi para wanita memainkan salah satu peran yang paling menonjol dalam revolusi ini. Selain dalam revolusi itu sendiri, juga dalam peristiwa delapan tahun pertahanan suci yang sangat besar [perang yang dipaksakan oleh rezim Saddam selama delapan tahun], peran para ibu, peran para istri, bila tidak lebih berat, tidak lebih menyakitkan dan tidak lebih memerlukan kesabaran dari peran para pejuang, pasti tidak lebih kecil darinya. Seorang ibu yang mendidik pemudanya, kesayangannya dan sekuntum bunganya yang berusia delapan belas tahun, dua puluh tahun, kurang atau lebih [dari itu usianya]. Ia telah berhasil mendidik anaknya dengan kasih sayang keibuannya, kemudian mengirimnya ke medan perang yang tidak jelas, apakah jasadnya akan kembali atau tidak. Betapa jauhnya perbandingan antara ini dengan kepergian pemuda itu sendiri! Iya pemuda ini bergerak dan pergi dengan semangat muda disertai dengan keimanan dan jiwa revolusioner. Pekerjaan ibunya bila tidak lebih besar dari pekerjaan pemuda itu, maka tidak lebih kecil darinya. Ketika jasadnya dikembalikan, sang ibu bangga bahwa anak saya telah mencapai syahadah. Apakah ini hal kecil? Ini adalah gerakan sebagai wanita. Gerakan model Zainab [cucu Rasulullah Saw] dalam  revolusi kita. (1/2/89)

 

Anak manusia pilek, dua kali batuk, betapa kita merasa khawatir? Seorang anak manusia pergi dan terbunuh, yang kedua pergi dan terbunuh, yang ketiga pergi dan terbunuh; apakah ini candaan? Dan sang ibu ini dengan emosional keibuannya yang normal dan penuh semangat memainkan perannya sedemikian rupa sehingga seratus ibu lainnya tersemangati untuk mengirim anaknya ke medan perang. Bila ibu-ibu ini ketika jasad anak-anaknya datang atau bahkan tidak datang, kemudian mengeluh dan melakukan protes pada Imam [Imam Khomeini] dan protes pada perang, pasti perang di tahun-tahun pertama dan di tahap pertama akan kalah. Inilah peran ibu-ibu syuhada.

 

Para istri syuhada yang sabar, istri-istri yang masih muda kehilangan suami-suaminya yang masih muda di awal kehidupan rumah tangganya yang indah, yang didambakan. Yang pertama mereka haru merelakan suaminya yang masih muda ini bangkit dan pergi tempat yang mungkin saja ia tidak akan kembali, kemudian bersabar menghadapi syahadahnya, kemudian merasa bangga. Semua ini adalah peran yang lain daripada yang lain. Yang berlanjut sampai sekarang adalah wanita sebagai istrinya seorang veteran. Ada wanita-wanita yang menjadi istri veteran. Seseorang dengan penuh komitmen dan tanggung jawab, secara sukarela dan tanpa paksaan [menerima sebagai istri] dan merawat seorang suami cacat yang terkadang akhlaknya tidak baik karena kondisi jasmani atau karena gangguan  yang timbul dari kepanikan dan lain-lain. Sungguh ia telah melakukan sebuah pengorbanan. Sekali waktu kalian mengatakan saya akan datang merawat anda selama dua jam. Iya setiap hari ketika kalian mau pergi, dia akan mengucapkan terima kasih pada kalian. Terkadang juga ada yakni kalian sebagai istrinya dan tinggal di rumahnya, benar-benar punya tanggungan. Yakni secara alami, kalian harus mengerjakan pekerjaan ini. Mereka [para wanita] telah melakukan sebuah pengorbanan ini. Peran para wanita sama sekali tidak bisa diperhitungkan. Saya mengakui; orang yang pertama memahami peran ini adalah Imam yang terhormat [Imam Khomeini]. (14/10/90)

 

 

Ibu-ibu, kesulitan-kesulitan yang kalian hadapi karena pekerjaan suami-suami kalian, tidak akan hilang cuma-cuma sedikitpun. Lakukan karena Allah dan mintalah pahalanya kepada Allah! Dan Allah akan memberikan pahala. Saya selalu mengatakan; dalam masalah ini, pahala para ibu-ibu minimal, separuh dari kesuluruhan pahala ini. Saya ditanya, mengapa Anda mengatakan minimal; secara adil, suami dan istri harus membagi pahala Allah lima puluh persen, lima puluh persen. Mengapa pahala para istri harus lebih banyak? Saya katakan, karena ketika seorang suami melakukan sesuatu, ada di depan mata dan semua orang melihatnya. Namun istri yang ada di dalam rumah, seseorang tidak tahu apa yang telah dialaminya dan sedang dialaminya. Tidak ada pujian, tepuk tangan dan teriakan hore dan ucapan shalawat untuknya. Itulah mengapa pahalanya lebih besar. (2/7/83)

 

 

Bila istri di rumah setuju dengan aktivitas suaminya, maka kemungkinan aktivitas dan usaha suaminya akan menjadi berlipat ganda. (14/11/61) Setiap usaha yang dilakukan oleh seoang suami di berbagai kancah, kebanyakan adalah karena jasa kerjasama, pembarengan dan kesabaran serta adaptasi istrinya. Selalunya memang demikian. (18/7/81) Bila dinukil dari Rasulullah Saw yang bersabda, “Jihadul  Mar’ati Husnut Taba’ul” Jihadnya wanita adalah berbakti pada suami.” Bersikap baik pada suami yakni yang demikian ini. Yakni menyiapkan sarana sedemikian rupa sehingga sang suami bisa melakukan pekerjaannya dengan nyaman. (1/1/72) Sekelompok orang beranggapan bahwa jihad wanita adalah hanya menyiapkan fasilitas yang nyaman bagi suaminya. Berbakti pada suami bukan ini saja. Ini bukan jihad. Jihad adalah wanita pejuang, mukmin, penuh pengorbanan, ketika suaminya memiliki tanggung jawab yang berat, sebagian besar dari beban itu jatuh pada pundaknya. Ketika suami lelah, maka kelelahannya akan tampak di dalam rumah. Ketika masuk rumah, ia lelah, lunglai dan terkadang berakhlak buruk. Akhlah buruk, kelelahan dan ketidaksemangatan ini muncul dari lingkungan kerja dan akan memantul di dalam rumah tangga. Sekarang bila sang istri ingin berjihad, maka jihadnya adalah menyesuaikan diri dengan jerih payah ini dan menghadapinya dengan sabar karena Allah; inilah yang disebut Husnut Taba’ul. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

Add comment


Security code
Refresh