Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 13 Desember 2015 05:49

Kerukunan Dalam Rumah Tangga

Kerukunan Dalam Rumah Tangga

Di dalam rumah tangga, kerukunan adalah kebaikan, bukan aib. (8/3/81) Ia adalah bagian dari kewajiban. (9/4/78) Bila berdamai dan rukun dengan Amerika dan Zionis serta orang-orang yang buruk adalah jelek. Rukun dan damai dengan pasangan hidup adalah baik. Tentunya rukun dengan teman-teman yang lain juga baik. Namun sebaik-baik kerukunan dari semua kerukunan adalah rukun dengan pasangan hidup. Seseorang harus rukun dengan pasangan hidupnya. (11/1/82) Dengan musuh, tidak ada yang namanya perdamaian, juga sikap menyerah. Namun dengan pasangan hidup, selain harus berdamai juga harus menyerah. (1/6/82) Suami dan istri jangan sampai mengambil keputusan seenaknya sendiri. Semaunya dan seenaknya sendiri. Tidak. Jangan sampai demikian. Keduanya harus rukun dan damai. Kerukunan ini diperlukan. Bila keinginan Anda tidak akan terpenuhi kecuali harus dengan mengalah, maka mengalahlah. (9/4/78) Tentu saja keduanya harus mengalah. Namun karena wanita memiliki tabiat yang fleksibel, lembut dan halus, ia lebih bisa menunjukkan kerukunannya. Ini bukan berarti ketika para lelaki melakukan segala sesuatu seenaknya saja dan menuntut segala sesuatu tidak pada tempatnya, lalu seseorang mengatakan, wanita harus menyesuaikan diri. Tidak! Para lelaki juga diwajibkan untuk menjaga keadilan. (11/7/81) Juga tidak boleh kita katakan bahwa istri harus mengikuti suami di mana saja. Tidak! Yang demikian ini tidak ada dalam Islam juga tidak ada dalam syariat. “Ar-Rijalu Qawwamuna Alan Nisa’” Maknanya bukan berarti istri harus mengikuti suami dalam segala perkara. Tidak! Atau seperti mereka yang tidak pernah tahu Eropa, lebih buruk dari Eropa dan mengikutinya, lantas kita katakan bahwa wanita sebagai penentu segalanya dan suami harus mengikutinya. Tidak! Ini juga salah. Alhasil keduanya adalah partner dan kawan. Pada satu tempat suami harus mengalah. Pada satu tempat istri harus mengalah. Yang satu di sini harus mengabaikan seleranya sendiri, yang satunya lagi di tempat lain; supaya bisa hidup bersama-sama. (19/1/77) Di Republik Islam, bukan suami saja sebagai penentu, dan bukan istri saja sebagai penentu, tapi rumah tangga [suami-istri] yang menjadi penentu. (12/12/62)

 

 

Ketidakrukunan akan membuat kehidupan menjadi pahit. Allah telah menciptakan pasangan suami istri, baik suami maupun istri sebagai sumber ketenangan bagi yang lainnya. Ketidakrukunan menyebabkan hilangnya ketenangan jiwa. Untuk itu, dalam kehidupan bersama harus ada kerukunan. Supaya kedua belah pihak memiliki kehidupan yang indah, bila ada kekurangan, maka harus bersabar. (13/12/81)  Dalam rumah tangga, Islam telah mengatur sedemikian rupa sehingga perselisihan dalam rumah tangga bisa terselesaikan dengan sendirinya. Seorang suami diperintahkan untuk menjaga [kondisi istrinya]. Istri juga diperintahkan untuk menjaga [kondisi suaminya] secara keseluruhan gabungan dari penjagaan ini bila dilaksanakan, maka hasilnya tidak akan ada satu rumah tanggapun yang akan hancur. Kebanyakan kehancuran rumah tangga karena tidak adanya sikap menjaga ini. Suami tidak tahu harus menjaga. Istri tidak tahu harus menggunakan akalnya. Dia bersikap keras dan kasar tanpa batas. Yang ini tidak mau bersabar. Semuanya ada salahnya. Kekerasannya juga salah. Sikap keras kepala yang ini juga salah. Bila ia tidak bersikap kasar, bila sekali waktu melakukan kesalahan, yang ini tidak bersikap keras kepala, keduanya mau menjaga, keduanya mau rukun, tidak ada satupun rumah tangga yang akan hancur sampai akhir dan akan tetap ada. (20/11/75)

 

Tentunya Islam tidak menetapkan jalan buntu. Sekali waktu – jangan sampai terjadi – suami dan istri sama sekali tidak bisa rukun, jalannya tetap terbuka, jalannya tidak buntu. Namun, sebisa mungkin harus rukun. Juga jangan sampai siapapun mengatakan kepada pasangannya bahwa aku lebih tinggi dari kamu. Istri jangan sampai mengatakan hal ini pada suaminya. Suami juga jangan sampai mengatakan hal ini pada istrinya. Lebih tinggi itu apa? Yakni ayahku lebih tinggi dari ayahnya. Ini adalah omong kosong. Islam tidak menganggap hal ini menjadikan seseorang lebih tinggi. Yakni kalian lebih cantik dari pasangan kalian, dia jelek, kalian cantik. Ini juga omong kosong. Islam tidak menjadikan cantik dan jelek sebagai parameter kelebihan. Atau yakni ketakwaan kalian lebih tinggi. Iya, bila ketakwaan kalian lebih tinggi, tentunya tidak akan mengatakan saya lebih tinggi. Hanya ada satu keistimewaan; dan keistimewaan itu pada agama dan ketakwaan. Itupun tidak boleh diucapkan. Orang yang mengatakan bahwa saya lebih tinggi, ketakwaan saya lebih tinggi, dengan sendirinya ini adalah penurunan ketakwaan. Dengan sendirinya ini adalah penurunan derajat akhlak. Oleh karena itu, omongan ini tidak bermakna bila seseorang mengatakan kepada istrinya bahwa aku lebih tinggi dari kamu, atau mengatakan kepada suaminya aku lebih tinggi dari kamu. Bila kalian berkhayal bahwa ketika ayah seseorang sebagai orang kaya, keluarga terpandang, punya nama, punya posisi, punya kekuasaan dan jabatan, dan semua ini dianggap sebagai kelebihan, tidak! Islam tidak menerima hal-hal ini. (14/2/63) Untuk itu, berusahalah untuk saling rukun. Hargailah apa yang sudah ditentukan dan menjadi nasib kalian. Anggaplah sebagai pemberian ilahi. Anggaplah sebagai nikmat Allah, supaya insyaallah, Allah Swt juga akan menurunkan keberkahan-Nya untuk kalian. (11/7/81) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

Add comment


Security code
Refresh