Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 12 Desember 2015 05:18

Sekarang Waktunya Membangun Rumah Tangga

Sekarang Waktunya Membangun Rumah Tangga

Poin selanjutnya, pilar rumah tangga berlandaskan pada kerukunan suami dan istri. Keduanya harus rukun. Sama-sama rukun ini memiliki makna yang sangat dalam. Suatu hari saya menemui Imam Khomeini ra. Beliau waktu itu akan membacakan akad nikah. Begitu beliau melihat saya langsung berkata, “Silahkan Anda yang menjadi wakil bagi pihak lain dari pasangan pengantin. Beliau pertama membacakan akad nikah dulu, tidak seperti kami yang berceramah terlebih dahulu agak lama. Beliau pertama membacakan akad nikah, kemudian berbicara dua, tiga kalimat. Saya menyaksikan beliau membacakan akad nikah, kemudian menghadap pasangan pengantin seraya berkata, “Sekarang waktunya membangun rumah tangga!”

 

Saya berpikir, betapa kami berceramah panjang lebar, sementara kata-kata Imam Khomeini ra hanya disingkat dalam satu kalimat, “Sekarang waktunya membangun rumah tangga!” Sekarang kami juga menyampaikan kepada kalian pasang suami dan istri, “Sekarang waktunya membangun rumah tangga!” (20/4/70) Usahakan untuk saling memahami dalam semua tahapan kehidupan, khususnya tahun-tahun pertama, dalam empat tahun, lima tahun ini! (31/4/76) hiduplah bersama! Salinglah menginginkan satu sama lain! Salinglah menyayangi satu sama lain! (12/12/62) Salinglah mengurangi tuntutan dari satu sama lain! Jangan sampai anak-anak gadis dan para pemuda yang sekarang telah menikah, berkhayal bahwa pasanganya harus seperti seorang malaikat, tidak memiliki akhlak yang jelek, tidak memiliki kekurangan, tidak memiliki aib, tidak memiliki satupun hal-hal yang jelek. Tidak. Ini adalah salah. (24/1/63)

 

Kalian juga harus ketahui ini; para pemuda menggambarkan gadis idealnya di dalam pikirannya dan anak-anak gadis juga menggambarkan lelaki idealnya. Namun itu tidak ada wujudnya. Bukan saja di kota ini tidak ada, di negara ini juga tidak ada, bahkan di atas bumi juga tidak ada. Ideal yakni tidak memiliki kekurangan dan aib; yakni tidak memiliki aib sama sekali. Namun ini tidak ada wujudnya. Semua orang memiliki aib. Kita sebagai manusia, begini. Satu di antara kita boleh jadi tidak memiliki aib ini, tapi memiliki aib yang lain. Yang lain tidak memiliki aib itu, tapi memiliki aib yang lain lagi. Alhasil setiap orang memiliki aib dalam dirinya. Kita semua memiliki kekurangan. Iya. Selama kita saling berjauhan, kita tidak mengetahui kekurangan-kekurangan itu. Begitu pernikahan terlaksana dan berada bersisian, sedikit demi sedikit kekurangan-kekurangan itu akan tampak. Sekarang apakah kita harus tidak rela? Tidak. Harus menerima kehidupan sebagaimana apa adanya dan menyesuaikan diri dengannya. (6/6/81) Jangan sampai bila karena interaksi kemudian kalian menyaksikan kekurangan dan aib pada pasangan kalian, lantas kalian membesar-besarkannya dan kalian merasa sedih. Semua manusia memiliki aib sekaligus kebaikan. (28/2/82) Tentunya ada aib-aib yang bisa diperbaiki. Berusahalah untuk memperbaikinya. Ada juga aib-aib yang tidak bisa diperbaiki; seperti aib jasmani, aib kejiwaan, tidak bisa diperbaiki. Iya. Kalian harus menyesuaikan diri dengannya, tidak masalah dan ketahuilah bahwa nilai seseorang pada ketakwaannya. Kalian berdua, berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan dan kejarlah kelebihan melalui ketakwaan. Bila kalian berhasil mengejar kelebihan melalui ketakwaan,  tentunya ini adalah sebuah keistimewaan, dan harus berlomba-lomba antara suami dan istri untuk mengerjar ketakwaan yang lebih tinggi. (24/1/63)

 

Jangan juga berkhayal, bila esok hari kalian menemukan aib pasangan kalian, kemudian kalian katakan, eh kamu punya satu aib... Tidak. Semua pasangan hidup di dunia memiliki aib. Ketahuilah hal ini. Kalian para pemuda, ketahuilah bahwa semua wanita di dunia memiliki aib. Alhasil tidak ada seorang wanita pun yang tidak memiliki aib. Kalian para wanita, ketahuilah bahwa semua lelaki di dunia memiliki aib kecuali para Maksum. Hanya para Maksum saja yang tidak memiliki aib. Hanya saja aib-aib itu ada yang kecil, ada yang besar. Kalian harus saling menyesuaikan diri dengan aib-aib yang ada pada pasangan kalian. Kita harus menerima aib dalam berinteraksi, dalam kehidupan, dalam kehidupan rumah tangga, dalam kehidupan sosial. Tidak ada manusia yang tidak beraib. Selain para Maksum; mereka tidak punya aib. Beginilah. Bila kalian melihat dengan pandangan materi, para Maksum yang merupakan simbol segala kebaikan, mereka menjalani kehidupannya dengan susah, ini juga bisa dihitung sebagai aib. Akhirnya juga mereka semua mencapai syahadah. Syahadah tentunya merupakan kebaikan yang paling besar. Kebaikan yang paling besar. Namun, iya...menurut pandangan materi, mungkin saja misalnya mengapa usia mereka begitu pendek, ini juga bisa dihitung sebagai aib. Alhasil kalian tidak akan menemukan seseorang yang tidak memiliki poin kekurangan. Semuanya punya kekurangan. Untuk itu, bila esok hari kalian menemukan kekurangan pada pasangan kalian, jangan katakan, oh... seandainya saja kami mendapatkan pasangan yang tidak memiliki kekurangan ini... Tidak. Yang lain itu juga memiliki kekurangan model lain lagi. Kalian harus ketahui hal ini. Untuk itu, salinglah rukun satu sama lain! Salinglah menyayangi satu sama lain (12/12/62) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

Add comment


Security code
Refresh