Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 10 Desember 2015 09:43

Ide Islam; Bagaimana Cara dan Memenej Urusan Pernikahan

Ide Islam; Bagaimana Cara dan Memenej Urusan Pernikahan

Terkait bagaimana cara dan mengelola urusan pernikahan, Islam juga memiliki ide. Ide ini berkaitan dengan pemilihan pasangan hidup. Masalah siapakah yang harus kita pilih sebagai pasangan hidup dalam pernikahan adalah masalah yang sangat penting. (13/12/81) Dalam memilih pasangan hidup, menurut Islam ada sejumlah parameter standar dan parameter ini berbeda dengan parameter masa jahiliyah. Parameter jahiliyah memperhatikan nama, jabatan, uang, sosok, kekayaan, pekerjaan dan sebagainya. (19/3/82) Mereka yang suka dunia mencari lahiriyahnya dunia. Untuk memilih pasangan hidup pertama melihat apa pendidikannya, bagaimana kekayaannya, bagaimana bentuk dan wajahnya? Meskipun hal-hal ini menarik secara alami dan manusia menyukainya. Namun tidak satupun darinya menyebabkan kebahagiaan. Yang menyebabkan seseorang bahagia dalam urusan pernikahan adalah menikah dengan orang yang memiliki kelayakan, kebaikan, agama dan kemuliaan. Semua inilah yang menjadikan kehidupan bersama senantiasa kontinyu.

 

Ada riwayat bahwa barang siapa yang menikah dengan seseorang karena kecantikan atau karena kekayaannya, mungkin saja Allah mengambil kecantikan dan kekayaan darinya. Jelas bahwa kekayaan bersandar pada angin. Sekali waktu kalian menyaksikan ada seseorang berada dalam puncak kekayaan dan sengsara karena hanya sebuah kejadian kecil. Salah seorang pemimpin negara terkenal dan kaya di kawasan Asia yang juga di sana banyak orang kaya. Di ruangan ini juga kepada saya dia berkata, dalam jangka semalam kami telah berubah menjadi pengemis. Memang benar-benar demikian. Tentunya menjadi pengemis model ini, ada kaitannya dengan politik bangsa-bangsa dan negara-negara yang ada, sebuah permainan uang dan ekonomi, tiba-tiba ribuan orang pengusaha dan ribuan orang kaya menurut pemimpin negara tersebut yaitu Mahatir Muhammad (Perdana Menteri Malaysia, antara tahun 1981 sampai 2003) jatuh sengsara. Dalam waktu semalam kekayaan ribuan orang lenyap.

 

Kecantikan juga demikian, baik pada lelaki maupun pada wanita. Kecantikan bukan keistimewaan abadi. Kecantikan bisa hilang karena satu kejadian, karena –jangan sampai terjadi- jatuhnya wajah ke dinding, karena melahirkan dengan susah, karena satu penyakit dan ribuan kejadian kecil dan besar, mungkin saja terjadi pada seseorang. Betapa banyak orang yang kita kenal yang dulunya benar-benar memiliki kecantikan, namun setelah usianya lewat beberapa tahun, berbalik total. Untuk itu, kecantikan bukan keistimewaan abadi. Terkadang seseorang terbiasa dengan kecantikan. Ketika sudah terbiasa, baginya tidak ada yang baru. Oleh karena itu, keistimewaan yang penting dalam urusan pernikahan adalah kemulian, akhlak, tata krama dan keagamaan. Itulah mengapa dikatakan, pilihlah! Carilah manusia yang suci dan mulia - baik pemuda yang mulia maupun gadis yang mulia – supaya Allah memberikan keberkahan. Lanjutan riwayat yang mencela pernikahan demi kecantikan dan kekayaan, demikian; Bila dalam urusan pernikahan kalian mencari agama dan ketakwaan, Allah juga akan memberi harta sekaligus kecantikan. Sekali waktu saya bertanya kepada diri saya sendiri, bagaimana Allah akan memberi kecantikan pada seseorang setelah terjadinya penciptaan dan berjalannya kehidupan? Mungkin saja memberi kekayaan pada orang yang tidak punya uang? Tapi bagaimana memberi kecantikan? Apakah Allah akan mencantikkan orang yang jelek? Berdasarkan apa, Rasulullah bersabda; Allah juga akan memberi kecantikan? Kemudian tiba-tiba saya tersadar bahwa kecantikan pada dasarnya akan mewujudkan kasih sayang. Bila telah diberi kasih sayang oleh Allah, maka wajah yang tidak cantik di mata seseorang akan menjadi cantik dan indah.

 

Agar bar dide-ye Majnun nashini

Beh ghairi az khubi-ye Laila nabini (Wahshi Bafghi)

[Majnun hanya melihat kebaikan Laila, baginya tidak ada bedanya, apakah Laila jelek atau cantik]

 

Dikatakan bahwa Laila orangnya jelek dan Majnun sangat tidak menyenangkan dan kotor juga kurus kering. Namun kasih sayang membuatnya cantik di mata satu sama lainnya. Keduanya sama-sama sangat mencintai. Alhasil, sebatas dongeng ini ada kenyataannya, maka akan abadi dalam sejarah. Maksudnya adalah ketika Allah Swt memberikan kasih sayang, maka selanjutnya akan datang kecantikan. (13/12/81) Karena kecantikan ada di mata kalian. Kecantikan ada di hati kalian. Kecantikan ada dalam pandangan kalian. Bila manusia mencintai seseorang, meskipun orang tersebut tidak cantik, maka ia melihatnya tampak cantik. Ketika tidak suka pada seseorang, meskipun orang tersebut cantik, maka baginya tidak cantik. Oleh karena itu, bila berdasarkan ketakwaan, berdasarkan kesucian hati, berdasarkan sifat yang menyenangkan, tangan suami dan istri saling berpegangan, ketika di antara keduanya muncul kasih sayang, saya sampaikan...bahwa dikatakan, (gar mahabbat dar miyon omad, takallof gu nabosh) (Ghani Kashmiri) bagi keduanya tidak ada lagi yang namanya tugas yang berat, semuanya menurut keduanya indah dan sesuai yang diinginkan. (13/10/77)

 

Islam mengatakan, kalian perhatikan dua hal; pertama, pasangan hidup kalian adalah unsur yang beragama dan menjaga kesucian dan kehormatannya, mulia dan ada sisi spiritualnya. Kedua, melamarnya berdasarkan kebutuhan. Cukup. Begitu seorang lelaki merasa bahwa ia harus menikah, carilah perempuan yang memiliki kesucian dan kehormatan serta mulia. Wanita juga harus menerima lelaki sebagai suaminya bila lelaki tersebut memiliki kesucian dan kehormatan serta kemuliaan. Cukup. Mencari kecantikan, mencari pekerjaan, mencari keturunan harus begini dan begitu, mencari kedudukan sosial, mencari uang. Dalam Islam hal-hal semacam ini tidak menjadi perhatian. Bahkan malah dilarang. Beginilah.

 

Oleh karena itu Rasulullah Saw menyuruh seorang lelaki yang jelek, berkulit hitam, tidak punya uang dan bukan keluarga bangsawan bernama Juwaibir (19/12/62) – yang dalam kejelekan dan kemiskinannya di seluruh madinah, jarang ada orang seperti dia – (12/12/62) untuk melamar salah seorang gadis cantik, bangsawan, kaya dari warga Madinah. Juwaibir juga tidak mengatakan, eh saya tidak pantas untuk pergi melamar gadis fulan misalnya, siapa memangnya saya? Saya jelek, tidak punya siapa-siapa dan apa-apa, saya tidak punya uang. Juwaibir tidak merasa demikian. Dia mengatakan, saya adalah seorang lelaki, sekaligus muslim. Lalu apa lagi yang harus diinginkan? Namun ayah gadis tersebut imannya sedikit goyah. Gadis tersebut termasuk gadis hizbullah, beragama seperti gadis-gadis saat ini, Alhamdulillah. Begitu dia tahu bahwa Rasulullah menyuruh lelaki tersebut untuk meminangnya, kepada ayahnya ia berkata, mengapa engkau tolak? Apa yang dimaukan sang gadis? Ia mengatakan, orang ini adalah seorang lelaki dan muslim, saya juga seorang wanita dan muslimah. Kami adalah sekufu. Muslim adalah sekufu dengan muslim. (19/12/62) “Al-mu’minu Kufwul Mu’minati Wal Muslimu Kufwul Muslimati” (Kafi, Kitab Nikah/ Bab Annal Mu’mina Kufwul Mu’minati/ hadis 1) Ini adalah tolok ukur menurut agama. (11/6/72) kalian perhatian? Demikianlah.

 

Lalu sebagian orang berkhayal bahwa putri-putrinya harus diberikan kepada orang yang selevel dengan diri mereka. Kami bertanya, Pak! Selevel itu apa? Menjawab, misalnya bila kami adalah orang kaya, punya modal sekian, maka orang tersebut juga harus kaya atau sedikit lebih kaya, iya, modalnya kurang lebih sebesar modal kita. Bila kita punya posisi sosial, iya, misalnya kurang lebih seginilah kita punya posisi sosial. Bila putra kami misalnya sarjana S1, calon istrinya juga meski bukan lulusan sarjana S1, paling tidak tamatan SMA. Mengapa? Apa perlunya? Apa masalahnya bila seorang wanita bergelar doktor, pandai dan berpendidikan menjadi istri seorang pemuda hizbullah yang hanya lulusan SD? Apa masalahnya? Mengapa tidak bisa hidup rukun? Mengapa tidak bisa hidup bersama? Apa yang membatasinya? Mengapa harus mencari seseorang...saya tidak tahu...seorang gadis yang bentuknya demikian, kecantikannya sedemikian, ayahnya harus demikian, mengapa? Apa perlunya? Islam tidak menerima hal-hal seperti ini. Islam menerima nilai-nilai spiritual.

 

Dikatakan, carilah kemuliaan dan kesucian. Kehidupan yang seperti inilah yang sebenarnya akan berjalan lebih menyenangkan. Ketahui juga hal ini! Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa bila seseorang mencari istri dan menikah dengannya karena harta dan kecantikannya. Dengan istri tersebut, bila Allah berkehendak, maka Dia akan memberikan harta dan kecantikan kepadanya. Bila Allah tidak menginginkan, maka tidak akan memberi harta dan kecantikan kepadanya, malah justru mengambilnya. Iya, begitulah. Itulah mengapa banyak orang memiliki harta kekayaan tapi hartanya hilang; punya kecantikan, kecantikan wanita juga sangat mudah untuk hilang. Karena satu penyakit, karena...saya tidak tahu...karena melahirkan beberapa kali, akan hilang. Tapi bila – lanjutan riwayat – memilih istri karena agamanya, Allah akan memberikan harta sekaligus kecantikan. Mungkin saja kalian bertanya, bagaimana? Memangnya kecantikan, misalnya seseorang jelek, lalu Allah mencantikkannya? Memangnya bisa? Jawabannya adalah tidak perlu ia harus cantik. Cukup hanya ada rasa kasih sayang di hati kalian padanya, kalian akan melihatnya dia tampak cantik. Kecantikan tidak hanya tampak di wajahnya saja, tapi lebih tampak di hati kalian, di mata kalian, di pandangan kalian yang penuh kasih sayang.

 

Tidak punya hartapun, Allah akan memberinya. Harta juga bukan bermakna harta yang banyak dan melimpah. Tidak perlu. Harta yakni kehidupannya berjalan, merasa nyaman. Menjalani hidup dengan qonaah, tidak merasa susah. Inilah. (19/12/62) Para pemuda ketika berbincang-bincang mengatakan, kalau kita menikah, selanjutnya apa yang harus kita lakukan? Untuk rumah? Untuk pekerjaan? Ini semua adalah pembatas-pembatas yang senantiasa menjadi penghalang pekerjaan-pekerjaan asli dan mendasar. [Allah] berfirman, “In Yakunu Fuqara’a Yughnihimullahu Min Fadhlihi” (QS. Nur:32) Yakni Allah akan mencukupi mereka. Menikahlah! Pernikahan tidak akan mewujudkan kesulitan khusus pada kondisi kehidupan mereka. Bahkan sebaliknya, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Ini adalah firman Allah. (28/6/79) Dengan demikian harus mencari nilai-nilai dan Islam menilai penting masalah ini. (19/12/62) Itulah mengapa Imam Shadiq as kepada seseorang berkata, Engkau ingin menikah... ketahuilah bahwa engkau mau mencari seorang partner serumah dan seumur hidup. Engkau akan bersamanya seumur hidup. Lihatlah siapakah yang mau engkau pilih? Lihatlah akhlaknya, agamanya, kesuciannya...lalu melangkahlah! Kalian harus memilih istri, yang disebutkan dalam riwayat, salah seorang yang paling sukses di antara para lelaki adalah seorang lelaki yang diberi istri oleh Allah dimana saat ia memandangnya, sang istri membuatnya senang dan gembira. Ketika ia tidak ada, sang istri menjaga amanatnya. Amanat itu adalah hartanya, rahasianya dan harga diri dan kehormatannya. (12/12/62) Alhamdulillah kalian telah melewati tahapan ini dan telah memilih pasangan hidup. Sekarang kalian harus komitmen dengan pilihan ini. Hargailah ikatan ini dan jagalah rumah tangga ini. (19/3/82)   (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

 

Add comment


Security code
Refresh