Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 08 Desember 2015 12:24

Pernikahan Imam Ali dan Sayidah Fathimah as

Pernikahan Imam Ali dan Sayidah Fathimah as

Sebaik-baik gadis di alam dan sebaik-baik pemuda di alam telah menikah, padahal maharnya adalah “Mahrussunnah” dan jahiziyehnya juga sangat sederhana dan simpel. (13/12/81) Kehidupan Amirul Mukminin dan Sayidah Fathimah az-Zahra adalah contohnya. Amirul Mukminin adalah sebaik-baik pemuda di alam dan menikah di usia muda. Beliau menikah dengan sebaik-baik gadis di semua periode sejarah yaitu Sayidah Fathimah az-Zahra. (18/6/82) Sebaik-baik gadis demi sehelai rambutnya dan sebaik-baik pemuda demi sehelai rambut Amriul Mukminin as. Ketahui juga bahwa Amirul Mukminin adalah sebaik-baik pemuda yang bukan hanya dari sisi spiritual saja. Pemuda ini adalah pahlawan besar di medan-medan perang. Gadis ini, Sayidah Fathimah as juga putrinya sosok nomer satu di dunia Islam pada masa itu. Putri sosok pertama dunia Islam dan sebaik-baik pemuda pada masa itu mahar dan jahiziyehnya seperti ini. (13/12/81)

 

Jangan beranggapan bahwa pada masa itu tidak ada yang namanya kemewahan, formalitas dan mahar yang berat dan masyarakat tidak mengenal hal-hal seperti ini. Pada masa itu ketika para kepala suku dan bangsawan Arab ingin menikahkan putrinya, mereka menyiapkan pernak-pernik dan jahiziyeh. Misalnya sebagian orang menetapkan mahar putrinya berupa emas yang banyak, seratus onta dan seribu dinar dan atau sepuluh ribu dinar. (28/6/81) Mahar yang berat adalah milik masa jahiliyah. Rasulullah Saw telah menghapusnya. (28/2/74) Rasulullah Saw, juga Amirul Mukminin –yakni kedua keluarga perempuan dan lelaki – termasuk keluarga bangsawan Quraisy. Yakni sebagai keluarga yang paling mulia di kalangan keluarga-keluarga Quraisy. Namun bukan orang yang cinta dunia dan berbangga-banggaan dan suka mengumpulkan uang. Tapi parameter kekeluargaan mereka menurut pandangan masyarakat zaman itu berada pada derajat yang paling tinggi. Sang pemuda, Amirul Mukminin as memiliki beragam kebanggaan besar di masa itu dan sang gadis, Sayidah Fathimah az-Zahra as termasuk sebaik-baiknya gadis di dunia Islam masa itu dan putrinya sosok nomer satu kota Madinah. Mereka juga mengenal hal-hal tersebut, namun karena mereka menghinakan dunia dan tidak menghargai lahiriah kehidupan. Mereka tidak memasukkan hal-hal tersebut pada sesuatu yang demikian lembut dan spiritual yakni pernikahan. Uang, emas, materi lebih remeh sehingga tidak perlu memasukkannya ke dalam masalah pernikahan. (28/6/81)

 

Apa maharnya Sayidah Fathimah? Apa jahiziyehnya Sayidah Fathimah? Bagaimana resepsi pernikahannya? (18/6/82) Jahiziyehnya adalah barang-barang murah yang tertulis dan tercatat dalam buku-buku; satu lembar tikar, satu lembar rajutan dari serat kurma, satu buah alas tidur, satu buah gilingan tangan, satu buah bejana air dan sebuah mangkok. (Bihar al-Anwar, buku sejarah Fathimah, Hasan dan Husein as/Abwab Tarikh Sayidah Nisa al-Alamin, bab Tazwijiha, hadis 5) (5/1/72) Bila kalian total dengan uang sekarang, kira-kira tidak lebih dari dua puluh ribu Toman. Inilah mahar Sayidah Fathimah as. Jahiziyeh dan perabot kehidupan yang disiapkan untuk beliau, bila dibandingkan dengan uang sekarang mungkin nilainya tidak mencapai harga sehelai baju yang dipakai oleh wanita kelas menengah. Inilah teladan. (17/9/72) Padahal, bukannya Rasulullah Saw tidak bisa, Rasulullah Saw bisa. Bila Rasulullah memberikan satu isyarat saja, maka banyak orang yang siap dan sukarela membawakan uang yang banyak, jahiziyeh yang banyak dan menyerahkannya kepada pasangan pengantin ini. Namun Rasulullah Saw tidak menginginkannya. Jahiziyeh yang sederhana, mahar... saya sampaikan... yang kecil dan sedikit, sikap-sikap mereka yang bergaya miskin, atas dasar kesengajaan. Ini tujuannya adalah supaya orang lain belajar. Kita tahu bahwa di dalam keluarga Rasulullah Saw, para gadis dan para pemuda dan pernikahannya tidak melebihi mahrussunnah. (3/6/75) Mereka tidak menjadikan dirinya sebagai tawanan lahiriyah dunia. Kita tidak bisa bersikap seperti mereka, namun mereka telah menunjukkan jalan untuk kita. Mereka telah mengajarkan garis pada kita. Mereka mengatakan, Mulailah kehidupan bersama seperti ini. (13/12/81) Orang-orang seperti kita, pikiran kita akan menjadi dingin bila kita ingin menyamakan kehidupan kita dengan kehidupan mereka. Saya tidak menuntut kalian dan juga tidak menuntut diri sendiri. Namun itu adalah puncak, sebisa mungkin kita mendekat padanya dan bergerak menuju puncak tersebut.

 

Jangan melihat orang-orang yang berada di atas puncak setan dan resepsi pernikahannya sedemikian rupa. Di Islam juga ada. Sekarang juga ada. Di dunia juga ada. Ketika Ma’mun Khalifah Abbasiyah menikah, di malam acara pengantin, kaleng-kaleng kecil yang terbuat dari emas ditaburkan di atas kepada istrinya. Ini selain perhiasan dan emas dan permen-permen yang diberikan. Ketika para tamu membuka kaleng-kaleng itu, mereka melihat di dalamnya tertulis, Tanah di tempat fulan untuk penemu kaleng ini. Sepetak ladang yang ada di tempat fulan adalah untuk penemu kaleng ini. Tanah-tanah ini mereka dapatkan dengan cara kekerasan dan kezaliman dan membagi-bagikannya seperti ini. Ketika harta didapatkan dari jalan haram, maka akan dihabiskan di jalan pemborosan seperti ini. Mereka benar-benar melakukan pemborosan sampai Ma’mun sendiri mengatakan, yang demikian ini adalah pemborosan. Sikap-sikap itulah yang menyebabkan Islam mengalami kekalahan selama beberapa abad dan hancur di bawah serangan berbagai macam kaum. (18/6/82)  (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

 

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

Add comment


Security code
Refresh