Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 06 Desember 2015 11:45

Resepsi Pernikahan

Resepsi Pernikahan

Saya anjurkan kepada para pengantin wanita dan pengantin pria, bapak dan ibu agar berusaha menyelenggarakan resepsi pernikahan secara islami. Menyelenggarakan resepsi secara islami bukan berarti tidak ada pesta, undangan, kesenangan dan kegembiraan. Tidak. Acara pengantin secara islami juga seperti semua acara pengantin yang ada. Ada pesta, undangan dan kegembiraan. Bahkan walimah pengantin dan undangan untuk pengantin dalam Islam hukumnya Sunnah. Maksud kami menyelenggarakan resepsi pernikahan secara islami bukan berarti menghapus hal-hal tersebut. Tapi maksud kami adalah selain acara pengantin, pendahuluan pengantin juga hal-hal yang berkaitan dengan acara pengantin, jangan sampai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Ketika kami katakan pekerjaan yang bertentangan dengan syariat, langsung terpikir pada masalah mahram dan non mahram dan musik yang haram dan semacamnya. Tentunya hal-hal ini juga bertentangan dengan syariat. Berlebihan dalam makan dan minum, melakukan pemborosan, berlebihan dalam kemewahan dan apa saja yang melebihi batas ketentuan standar dan ketentuan akal adalah sikap pemborosan dan menurut syariat hukumnya haram. Sangat disayangkan hal-hal yang haram seperti ini agak populer di tengah-tengah masyarakat. (15/9/81) Sebagian masyarakat, yang seharusnya dengan melakukan sesuatu bisa mendapatkan pahala, malah mendapatkan dosa dengan sikap pemborosan yang dilakukannya. Dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Dengan mencampuradukkan perbuatan yang baik dengan pekerjaan yang haram. Haram bukan hanya menyangkut mahram dan non mahram saja dan sebagainya. Hal-hal tersebut tentunya juga haram, namun melakukan pemborosan juga hukumnya haram. Menyakiti hati masyarakat yang tidak punya, dalam hal tertentu juga hukumnya haram. Berlebih-lebihan, mencampuradukkan yang halal dan yang haram dalam upaya bisa menyiapkan jahiziyeh putrinya, semua ini juga hukumnya haram. (9/11/76) Sebagian membeli baju pengantin yang mahal. Tidak! Apa perlunya? Lalu, bila memerlukan pakaian pengantin, sebagian dengan cara menyewa. Apa masalahnya? Malu? Tidak! Kenapa harus malu? Apa masalahnya? Sebagian menganggap malu akan hal ini. Malu, bila seseorang membeli sesuatu dengan harga mahal dan menggunakannya hanya sekali, kemudian tidak memakainya lagi, sekali pakai! Itupun dalam kondisi sebagian masyarakat betul-betul membutuhkan. (4/10/74) Menyelenggarakan resepsi pernikahan sedemikian rupa, sementara sebagian besar masyarakat merasa tidak mampu, anak-anak perempuan tetap tinggal di dalam rumahnya, anak-anak lelaki tetap melajang, yang demikian ini juga dosa. Dosa-dosa seperti ini harus kita pahami. Kita memperhatikan dosa-dosa kecil, namun melupakan dosa-dosa besar. (29/7/81)

 

Sebagian orang yang tidak punya kekhawatiran dan tidak punya masalah dari sisi keuangan, lebih banyak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat ini. Pesta dan undangan diselenggarakan sedemikian rupa di gedung-gedung dengan harga mahal. Karena jorjoran, membeli pakaian yang mahal atau memesannya, melakukan hal-hal yang tidak perlu yang tidak dilakukan oleh orang lain supaya tampak lebih tinggi dari yang lainnya.

 

Terkadang melakukan hal-hal unik dan bersifat prakarsa akan mewujudkan keindahan dan biayanya juga sedikit. Tidak masalah. Namun terkadang untuk acara-acara seperti ini harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak, ini adalah pemborosan. Ini adalah jorjoran dan berbahaya. Banyak anak perempuan dan anak lelaki muda tidak menikah karena sikap-sikap jorjoran ini. Mahar yang banyak, jahiziyeh yang berat, undangan mewah yang menyebabkan anak-anak perempuan dan anak-anak lelaki tetap melajang tidak menikah. Syariat yang suci ketika mengajarkan sesuatu kepada kita, itu karena ada hikmah ilahi. Syariat ilahi bersumber dari hikmah ilahi. (15/9/81) Saya merasa bahwa mereka yang menyelenggarakan acara-acara yang berat dengan mahar dan jahiziyeh yang berat telah membuat kesulitan bagi yang lainnya. Perhitungannya di sisi Allah sangat berat. (24/5/74)

 

Syarat pemborosan dan haram hukumnya dan dianggap buruk bukan ketika seseorang tidak punya dan tidak bersikap boros, tapi ketika seseorang punya dan bersikap boros. Ini adalah pekerjaan yang buruk. Pada hakikatnya, orang-orang kaya biasanya yang melakukan pemborosan. Untuk itu, ini adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang kedua adalah ia mewujudkan rasa persaingan dan jorjoran pada orang lain. Pada saat itu, mereka yang merasa tidak mampu melakukan hal ini akan merasa malu. Pengantin wanita dan pria akan merasa malu. Keluarga-keluarga juga demikian. (6/6/81) Betapa banyak anak-anak perempuan dan anak-anak lelaki yang bila menikah merasa kekurangan, merasa sedih, merasa tidak keturutan, merasa ada yang kurang, merasa malu karena ketidakdisiplinan orang-orang kaya. (5/10/75) Betapa banyak pernikahan yang tertunda karena hal ini. Betapa banyak anak perempuan dan anak lelaki yang tidak menikah, tetap melajang. Ini sudah dua kesalahan. Sekarang bila kalian bedah, kalian akan menemukan kesalahan-kesalahan cabang lainnya di sela-sela hal ini. (6/6/81) Bila melakukan pemborosan, maka selain merugikan diri kalian sendiri, juga merugikan masyarakat. Selain merugikan para pemuda; anak-anak perempuan dan anak-anak lelaki, kalian telah menjauhkan diri dari pandangan Rasulullah Saw dari pandangan Imam Zaman af (12/9/77) Oleh karena itu, anjuran kami adalah selenggarakanlah resepsi pernikahan secara sederhana. (6/6/81)

 

Undangan-undangan yang ramai, menyewa hotel dan mengeluarkan biaya yang besar ini adalah kebiasaan para penguasa zalim. Kami selalu menyelenggarakan akad nikah dan acara pengantin di rumah-rumah kami sendiri, satu ruangan, dua ruangan. Bila kami tidak punya [tempat], pinjam tetangga. Ada sedikit suguhan kue dan buah, berbincang-bincang, tertawa, bercanda, benar-benar menyenangkan. Tentunya para penguasa zalim dan orang-orang yang jelek alhamdulillah sudah hancur. Mereka tidak menyelenggarakan seperti ini. mereka tidak cukup dengan cara seperti ini. Mereka pergi ke hotel dan menyelenggarakan acara undangan dengan biaya mahal dan sedemikian rupa. Sekarang giliran kita sebagai pejabat, jangan sampai mengulangi kebiasaan mereka. Bila kita mengulanginya, maka kita juga sama seperti mereka. Itu adalah kebiasan yang buruk. Bukan ketika seseorang karena tidak mampu melakukan sesuatu yang berbiaya besar, lantas tidak melakukannya. Tapi ketika mampu, lantas melakukannya. Lalu bagaimana? Logika yang benar tidak mewajibkan hal ini. (20/4/70)

 

Acara pengantin dan akad nikah serta kegembiraan adalah sesuatu yang bagus. Bahkan Rasulullah Saw juga menyelenggarakan acara pengantin untuk putrinya yang mulia, bergembira dan masyarakat juga membacakan syair. Para wanita bertepuk tangan dan bergembira. (5/1/72) Menyelenggarakan acara pengantin, menyenangkan dan bergembira itu bagus. Kami tidak menentangnya sama sekali. Di manapun saja ada acara pengantin di negara ini dan sekelompok orang bergembira, bila kami mengetahuinya, kami juga ikut gembira. Namun pemborosan, kemewahan dan berlebihan itu jelek. Kalian harus hati-hati, jangan sampai hal-hal seperti ini terjadi. (18/6/82) Walimah dan undangan itu bagus; baik untuk acara akad nikah maupun acara pengantin. Namun simpel, sederhana, dan selayaknya. (29/3/81)

 

Selenggarakanlah sebuah acara penuh keakraban, kasih sayang dan menyenangkan. Undanglah beberapa orang famili, beberapa teman, teman-teman pengantin wanita, teman-teman pengantin pria, teman-teman ayah dan ibu. Makan kue, membicarakan sesuatu misalnya, menghabiskan waktu setengah hari yang indah kemudian berpisah. Suami dan istri pergi ke rumahnya, rumahnya sendiri, pasangan pengantin muda harus demikian. Sikap berlebihan dan pemborosan sebatas ia masuk ke dalam perut, sebatas itu juga ia sia-sia dan hukumnya haram, bukan hal yang baik. Singkirkan hal-hal ini. Kalian sekarang telah menikah, berhati-hatilah jangan sampai melakukan hal-hal ini. Tidak perlu. Biaya besar di pundak ayah pengantin wanita, di pundak pengantin pria, apa perlunya semua ini? jangan lakukan hal-hal ini. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

 

Add comment


Security code
Refresh