Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Jumat, 04 Desember 2015 09:45

Mahar

Mahar

Islam telah menetapkan mahar, namun bukan dalam bentuk transaksi jual beli. Di sini bukan jual beli, tapi kedua belah pihak sedang menanam investasi di sebuah tempat secara bersamaan. Kalian bukan sedang memberi dan mengambil sesuatu seperti jual beli. Tidak. Di sini bukan memberi dan mengambil sesuatu. Tapi dua orang sedang meletakkan keberadaan dirinya di dalam sebuah tempat dan keduanya memanfaatkannya. Dalam pernikahan, kasusnya seperti ini.

 

Itulah mengapa peran materi di sini harus sangat minim. Bila kami mengatakan, jangan perberat mahar, itu karena hal ini. (20/4/70) Mahar dalam Islam adalah sesuatu yang harus dan sebagai syarat pernikahan. (28/6/81) Bila kami katakan mahar jangan sampai lebih dari empat belas koin emas, hakikatnya hanya ingin melakukan sebuah pekerjaan simbolik. (18/6/82) Bukan karena misalnya bila lima belas, enam belas atau bahkan seribu koin emas, maka akad tidak bisa dilakukan atau akad nikah akan menjadi batal. Tidak. Tidak ada masalah sedikitpun. Sebagian mengatakan tiga ratus tiga belas, sekarang terkait hal ini mereka juga menyangkut-pautkan simbol-simbol agama. Kami mengatakan, tentukan saja sekalian seratus dua puluh empat ribu koin, sebanyak jumlah para nabi, pernikahan juga tidak akan bermasalah. Namun, pembicaraannya adalah akan muncul masalah-masalah yang lain. Baik di dalam lingkungan rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat. Pasangan muda suami istri ini akan menghadapi kerugian yang besar. (29/3/81) Kami ingin menentukan sebuah batasan supaya keluarga-keluarga tidak senantiasa saling membanggakan, misalnya mahar putri atau menantu perempuan kami sekian. (18/6/82) Bila kami mengatakan maharnya empat belas koin saja atau tidak perlu formalitas dan kemewahan, - tentunya ketika kami mengatakan, semuanya mengangguk-angguk dan mengiyakan dan menyetujui- namun sekelompok orang yang pikirannya pendek tetap saja melakukan kemauannya, mereka sendirilah yang merugi. Saya hanya duduk di sini dan tidak merugi. Mereka sendirilah yang merugi. (11/5/75)

 

Sangat disayangkan sekelompok masyarakat telah menggunakan semua kesempatan dan momen hidupnya untuk bersaing dan jorjoran.  Mereka memperhatikan, ketika saingannya melangkah satu langkah, mereka melangkah satu langkah lagi lebih jauh. Misalnya menentukan sedikit lebih besar maharnya dari mahar yang telah ditentukan oleh saingannya untuk putrinya. Benar-benar seperti pelelangan. Sebagian orang memiliki cara seperti ini dalam kehidupannya dan ini adalah salah. Bila memang harus bersaing, banyak keluarga yang akan mengalami kerugian dalam persaingan ini. (30/11/81) Bersikap salah, orang-orang yang meninggikan mahar putrinya dengan tujuan ingin menghormati putrinya. Ini bukan sebuah penghormatan. Ini adalah ketidakhormatan. Karena dengan meninggikan mahar, kalian sedang menjatuhkan jenis transaksi kemanusiaan, yakni salah satu dari jenis transaksi kemanusiaan –karena keduanya saling berhadapan- sampai pada batasan sebuah barang dan sebuah komoditas. Kalian mengatakan, putri saya sangat berharga. Tidak Pak! Putri Anda sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan uang. (11/8/77) Salah, mereka yang berkhayal, bila tidak ada mahar [yang tinggi] maka pernikahan putrinya akan goyah. Pernikahan, bila dengan kasih sayang, dengan kondisi yang benar, tanpa mahar [yang tinggi] pun tidak akan goyah. Tapi bila dasarnya adalah kejahatan dan penipuan dan semacamnya, sekalipun maharnya tinggi, seorang lelaki yang jahat, bengis akan bertindak sedemikian rupa sehingga meloloskan dirinya dari membayar mahar. (4/9/75) Tidak ada mahar yang tinggi yang bisa menghalangi dan telah menghalangi perceraian. Yang bisa menghalangi perceraian adalah akhlak dan perilaku, menjaga aturan-aturan Islam. (2/9/73)

 

Di masa permulaan Islam, Rasulullah datang ke masjid dan mengumumkan, ada seorang gadis dengan ciri khas seperti ini? Siapa yang mau melamarnya? Seorang pemuda bangkit berdiri dan menjawab, saya mau. Rasulullah bertanya misalnya, engkau tentukan berapa maharnya? Dia menjawab, sebanyak misalnya 3 kg korma, satu keranjang misalnya korma, sebuah tameng dari korma. Rasulullah sebagai wakil gadis tersebut menerima lamaran pemuda ini. Di situ juga berdiri dan membacakan akad nikahnya dan menyerahkan gadis tersebut kepada pemuda itu dan bersabda, “Pergilah ke rumah kalian!” (17/5/65)

 

Dinukil dari Imam Husein as bahwa beliau mengatakan, kami tidak menikahkan putri-putri kami dan saudara-saudara perempuan kami dan tidak menikahi istri kami kecuali dengan “Mahrussunnah”. Itu karena hal ini. Padahal mereka juga bisa. Seandainya bila Imam Husein ingin menikahkan misalnya dengan seribu dinar, maka bisa saja. Tidak perlu misalnya hanya dengan lima ratus dirham - dua belas setengah auqiyah [mata uang yang bernilai empat pulu dirham]-. Tujuannya adalah tetap pada prinsip ini. Mereka bisa [menikah dengan mahar tinggi] tapi menguranginya. Mengurangi ini ada tujuannya. Ini sangat bagus. (14/10/90) Kondisi pernikahan dalam Islam begini. Formalitas tambahan dan cara-cara yang kemudian muncul, semua itu adalah tambahan yang muncul karena kebodohan manusia. Tidak satupun darinya berdasarkan akal. (17/5/65) Saya menghimbau semua masyarakat di seluruh penjuru negeri untuk tidak memperbanyak mahar. Ini adalah tradisi jahiliyah. Ini adalah pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasulullah, khususnya pada zaman ini. Kami tidak mengatakan haram. Kami tidak mengatakan pernikahan menjadi batal. Namun bertentangan dengan Sunnah Rasulullah dan anak-anaknya para imam maksum as dan para pembesar Islam. (2/9/73) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

Add comment


Security code
Refresh