Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 03 Desember 2015 14:22

Mukmin Adalah Sekufu Bagi Mukmin

Mukmin Adalah Sekufu Bagi Mukmin

Seorang Mukmin adalah sekufu dan setaraf dengan mukmin. Bila ada keimanan pada keduanya, segalanya beres. Bila keimanan kalian lebih rendah dari keimanan pasangan kalian, maka sampaikan diri kalian padanya. Bila keimanan pasangan kalian lebih rendah dari keimanan kalian, maka tariklah dia, tingkatkan keimanannya. Bila ia tidak bisa shalat, atau bisa, hanya saja tidak penting baginya, atau tidak peduli dengan wudhu, mandi dan kesuciannya dan sebagainya, atau ia sebagai orang yang suka bermewah-mewahan, suka berlebihan dan melakukan pemborosan, atau dari sisi akhlak mengalami kemunduran, atau ternodai dengan keburukan tertentu –jangan sampai terjadi-, maka kalian punya kewajiban untuk memperbaikinya, betulkan dia. Kalian para istri dan para suami lebih bisa mempengaruhi pasangan kalian daripada yang lainnya. Seorang istri yang baik, mulia, mukmin dan menyayangi suaminya, pasti ia bisa mempengaruhi suaminya. Sebagian orang terkadang berhasil mempengaruhi suaminya dengan cara mengalirkan uangnya ke toko  perhiasan dan peralatan, toko pakaian dan toko mebel atau urusan sia-sia. Namun sebagian juga bisa mempengaruhi suaminya dengan cara mengarahkan hatinya kepada Allah dan mengalirkan uangnya untuk bersedekah, berinfak dan membantu orang-orang yang membutuhkan dan kepentingan umum. Kalian para pemuda yang baru menikah juga bisa lebih mempengaruhi istri kalian daripada yang lain; daripada ayahnya, ibunya, saudara perempuannya, saudara lelakinya dan daripada gurunya. (14/2/63)

 

Saling nasihatilah satu sama lainnya dan saling jagalah satu sama lainnya. Istri harus berhati-hati, bila ia merasa bahwa suaminya menyimpang dari jalan yang benar dan dari jalan Allah, maka halangilah dia dengan perilaku, nasihat dan akhlak yang baik. Suami juga harus demikian terkait dengan istrinya. (8/3/81) Tentunya penjagaan akan berhasil hanya dengan menyayangi, dengan bahasa yang baik, dengan logika yang benar dan dengan sikap yang bagus dan tepat; bukan dengan akhlak yang buruk dan dengan cara tidak menyapa dan semacamnya. Saling jagalah satu sama lainnya untuk tetap berada di jalan Allah. Saling arahkanlah satu sama lainnya pada kebenaran dan kesabaran. (8/3/81) Bersikaplah di dalam lingkungan rumah tangga sehingga ayat “Wa Tawashau Bilhaqqi Wa Tawashau bisshabr” (QS. Asr:3) benar-benar teraplikasikan. Suami harus mengarahkan istrinya pada kebenaran, kesabaran dan bersikukuh di jalan Allah. Istri juga harus mengarahkan suaminya pada kebenaran, kesabaran dan bersiteguh di jalan Allah. Bila istri yang mukmin, hizbullah, revolusioner dan suci seperti kalian ingin mengamalkan ayat tersebut, yakni mengarahkan suaminya pada ketakwaan dan tidak menuruti hawa nafsu dan menjaga keridhaan Allah, pasti akan lebih berpengaruh pada suaminya daripada faktor lainnya. Nasihat ini akan lebih berpengaruh dari semua model nasihat. Tentunya dengan bahasa cinta dan kasih sayang. Untuk anak-anak juga berpengaruh. (21/7/77)

 

Materi Dalam Pernikahan

 

Poin berikutnya dalam urusan pernikahan – yang merupakan transaksi spiritual, kejiwaan dan hati, dan bukan seperti transaksi di pasar dengan uang, cek dan nota tagihan, tapi transaksi hati dan jiwa- jangan sampai memasukkan unsur keuangan dan materi. Karena ia akan merusak kehidupan. (18/6/82) Dalam pernikahan, masalah utamanya adalah sebuah perkara kemanusiaan, bukan sebuah perkara materi. (20/4/70) Menurut Imam Sajjad as, harta adalah penyebab fitnah. “Al-mali Al-Fatuni” (Shahifah Sajjadiyah, doa ke 27 mendoakan para prajurit dan penjuang dunia Islam) Harta, semakin banyak, maka ia semakin besar perannya dalam membangkitkan fitnah. Itulah mengapa manusia harus benar-benar bisa menguasai dirinya sehingga jangan sampai terpengaruh oleh penyebab fitnah ini dan kebanyakan juga terpengaruhi. Harta penyebab fitnah ini tidak boleh diikutsertakan ke dalam kancah keakraban dan kasih sayang serta transaksi hati ini. (18/6/82) Sebagian menentukan maharnya sampai jutaan Toman. Yakni pernikahan yang merupakan perkara manusiawi diubah menjadi sebuah tawar menawar dan menjadi sebuah pekerjaan pasar dan transaksi. Ini merupakan penghinaan terhadap peran dan posisi kemanusiaan dalam pernikahan. Ini adalah sikap yang salah.

 

Sebagian juga telah mengubah perkawinan yang merupakan perkara emosional, kemanusiaan dan hati nurani menjadi pentas untuk saling membanggakan. Misalnya mengatakan jahiziyeh [perabot rumah yang disedikan dari pihak pengantin wanita] kami ada ini dan itu, apakah jahiziyeh anak perempuan Anda ada ini dan itu juga? Saling membanggakan dan melakukan persaingan. Atau misalnya mengatakan, kami menikah di gedung fulan. Ketika kita menjadikannya sebagai arena untuk saling membanggakan, ini adalah kesalahan dalam kesalahan. Selain menodai lingkungan pernikahan dengan hal-hal materi, juga mengubah arena yang suci, halus dan berkaitan hati nurani ini menjadi arena untuk saling membanggakan dan melakukan persaingan dan berlebih-lebihan. Lagi pula pasangan suami istri ini akan membiasakan dirinya menjalani kehidupannya dengan kemewahan? Mengapa? Biarkan sejak awal mereka membiasakan diri menjalani kehidupan yang sedang-sedang saja. Kemewahan tidak baik dan merugikan bagi kehidupan sosial. Orang-orang yang menentang kemewahan bukan berarti mereka tidak mengenal kelezatan dan kesenangan. Tidak. Kemewahan adalah sebuah perkara yang merugikan kehidupan sosial. Seperti sebuah obat atau makanan yang membahayakan. Dengan kemewahan yang tinggi, masyarakat akan mengalami kerugian. Tentunya dalam batas-batas yang normal tidak masalah. Namun ketika senantiasa terjadi persaingan dan keluar dari batasannya dan merembet pada tempat-tempat lain, maka hal ini akan merugikan masyarakat. Sekarang bila perkara yang merugikan itu kita masukkan ke dalam masalah pernikahan dan kita ingin menggunakannya, ini adalah kesalahan dalam kesalahan. Ini adalah sangat buruk. (20/4/70)

 

Sebagian beranggapan bahwa jahiziyeh dan mahar yang ditentukan oleh calon pengantin lelaki adalah modal. Menanyakan, berapa jahiziyeh anak perempuan Anda yang kami lamar? Atau menanyakan Anda melamar anak perempuan kami, berapakah mahar yang akan Anda tentukan? Seakan-akan mereka sedang melakukan transaksi barang atau jual beli! Sikap-sikap seperti ini tidak benar. Transaksi ini adalah transaksi kemanusiaan. Transaksi hati. (13/12/81) Transaksi hati dan emosional. Semakin sisi spiritual di dalamnya lebih tinggi, maka ia semakin bermanfaat bagi rumah tangga. (5/11/84) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

Add comment


Security code
Refresh