Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 28 November 2015 13:30

Kaitan Hukum Syariat dengan Menjaga Fondasi Rumah Tangga

Kaitan Hukum Syariat dengan Menjaga Fondasi Rumah Tangga

Pandangan mata-mata mesum, akan mewujudkan hati yang mesum. Apa itu hati yang mesum? Yakni hati yang di dalamnya, cinta yang sehat dan benar tidak akan langgeng. Cinta senantiasa masuk ke dalam dan keluar lagi darinya. Di antara manusia, banyak orang-orang yang berhati mesum. Kalian bisa menyaksikan di dalam cerita-cerita, film-film, kabar-kabar yang kalian dengar dan di sebagian kehidupan orang-orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak beragama dan beriman. Lelaki dan perempuan menawarkan dirinya pada beragam cinta sekilas -pada dasarnya itu bukan cinta- dan tidak penting baginya mahram atau non mahram.

 

Apa akibat dari hubungan-hubungan semacam ini? Akibatnya adalah markas asli cinta yakni rumah tangga akan menjadi dingin. Suami dan istri yang seharusnya saling mencintai, menjadi saling dingin, tidak peduli dan tidak perhatian. Pada pandangan mata-mata mesum, akan mewujudkan hati yang mesum. Ketika hati sudah mesum, perilaku dan sikap seseorang akan keluar dari jalan yang lurus. Perbuatan dosa, pelacuran, syahwat, kondisi buruk, kesengsaraan, dan pelarian diri semuanya bersumber dari kemesuman hati.

 

Untuk mencegah agar hati jangan sampai mesum, harus dimulai dari mana? Harus dimulai dari mengontrol pintu gerbang kecil yang disebut dengan mata dan mengontrol pintu gerbang lainnya yaitu mulut. “Fa La Takhdha’na Bilqauli Fayathma’alladzi Fi Qalbihi Maradh...” Maka Janganlah kalian melendek dalam berbicara sehingga tamaklah orang yang dalam hatinya ada penyakit...” (QS.Ahzab:32). Dikatakan kepada para wanita bahkan bila berbicara dengan lelaki lain dan non mahram jangan sampai berbicara sedemikian rupa sehingga orang yang hatinya sakit –yakni hatinya mesum- kemudian menjadi tamak. (30/11/81)

 

Sebagian orang beranggapan bahwa misalnya ketika Islam mengatakan pakailah hijab kalian, jangan memandang, pakailah cadur, itu adalah hukum yang mengandung kekolotan. Sekelompok orang yang suka bicara sembarangan juga ada, setiap kali mengucapkan sebuah kata di belakangnya ditambahi dengan kekolotan. Mereka berkhayal bahwa di sinilah penggunaan kata kolot. Ini adalah poin-poin yang detil dan siapa saja yang mendengarnya, harus memikirkannya. Bila tidak memikirkannya, pasti tidak paham;

 

Bila engkau mendengar ucapan pesalik, jangan katakan bahwa itu salah

Bukan pakar ucapan hai jiwaku, kesalahannya adalah ada di sini (Syair Hafez)

 

Mereka tidak memahami batinnya ucapan, kedalaman ucapan, jiwa ucapan. Pada saat itu setiap orang akan berbicara sesuai dengan persangkaannya. (11/7/81)

 

Islam telah memberikan pengarahan kepada para wanita dan pria terkait masalah-masalah tertentu dan masing-masing dari arahan ini untuk membangun lingkungan dalam rumah tangga. Masalah menjaga mahram dan non mahram, memakai hijab, tidak keluar di hadapan non mahram dengan dandanan, semuanya kembali pada upaya menjaga keselamatan rumah tangga. Sebagian beranggapan bahwa Islam itu kaku dan tidak fleksibel dan melarang wanita dan pria dari kelezatan alami. Iya, akal akan melarang manusia dari berbagai macam kelezatan alami; misalnya kalian akan melarang diri kalian untuk memakan makanan yang lezat, berlemak dan sangat menyenangkan, ketika kesehatan badan kalian tidak siap. Meskipun perasa kalian menginginkannya. Bila dalam sebuah minuman yang segar ditetesi racun, meskipun perasa menerimanya, namun akal tidak akan menerimanya. Masalah mahram dan non mahram dan perbedaan jenis dan tidak bergaul campur aduk dan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat, semuanya kembali ke dalam rumah. (6/6/81)

 

Saya berkali-kali menyarankan kepada para pria dan wanita dan para calon pengantin wanita dan pria yang datang ke sini untuk menikah. Saya menyarankan kepada para wanita jangan sampai berbuat sesuatu sehingga menimbukan rasa cemburu pada suami kalian. Kepada para pria saya juga menyarankan bahwa jangan sampai kalian menimbulkan rasa cemburu pada istri kalian. (6/6/81)

 

Para wanita dalam sikap-sikapnya di lingkungan di luar rumah, bila sebagai wanita karier atau pelajar di lingkungan kerja dan sekolah atau di lingkungan interaksi kekeluargaan, jangan sampai menimbulkan rasa cemburu  dalam diri suaminya. Para pria juga baik di lingkungan kerja atau sekolah, sama harus juga menjaga masalah ini. seperti sikap sok akrab, berbincang-bincang, bercanda dan tertawa, sikap-sikap yang dilarang dalam Islam, pengaruhnya akan tampak di dalam rumah tangga. (28/6/81)

 

Bagaimanapun juga, bila sudah muncul prasangka buruk, ada buktinya ataupun tidak, tetap akan menampakkan pengaruhnya. Seperti peluru yang keluar dari pipanya. Bila mengena dada seseorang, maka akan mematikannya. Apakah penembaknya sengaja atau tidak. Peluru tidak akan bisa membedakannya. Peluru tidak akan mengatakan, karena yang menembakkan saya tidak sengaja maka saya tidak akan merobek dada korban ini. Tidak. Peluru akan tetap merobek. Prasangka buruk ini akan menampakkan pengaruhnya sendiri. Baik ia memiliki sumber yang benar atau karena waswas dan misalnya karena persangkaan yang tidak pada tempatnya.  (14/10/90)

 

Bila dikatakan, jangan memandang non mahram. Bila dikatakan kepada para wanita jangan berdandan untuk selain suami kalian. Bila dikatakan kepada para pria jangan melihat wajah dandanan wanita lain selain istrimu, jauhilah pergaulan campur aduk dan interaksi yang merugikan. Tujuan utamanya adalah agar lingkungan dalam rumah tangga menjadi lingkungan yang aman, suami dan istri khusus untuk keduanya sendiri. (28/2/82)

 

Suami dan istri yang menjaga batasan ini, hatinya satu sama lainnya lebih dekat. Ketika hati keduanya lebih dekat, maka lingkungan rumah tangga bagi keduanya akan menjadi lingkungan yang penuh kasih sayang dan menyenangkan. (5/11/84)

 

Itulah mengapa di dalam keluarga-keluarga yang beragama dimana suami dan istri memperhatikan masalah ini dengan baik, kalian menyaksikan mereka hidup bersama selama bertahun-tahun. Cinta suami dan istri sama-sama tetap abadi, sulit bagi keduanya untuk berpisah, masing-masing saling mencintai. Kebaikan dan kasih sayang inilah yang mengabadikan fondasi rumah tangga. Itulah mengapa Islam sangat memperhatikan masalah ini. (23/12/79) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.   

Add comment


Security code
Refresh