Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Jumat, 27 November 2015 11:02

Kebebasan Seksual dan Masalah Jaminan Rumah Tangga

Kebebasan Seksual dan Masalah Jaminan Rumah Tangga

Bila ketenangan dalam rumah tangga sudah terwujud, ada satu faktor jaminan yang dilupakan yaitu dorongan seksual. Dorongan seksual ada pada semua orang. Islam menjadikan dorongan seksual ini sebagai jaminan bangunan rumah tangga. Yakni dikatakan bahwa kalian tidak punya izin untuk menerapkan dorongan seksual ini di tempat-tempat selain rumah tangga. Ini khusus untuk rumah tangga. Iya. Dorongan seksual ini harus diterapkan, karena ia merupakan kebutuhan manusia. Namun saat ia sebagai jaminan rumah tangga, maka ia akan menjadi faktor yang senantiasa mengokohkan rumah tangga. Sekarang, orang-orang yang berakal harus perhatian bahwa bila seorang wanita atau pria menerapkan dorongan seksual ini di tempat lain-semoga jangan sampai terjadi-, maka jaminan rumah tangga ini akan keropos sebatas dorongan seksual itu diterapkan di tempat lain. Bentuk rumah tangga masih tetap ada namun, material aslinya yang terdiri dari cinta dan kasih sayang, daya tarik suami dan istri antarkeduanya akan berkurang. Sebuah kesengsaraan akan melanda rumah tangga sebagaimana yang banyak terlihat dalam rumah tangga Barat khususnya di Amerika dan negara-negara Eropa utara.

 

Suami dan istri kelihatannya berada di dalam sebuah rumah tangga. Di buku juga nama mereka tercatat, mereka juga melakukan akad nikah yang sah. Namun itu semua bukan pengikat yang asli. Mengapa? Karena simpanan bernilai berupa dorongan seksual yang merupakan jaminan rumah tangga telah diterapkan di tempat-tempat lain. Keduanya sama sekali tidak saling membutuhkan. Satu sama lain saling mengucapkan “my dear”, sayangku, namun ini hanya di mulut. My dear ini juga akan dikatakan ketika mau menceraikannya dan mengatakan, my dear aku ingin menceraikanmu! Yakni sia-sia. “kata aziz” yang berarti yang mulia atau sayang” yang kita ucapkan di kalangan kita  “azizam (sayangku)” yang di dalamnya tersimpan semua makna  kemuliaan (sayang), tidak ada sama sekali di dalam “my dear” inggris yang populer di dunia.

 

Mereka juga memiliki dua anak yang masih sekolah SD atau SMA, misalnya. namun anak-anak mereka tidak banyak menyaksikan keluarganya saling bertemu dan berkumpul. Tidak seperti kita yang duduk kumpul bersama di depan hidangan makan, yang satu mengatakan, ambilkan roti! yang satu bilang, ambilkan aku makanan! anggota keluarga yang satunya mengatakan, eh, mana punyaku? Ini adalah suasana yang indah dan menarik. Atau mengapa makanannya demikian? Mengapa engkau tidak masak makanan yang itu? Atau malam nanti masaklah spaghetti! Mereka tidak punya suasana seperti ini. Seorang ibu di tempat kerjanya membeli dan makan sandwich, suaminya bersikap lain lagi, anak-anak mereka terlantar, apa saja yang didapatkannya. Membeli dan makan hal-hal yang saat ini populer. Makan di sekolah dan di luar sekolah, jalan-jalan ke sana ke mari lalu kembali ke rumah. Bila ayah dan ibu tidak ada di rumah, mereka pergi keluar dan atau duduk nonton televisi. Untuk menertibkan kondisi, karena mereka sendiri juga memahami bahwa kondisinya sangat buruk, mereka menentukan jam-jam tertentu agar anggota keluarga berkumpul di rumah. Yakni sebuah lingkungan rumah tangga perjanjian dan dibuat-buat. Sebuah lingkungan dimana sang suami senantiasa melihat jamnya, sehingga misalnya jangan sampai terlambat datang dalam perjanjian dengan teman-temannya, mau nonton bioskop, punya perkumpulan malam; istri juga lain lagi modelnya. Anak-anaknya juga ada janji dengan teman-temannya. Semuanya masing-masing tidak tenang ingin segera melepaskan diri dari pertemuan keluarga ini. Yakni kekacauan rumah tangga telah sampai di sini.  

 

Lantas sebagian koran menulis seenaknya, misalnya di negara kita perceraian begini, perceraian begitu. Iya. Katakan saja percerian banyak terjadi. Ini mungkin saja terjadi karena sikap-sikap bodoh. Tapi bukan berarti karena adanya fenomena yang benar-benar berbahaya seperti yang ada di Barat. Kita, alhamdulillah di dalam negeri kita sendiri masih memiliki sumber pengikat kasih sayang di dalam rumah tangga kita. Selama jaminan rumah tangga berupa dorongan seksual ini hanya diterapkan di dalam rumah tangga dimana suami dan istri karena hal itu, satu sama lainnya saling membutuhkan, maka pada saat itu “Ahraza Nishfa Dinihi” setengah dari agamanya akan terjaga. Karena syahwat seksuallah yang merampok setengah dari agama manusia. Ini adalah kenyataan yang sangat menyedihkan di mana setengah dari agama seseorang kapan saja dan dengan cara apa saja dirampok oleh dorongan seksual di pelbagai tahapan usianya, dari masa remaja sampai masa tua. Ketika kalian mampu menahan dorongan seksual dan setan yang berpengaruh ini dan kapan saja kalian membutuhkan dan mengeluarkannya sebagian dan menerapkannya di dalam rumah tangga, maka ia akan memberikan sistem rumah tangga yang benar kepada kalian. Sekarang, sebagaimana yang sudah saya sampaikan, orang-orang yang berakal harus perhatian bahwa bila dalam ajaran agama dikatakan tentang mahram dan non mahram, atau misalnya wanita jangan keluar dengan dandanan dan jangan berbicara dengan memamerkan diri di depan lelaki non mahram, atau lelaki jangan sampai memandang wanita dengan pandangan kotor; semuanya ini untuk apa? Semuanya ini tujuannya agar fondasi rumah tangga kecil yang kalian bangun menjadi kokoh. Bukan seorang wanita yang mata dan hatinya tertuju pada tempat lain, bukan juga lelaki yang mata dan hatinya berputar-putar ke tempat lain. Semua ini untuk mengokohkan rumah tangga. (11/7/81) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

 

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.   

Add comment


Security code
Refresh