Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian

Beberapa waktu lalu, saya bersama salah satu teman berbicara mengenai syubhat dan penyimpangan yang dialamtkan kepada mazhab Syiah dan Islam di jejaring sosial. Ia mengungkapkan salah satu syubhat yang dilontarkan Wahhabi dan berhata, “Menurutmu seseorang yang mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan, apakah dapat berpaling kepada selain Tuhan dan meminta hajat (kebutuhan) darinya?” Aku bertanya kepadanya, Apa maksud pertanyaanmu ini? Ia berkata, umat Syiah meminta hajatnya dari para Imam mereka dan mengakuinya sebagai pemberi syafaat, apakah ini bukan syirik? Bukankan setiap manusia ketika memohon hajatnya kepada Tuhan, mereka pasti dikabulkan dan tidak membutuhkan sarana lainnya?

Rabu, 20 Januari 2016 14:55

Hubungan Antara Fiqih dan Seni

Sekarang bukan rahasia lagi bahwa seni merupakan media penyampai pesan efektif untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam surat al-Maidah ayat 67 disebutkan:

یَا أَیُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَیْکَ مِن رَّبِّکَ

Yang artinya: “Wahai Rasul sampaikanlah (kepada masyarakat) apa yang telah diwahyukan Tuhanmu.” Itu adalah suara malaikat pembawa wahyu yang terdengar di telinga dan kalbu Rasulullah Saw. Pada waktu itu, Nabi Muhammad Saw, Rasul dan penjaga amanat Allah Swt itu gelisah. Tampaknya ada yang beliau khawatirkan. Beliau mengkhawatirkan masa depan Islam. Oleh karena itu, penyampaian pesan tersebut ditangguhkan, sampai pada saat yang tepat. Namun sang pembawa wahyu Allah Swt, malaikat Jibril, kembali turun dan menyampaikan kembali ayat yang telah disebutkan. Kemudian dengan nada lebih serius Jibril berkata:

وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Dan jika tidak kau lakukan maka tidak pula kau sampaikan risalah [agama]-Nya”

 

Selanjutnya untuk menenangkan hati Rasulullah Saw yang telah dengan segenap jiwa dan raga berjuang demi Islam, malaikat Jibril berkata:

وَاللّهُ یَعْصِمُکَ مِنَ النَّاسِ

“Dan Allah [Swt] akan menjagamu dari [gangguan] masyarakat.”

 

Pada tahun ke-10 Hijriah Rasulullah Saw mengumumkan akan menunaikan haji dan mengimbau masyarakat yang mampu untuk menyertai beliau, karena akan ada ketetapan penting dalam hukum Islam yang hingga kini belum disampaikan secara sempurna dan resmi kepada masyarakat. Salah satunya adalah masalah haji dan berikutnya adalah masalah kepemimpinan dan penerus sepeninggal beliau.

 

Setelah pengumuman dari Rasulullah Swt itu, mayoritas umat Islam berduyun-duyun menuju Mekkah untuk mempelajari perincian haji dari Rasulullah Saw. Selain itu, Rasulullah Saw juga menyebutkan bahwa tahun itu adalah tahun terakhir kehidupan beliau. Atas pertimbangan itu pula, jumlah orang yang menyertai haji Rasulullah Saw mencapai 120.000 orang. Rasulullah Saw melaksanakan manasik haji satu per satu dan juga menjelaskan amalan wajib dan mustahabnya kepada masyarakat.

 

Di Mina, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah panjang kepada masyarakat. Pada bagian awal khutbah itu, Nabi Muhammad Saw menyinggung keamanan sosial umat Islam dari sisi nyawa, harta dan kehormatan. Kemudian beliau mengampuni darah yang tertumpah dan harta yang terampas di era jahiliyah agar tidak ada lagi dendam dan permusuhan sehingga terwujud keamanan dalam masyarakat Islam. Rasulullah Saw memperingatkan masyarakat soal ancaman perpecahan sepeninggal beliau dan menyampaikan hadis yang terkenal dengan nama hadis Tsaqalain. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku akan tinggalkan untuk kalian dua hal, kitab Allah Swt (al-Quran) dan itrahku (Ahlul Bait as), jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan pernah tersesat.”

 

Pada hari ketiga di Mina, kembali Rasulullah Saw menginstruksikan masyarakat berkumpul di masjid Khaif. Di sana, Rasulullah kembali menyampaikan khutbah. Pada khutbah itu beliau menekankan keikhlasan dalam amal, kecintaan kepada imam umat Islam serta menghindari perpecahan serta keseteraan semua orang di hadapan hukum dan ketetapan Allah Swt. Kemudiah beliau memaparkan pentingnya kepemimpinan sepeninggal beliau dengan mengulang hadis Tsaqalain.

 

Rasulullah Saw yang jauh dari tanah kelahirannya, akhirnya setelah 10 tahun menginjakkan kaki di Mekkah. Oleh karena itu, diperkirakan setelah menyelesaikan manasik haji, Rasulullah Saw akan berada di Mekkah selama beberapa waktu. Namun tidak demikian. Setelah semua manasik haji terlaksana, Rasulullah Saw memanggil muadzin beliau yaitu Bilal Habasyi, untuk menyeru kepada masyarakat untuk bergerak meninggalkan kota Mekkah. Masyarakat pun menyertai Rasulullah Saw meninggalkan Mekkah. Bahkan para hujjaj dari Yaman yang jalur perjalanan pulang mereka menuju ke arah utara, tidak meninggalkan Rasulullah.

 

Ketika rombongan Rasulullah Saw sampai di wilayah Kura’ al-Ghamim, di mana Ghadir Khum juga di wilayah itu, Nabi Muhammad Saw bersabda:

Selasa, 11 Agustus 2015 08:34

Manfaat Ukiran Pada Batu dan Sebagian Hiriz

Bab pertama: ukiran pada batu akik dan mafaatnya

 

a-Melindungi dari kematian buruk dan agar meninggalkan dunia dengan iman

 

Ukiran cincin Rasulullah Saw

 

Abdullah bin Sinnan mengatakan, kami sedang berbicara dengan imam as tentang cincin Rasulullah Saw dan beliau mengatakan: “Apakah kau ingin aku tunjukkan?” Aku menjawab: iya. Kemudian beliau menyuruhku untuk mengambil kantong stampel dari dalam rumah. Kemudian imam membuka kantung itu mengambil satu cincin yang terbuat dari perak dan dengan batu berwarna hitam berukir:

 

Selasa, 02 Juni 2015 07:24

Ukiran Cincin Para Nabi as

Memakai cincin sebagai perhiasan merupakan hal yang lumrah dalam budaya kita, namun pada hakikatnya masih sedikit informasi soal bagaimana para nabi dan imam maksum as memakai cincin, khususnya ukiran pada cincin. Mengingat memakai cincin berukir zikir atau ayat tertentu tidak lazim dalam budaya masyarakat kita dikarenakan berbagai faktor.

Para imam maksum as adalah pemimpin agama kita dan semua ucapan serta amal mereka adalah sarana  bagi kemajuan, hidayah dan berharga untuk mencapai tujuan dunia dan akhirat.

Beberapa waktu lalu, saya bersama salah satu teman berbicara mengenai syubhat dan penyimpangan yang dialamtkan kepada mazhab Syiah dan Islam di jejaring sosial. Ia mengungkapkan salah satu syubhat yang dilontarkan Wahhabi dan berhata, “Menurutmu seseorang yang mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan, apakah dapat berpaling kepada selain Tuhan dan meminta hajat (kebutuhan) darinya?” Aku bertanya kepadanya, Apa maksud pertanyaanmu ini? Ia berkata, umat Syiah meminta hajatnya dari para Imam mereka dan mengakuinya sebagai pemberi syafaat, apakah ini bukan syirik? Bukankan setiap manusia ketika memohon hajatnya kepada Tuhan, mereka pasti dikabulkan dan tidak membutuhkan sarana lainnya?

Rabu, 20 Januari 2016 14:55

Hubungan Antara Fiqih dan Seni

Sekarang bukan rahasia lagi bahwa seni merupakan media penyampai pesan efektif untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam surat al-Maidah ayat 67 disebutkan:

یَا أَیُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَیْکَ مِن رَّبِّکَ

Yang artinya: “Wahai Rasul sampaikanlah (kepada masyarakat) apa yang telah diwahyukan Tuhanmu.” Itu adalah suara malaikat pembawa wahyu yang terdengar di telinga dan kalbu Rasulullah Saw. Pada waktu itu, Nabi Muhammad Saw, Rasul dan penjaga amanat Allah Swt itu gelisah. Tampaknya ada yang beliau khawatirkan. Beliau mengkhawatirkan masa depan Islam. Oleh karena itu, penyampaian pesan tersebut ditangguhkan, sampai pada saat yang tepat. Namun sang pembawa wahyu Allah Swt, malaikat Jibril, kembali turun dan menyampaikan kembali ayat yang telah disebutkan. Kemudian dengan nada lebih serius Jibril berkata:

وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Dan jika tidak kau lakukan maka tidak pula kau sampaikan risalah [agama]-Nya”

 

Selanjutnya untuk menenangkan hati Rasulullah Saw yang telah dengan segenap jiwa dan raga berjuang demi Islam, malaikat Jibril berkata:

وَاللّهُ یَعْصِمُکَ مِنَ النَّاسِ

“Dan Allah [Swt] akan menjagamu dari [gangguan] masyarakat.”

 

Pada tahun ke-10 Hijriah Rasulullah Saw mengumumkan akan menunaikan haji dan mengimbau masyarakat yang mampu untuk menyertai beliau, karena akan ada ketetapan penting dalam hukum Islam yang hingga kini belum disampaikan secara sempurna dan resmi kepada masyarakat. Salah satunya adalah masalah haji dan berikutnya adalah masalah kepemimpinan dan penerus sepeninggal beliau.

 

Setelah pengumuman dari Rasulullah Swt itu, mayoritas umat Islam berduyun-duyun menuju Mekkah untuk mempelajari perincian haji dari Rasulullah Saw. Selain itu, Rasulullah Saw juga menyebutkan bahwa tahun itu adalah tahun terakhir kehidupan beliau. Atas pertimbangan itu pula, jumlah orang yang menyertai haji Rasulullah Saw mencapai 120.000 orang. Rasulullah Saw melaksanakan manasik haji satu per satu dan juga menjelaskan amalan wajib dan mustahabnya kepada masyarakat.

 

Di Mina, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah panjang kepada masyarakat. Pada bagian awal khutbah itu, Nabi Muhammad Saw menyinggung keamanan sosial umat Islam dari sisi nyawa, harta dan kehormatan. Kemudian beliau mengampuni darah yang tertumpah dan harta yang terampas di era jahiliyah agar tidak ada lagi dendam dan permusuhan sehingga terwujud keamanan dalam masyarakat Islam. Rasulullah Saw memperingatkan masyarakat soal ancaman perpecahan sepeninggal beliau dan menyampaikan hadis yang terkenal dengan nama hadis Tsaqalain. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku akan tinggalkan untuk kalian dua hal, kitab Allah Swt (al-Quran) dan itrahku (Ahlul Bait as), jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan pernah tersesat.”

 

Pada hari ketiga di Mina, kembali Rasulullah Saw menginstruksikan masyarakat berkumpul di masjid Khaif. Di sana, Rasulullah kembali menyampaikan khutbah. Pada khutbah itu beliau menekankan keikhlasan dalam amal, kecintaan kepada imam umat Islam serta menghindari perpecahan serta keseteraan semua orang di hadapan hukum dan ketetapan Allah Swt. Kemudiah beliau memaparkan pentingnya kepemimpinan sepeninggal beliau dengan mengulang hadis Tsaqalain.

 

Rasulullah Saw yang jauh dari tanah kelahirannya, akhirnya setelah 10 tahun menginjakkan kaki di Mekkah. Oleh karena itu, diperkirakan setelah menyelesaikan manasik haji, Rasulullah Saw akan berada di Mekkah selama beberapa waktu. Namun tidak demikian. Setelah semua manasik haji terlaksana, Rasulullah Saw memanggil muadzin beliau yaitu Bilal Habasyi, untuk menyeru kepada masyarakat untuk bergerak meninggalkan kota Mekkah. Masyarakat pun menyertai Rasulullah Saw meninggalkan Mekkah. Bahkan para hujjaj dari Yaman yang jalur perjalanan pulang mereka menuju ke arah utara, tidak meninggalkan Rasulullah.

 

Ketika rombongan Rasulullah Saw sampai di wilayah Kura’ al-Ghamim, di mana Ghadir Khum juga di wilayah itu, Nabi Muhammad Saw bersabda:

Selasa, 11 Agustus 2015 08:34

Manfaat Ukiran Pada Batu dan Sebagian Hiriz

Bab pertama: ukiran pada batu akik dan mafaatnya

 

a-Melindungi dari kematian buruk dan agar meninggalkan dunia dengan iman

 

Ukiran cincin Rasulullah Saw

 

Abdullah bin Sinnan mengatakan, kami sedang berbicara dengan imam as tentang cincin Rasulullah Saw dan beliau mengatakan: “Apakah kau ingin aku tunjukkan?” Aku menjawab: iya. Kemudian beliau menyuruhku untuk mengambil kantong stampel dari dalam rumah. Kemudian imam membuka kantung itu mengambil satu cincin yang terbuat dari perak dan dengan batu berwarna hitam berukir:

 

Selasa, 02 Juni 2015 07:24

Ukiran Cincin Para Nabi as

Memakai cincin sebagai perhiasan merupakan hal yang lumrah dalam budaya kita, namun pada hakikatnya masih sedikit informasi soal bagaimana para nabi dan imam maksum as memakai cincin, khususnya ukiran pada cincin. Mengingat memakai cincin berukir zikir atau ayat tertentu tidak lazim dalam budaya masyarakat kita dikarenakan berbagai faktor.

Para imam maksum as adalah pemimpin agama kita dan semua ucapan serta amal mereka adalah sarana  bagi kemajuan, hidayah dan berharga untuk mencapai tujuan dunia dan akhirat.

Beberapa waktu lalu, saya bersama salah satu teman berbicara mengenai syubhat dan penyimpangan yang dialamtkan kepada mazhab Syiah dan Islam di jejaring sosial. Ia mengungkapkan salah satu syubhat yang dilontarkan Wahhabi dan berhata, “Menurutmu seseorang yang mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan, apakah dapat berpaling kepada selain Tuhan dan meminta hajat (kebutuhan) darinya?” Aku bertanya kepadanya, Apa maksud pertanyaanmu ini? Ia berkata, umat Syiah meminta hajatnya dari para Imam mereka dan mengakuinya sebagai pemberi syafaat, apakah ini bukan syirik? Bukankan setiap manusia ketika memohon hajatnya kepada Tuhan, mereka pasti dikabulkan dan tidak membutuhkan sarana lainnya?

Rabu, 20 Januari 2016 14:55

Hubungan Antara Fiqih dan Seni

Sekarang bukan rahasia lagi bahwa seni merupakan media penyampai pesan efektif untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam surat al-Maidah ayat 67 disebutkan:

یَا أَیُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَیْکَ مِن رَّبِّکَ

Yang artinya: “Wahai Rasul sampaikanlah (kepada masyarakat) apa yang telah diwahyukan Tuhanmu.” Itu adalah suara malaikat pembawa wahyu yang terdengar di telinga dan kalbu Rasulullah Saw. Pada waktu itu, Nabi Muhammad Saw, Rasul dan penjaga amanat Allah Swt itu gelisah. Tampaknya ada yang beliau khawatirkan. Beliau mengkhawatirkan masa depan Islam. Oleh karena itu, penyampaian pesan tersebut ditangguhkan, sampai pada saat yang tepat. Namun sang pembawa wahyu Allah Swt, malaikat Jibril, kembali turun dan menyampaikan kembali ayat yang telah disebutkan. Kemudian dengan nada lebih serius Jibril berkata:

وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Dan jika tidak kau lakukan maka tidak pula kau sampaikan risalah [agama]-Nya”

 

Selanjutnya untuk menenangkan hati Rasulullah Saw yang telah dengan segenap jiwa dan raga berjuang demi Islam, malaikat Jibril berkata:

وَاللّهُ یَعْصِمُکَ مِنَ النَّاسِ

“Dan Allah [Swt] akan menjagamu dari [gangguan] masyarakat.”

 

Pada tahun ke-10 Hijriah Rasulullah Saw mengumumkan akan menunaikan haji dan mengimbau masyarakat yang mampu untuk menyertai beliau, karena akan ada ketetapan penting dalam hukum Islam yang hingga kini belum disampaikan secara sempurna dan resmi kepada masyarakat. Salah satunya adalah masalah haji dan berikutnya adalah masalah kepemimpinan dan penerus sepeninggal beliau.

 

Setelah pengumuman dari Rasulullah Swt itu, mayoritas umat Islam berduyun-duyun menuju Mekkah untuk mempelajari perincian haji dari Rasulullah Saw. Selain itu, Rasulullah Saw juga menyebutkan bahwa tahun itu adalah tahun terakhir kehidupan beliau. Atas pertimbangan itu pula, jumlah orang yang menyertai haji Rasulullah Saw mencapai 120.000 orang. Rasulullah Saw melaksanakan manasik haji satu per satu dan juga menjelaskan amalan wajib dan mustahabnya kepada masyarakat.

 

Di Mina, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah panjang kepada masyarakat. Pada bagian awal khutbah itu, Nabi Muhammad Saw menyinggung keamanan sosial umat Islam dari sisi nyawa, harta dan kehormatan. Kemudian beliau mengampuni darah yang tertumpah dan harta yang terampas di era jahiliyah agar tidak ada lagi dendam dan permusuhan sehingga terwujud keamanan dalam masyarakat Islam. Rasulullah Saw memperingatkan masyarakat soal ancaman perpecahan sepeninggal beliau dan menyampaikan hadis yang terkenal dengan nama hadis Tsaqalain. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku akan tinggalkan untuk kalian dua hal, kitab Allah Swt (al-Quran) dan itrahku (Ahlul Bait as), jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan pernah tersesat.”

 

Pada hari ketiga di Mina, kembali Rasulullah Saw menginstruksikan masyarakat berkumpul di masjid Khaif. Di sana, Rasulullah kembali menyampaikan khutbah. Pada khutbah itu beliau menekankan keikhlasan dalam amal, kecintaan kepada imam umat Islam serta menghindari perpecahan serta keseteraan semua orang di hadapan hukum dan ketetapan Allah Swt. Kemudiah beliau memaparkan pentingnya kepemimpinan sepeninggal beliau dengan mengulang hadis Tsaqalain.

 

Rasulullah Saw yang jauh dari tanah kelahirannya, akhirnya setelah 10 tahun menginjakkan kaki di Mekkah. Oleh karena itu, diperkirakan setelah menyelesaikan manasik haji, Rasulullah Saw akan berada di Mekkah selama beberapa waktu. Namun tidak demikian. Setelah semua manasik haji terlaksana, Rasulullah Saw memanggil muadzin beliau yaitu Bilal Habasyi, untuk menyeru kepada masyarakat untuk bergerak meninggalkan kota Mekkah. Masyarakat pun menyertai Rasulullah Saw meninggalkan Mekkah. Bahkan para hujjaj dari Yaman yang jalur perjalanan pulang mereka menuju ke arah utara, tidak meninggalkan Rasulullah.

 

Ketika rombongan Rasulullah Saw sampai di wilayah Kura’ al-Ghamim, di mana Ghadir Khum juga di wilayah itu, Nabi Muhammad Saw bersabda:

Selasa, 11 Agustus 2015 08:34

Manfaat Ukiran Pada Batu dan Sebagian Hiriz

Bab pertama: ukiran pada batu akik dan mafaatnya

 

a-Melindungi dari kematian buruk dan agar meninggalkan dunia dengan iman

 

Ukiran cincin Rasulullah Saw

 

Abdullah bin Sinnan mengatakan, kami sedang berbicara dengan imam as tentang cincin Rasulullah Saw dan beliau mengatakan: “Apakah kau ingin aku tunjukkan?” Aku menjawab: iya. Kemudian beliau menyuruhku untuk mengambil kantong stampel dari dalam rumah. Kemudian imam membuka kantung itu mengambil satu cincin yang terbuat dari perak dan dengan batu berwarna hitam berukir:

 

Selasa, 02 Juni 2015 07:24

Ukiran Cincin Para Nabi as

Memakai cincin sebagai perhiasan merupakan hal yang lumrah dalam budaya kita, namun pada hakikatnya masih sedikit informasi soal bagaimana para nabi dan imam maksum as memakai cincin, khususnya ukiran pada cincin. Mengingat memakai cincin berukir zikir atau ayat tertentu tidak lazim dalam budaya masyarakat kita dikarenakan berbagai faktor.

Para imam maksum as adalah pemimpin agama kita dan semua ucapan serta amal mereka adalah sarana  bagi kemajuan, hidayah dan berharga untuk mencapai tujuan dunia dan akhirat.