Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 29 Januari 2014 17:35

Imam Khomeini: Kebebasan dalam Islam (Bagian Kedelapan)

Imam Khomeini: Kebebasan dalam Islam (Bagian Kedelapan)

Kebebasan Berpikir dan Berpendapat

Dalam pemerintahan Islam, semua orang memiliki kebebasan dan bebas memiliki akidah apapun, tapi mereka tidak punya kebebasan untuk merusak.

(Sahifah Imam, jilid 4, hal 435)

* * *

Di Republik Islam Iran, setiap orng memiliki kebebasan memiliki akidah dan berpendapat. Tapi kami tidak akan membiarkan seorangpun atau kelompok yang berafiliasi kepada kekuatan-kekuatan asing untuk berkhianat.

(Sahifah Imam, jilid 5, hal 139)

* * *

Semua media bebas, kecuali tulisan yang membahayakan kondisi negara.

(Sahifah Imam, jilid 5, hal 416)

* * *

Dalam Islam sudah ada yang namanya demokrasi dan masyarakat memiliki kebebasan dalam Islam; baik dalam berpendapat atau berbuat. Tentu saja kebebasan itu selama tidak ada konspirasi buruk dan tidak menyampaikan hal-hal yang menyimpangkan generasi Iran.

(Sahifah Imam, jilid 5, hal 468)

* * *

Islam menjamin kebebasan, kemendirian dan keadilan. Islam tidak membedakan antara pribadi tertinggi di pemerintahan dengan rakyat lainnya, bahkan ia harus lebih sedikit dalam menggunakan materi. Kebebasan sudah ada sejak awal Islam. Sudah ada di masa para Imam Maksum as, bahkan di masa Nabi Muhammad Saw. Masyarakat bebas menyampaikan pendapatnya. Kita memiliki hujjah dan argumentasi. Siapa yang memiliki hujjah tidak pernah takut akan kebebasan berpendapat, tapi kami tidak akan membiarkan konspirasi.

(Sahifah Imam, jilid 6, hal 277)

* * *

Pena bebas menulis apa saja, selama tidak melakukan konspirasi. Pena bebas seperti juga koran bebas, selama mereka tidak menginginkan bangsa ini menjadi terkebelakang dan mengalami kerusakan. Pena di masa kini sama seperti tombak di masa lalu yang ingin merusak bangsa, tapi tentu saja bangsa Iran tidak akan menerima itu... Pena yang merusak tidak boleh merakan kebebasan.

(Sahifah Imam, jilid 10, hal 350)

* * *

Bila kita ingin mandiri, maka yang paling pertama harus dilakukan adalah membuat pikiran kita mandiri. Yakni, kita mulai memiliki pikiran yang bebas. Ada kebebasan berpikir dari luar, bila tidak ada yang menyerangnya, anggap saja ada kebebasan yang seperti itu, bila mereka membolehkannya. Tapi kebebasan berpikir adalah manusia bebas dalam pemikirannya dan berpikir tanpa memiliki kecenderungan pada satu pihak. Dalam masalah keilmuan harus seperti ini. Bila manusia bebas berpikir tentang masalah keilmuan, ia akan mengambil satu kesimpulan. Bila benak seseorang menghadapi satu masalah dan ia seperti benalu dalam melihat masalah, maka cara berpikirnya memiliki model lain dan kesimpulan yang diambil juga berbeda. Kesimpulan ilmiah kita juga saat ini tidak bebas. Kita harus membebaskan pemikiran kita, sehingga penyimpulan ilmiah yang diambil juga bebas.

(Sahifah Imam, jilid 11, hal 180)

* * *

Kami menginginkan kebebasan media, tapi mencegah pengkhianatan dan konspirasi secara serius dan tidak ada pengecualian. Setelah melewati tahapan kajian, media yang terbukti tidak berkonspirasi dan menentang gerakan bangsa dapat bebas melakukan aktivitasnya.

Jaksa dan hakim berkewajiban untuk mengkaji kembali media dan penulis. Setiap media yang ternyata tidak berkonspirasi dan menentang kepentingan bangsa harus diberikan izin untuk melakukan aktivitasnya, tapi mereka harus serius mencegah media yang menentang kepentingan bangsa dan negara.

(Sahifah Imam, jilid 9, hal 352) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Gozideh-i az Asar va Sireye Imam Khomeini ra; Azadi, Tehran, 1383 Hs, Moasseseh Tanzim va Nashr Asar Emam Khomeini.

Baca juga:

Imam Khomeini: Kebebasan dalam Islam (Bagian Ketujuh)

Imam Khomeini: Kebebasan dalam Islam (Bagian Keenam)

Add comment


Security code
Refresh