Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 22 Desember 2013 10:15

Mafatihul Hayah: Pendahuluan (Bagian 2)

Mafatihul Hayah: Pendahuluan (Bagian 2)

2. Supremasi kebenaran yang menjadi inti dari perjalanan keempat dari Asfar Arba'ah (Empat Perjalanan) terkadang muncul dalam cermin filsafat dan teologi, kadang terpantul pada politik, sosial, ekonomi, budaya dan yang semacamnya. Apa yang dibahasa dalam buku Mafatihul Hayah merupakan manifestasi kedua dan bukan yang pertama, pada filsafat dan teologi, sekalipun seorang pesalik dalam tahapan ini memiliki semua apa yang didapatkannya dalam segala tingkatan yang telah disebutkan, tapi berdasarkan eksistensi komprehensifnya, pesalik akan menyaksikan pribadi empat yang lain. Sebagaimana ia akan melihat identitas dirinya sebagai pribadi kelima. Tetapi disain sempurnanya membutuhkan derajat yang tinggi dan pembahasannya tidak di sini.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan supremasi kebenaran dalam perjalanan keempat tidak untuk mengevaluasi bentuk lahiriah dan manifestasi eksistensi, karena irfan merupakan ilmu yang bertanggung jawab membahasnya. Bukan pula kajian wajib dan mungkin (lebih umum dari kemungkinan Mahawi dan Faqri) yang dibahas dalam filsafat dan teologi. Tapi yang dimaksud adalah melindungi hak manusia dan tujuan penciptaan makhluk hidup dan benda mati, dimana setiap makhluk berada di posisinya dan dapat memanfaatkannya dengan benar serta diperhatikan secara khusus dalam sistem eksistensi. Ini dibahas dalam upaya menciptakan peradaban dan manajemen masyarakat. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Mafatih al-Hayah, Ayatullah Javadi Amoli, 1391 HS, Qom, Markaz Nashr-e Esra, cet 7.

Baca juga:

Mafatihul Hayah: Pendahuluan (Bagian 1)

Add comment


Security code
Refresh