Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 05 April 2016 07:00

Inilah Balasan Surat!

Inilah Balasan Surat!

“...Hai Hasan! Engkau sendiri tahu bahwa aku memerintah sebelum kamu dan pengalamanku dalam urusan masyarakat lebih dari kamu. Aku adalah seorang politikus yang berpengalaman dan dari sisi usia, aku lebih tua dari kamu...Ketahuilah, Engkau harus menerima ajakanku. Untuk itu datanglah dan taatilah aku dan sebagai gantinya aku akan menyerahkan kekhalifahan kepadamu setelahku. Selanjutnya aku akan menyerahkan harta baitulmal yang ada di Irak kepadamu. Ambillah harta itu dan pergilah ke mana saja Engkau mau. Begitu juga dengan pajak dari setiap provinsi di Irak adalah milikmu sehingga Engkau bisa menggunakannya sesuka hatimu tanpa perhitungan dan aku tidak akan mengizinkan siapapun menguasaimu. Semua urusan terserah kamu dan tidak ada seorangpun yang akan menentangmu...”

 

Begitu Imam Hasan as membaca surat Muawiyah, beliau tahu bahwa Muawiyah ingin menghina pemimpin umat Islam. Muawiyah benar-benar tahu bahwa putra Ali as tidak menyukai dunia dan harta kekayaan sama sekali. Dengan sikap seperti ini, Muawiyah ingin menuangkan racunnya kepada Imam Hasan dan menyakiti hatinya. Namun Imam Hasan tidak ingin membalasnya dan sebaiknya diam saja.

 

Setelah beberapa lama berlalu, Muawiyah kembali menulis surat untuk beliau dan kembali mengklaim bahwa ia ingin memperbaiki hubungannya dengan keluarga Rasulullah Saw dan memilih Hasan bin Ali sebagai pengganti setelahnya.

 

Kali ini Imam Hasan mengirim surat untuk Muawiyah yang tertulis: “Bismillahirrahmanirrahim. Amma Ba’du... Suratmu telah sampai kepadaku. Aku telah membacanya. Namun karena aku khawatir akan kezaliman dan kediktatoranmu, aku tidak membalasnya. Aku berlindung kepada Allah dari kediktatoranmu...Mari ikutilah kebenaran; karena Kau tahu aku adalah orang yang benar. Bila dalam hal ini Kau ragu, ketahuilah bahwa aku tidak pernah berbohong.”

 

Surat Imam Hasan sampai kepada Muawiyah dan dia tidak tahu harus bagaimana di hadapan balasan telak surat itu. Dari sejak saat itu, Muawiyah tidak pernah berani lagi mengirim surat seperti ini kepada Hasan bin Ali as! (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

 

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Hasan as.

Add comment


Security code
Refresh