Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 04 November 2014 08:25

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 1-2

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 1-2

Ayat ke 1

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)

 

Artinya:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (17: 1)

 

 

Surat ini dinamakan Isra yang berarti perjalanan terkait peristiwa perjalanan Nabi Muhammad Saw ke langit. Perjalanan ini diawali dari Mekah ke Masjidul Aqsa seperti yang telah disinggung ayat pertama dari surat ini. Lanjutan surat ini mengetengahkan tema-tema penting akidah dalam masalah tauhid, Hari Kebangkitan dan perlawanan terhadap kesyirikan, kezaliman dan penyimpangan.

 

Dalam peristiwa ini, perjalanan paling suci sepanjang sejarah sejatinya adalah perjalanan Rasulullah Saw ke langit dan kembalinya beliau ke bumi atau yang dikenal dengan nama Mikraj. Setelah melakukan perjalanan ini, beliau menyampaikan penyaksiannya atas keagungan langit. Camkan bagaimana Nabi Adam as diturunkan ke bumi disebabkan pembangkangannya kepada Allah, sementara Nabi Muhammad Saw justru dinaikkan ke langit dan membawa hakikat dan makrifat yang tinggi kepada manusia.

 

Berdasarkan riwayat-riwayat tentang Mikraj yang disampaikan Nabi Muhammad Saw kepada umat Islam, dalam perjalanannya beliau menyaksikan dari dekat surga dan neraka serta kondisi ahli surga dan neraka. Dalam perjalanan Mikraj, Nabi sempat bertemu dengan para nabi terdahulu dan menyaksikan keajaiban penciptaan dunia. Dasar perjalanan langit ini disepakati oleh seluruh umat Islam dan yang mengingkarinya berarti mengingkari prinsip agama. Mayoritas mazhab Islam meyakini perjalanan ini dilakukan dengan jasad dan hanya sebagian kecil yang menyebutnya hanya perjalanan rohani.

 

Sesuai penukilan hadis-hadis, peristiwa ini terjadi sebelum hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah. Saat itu Nabi Muhammad Saw baru saja selesai menunaikan shalat Maghrib di Masjidul Haram lalu meninggalkannya menuju Masjidul Aqsa. Dari sana dengan mengendarai kendaraan langit bernama Buraq beliau melewati lapisan-lapisan langit. Sekembalinya dari langit, Rasulullah Saw melaksanakan shalat Subuh di Masjidul Haram.

 

Perjalanan ini merupakan mukjizat ilahi. Karena dengan mencermati jauhnya jarak dari Mekah hingga ke Baitul Maqdis, sangat tidak mungkin membayangkan perjalanan sejauh itu dapat dilalui hanya semalam dengan menggunakan kendaraan yang biasa dipakai masa itu.

 

Namun yang menarik dari ayat pertama surat Al-Isra adalah penyebutan kata ‘abd yang berarti hamba untuk memperkenalkan Nabi Muhammad Saw dan bukannya menggunakan kata rasul atau nabi (utusan atau nabi). Ayat ini menyebutkan, “Kami menjalankan hamba Kami ke Masjidul Aqsa.” Penyebutan hamba sejatinya berasal dari ketinggian derajat penghambaannya di sisi Allah. Yakni, karena Nabi Muhammad Saw adalah hamba Allah yang ikhlas, Kami membawanya ke perjalanan Mikraj. Terlebih lagi dengan mencermati awal dan tempat perjalanan malakuti ini adalah masjid yang menjadi tempat penghambaan kepada Allah. Artinya, Allah membawa hamba-Nya dari tempat penghambaan ke langit.

 

Dari ayat tadi terdapat empat pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Penghambaan adalah pendahuluan untuk terbang dan memisahkan diri dari urusan materi menuju spiritual.

2. Malam hari adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karenanya, beribadah dan beristighfar di waktu malam mendapat perhatian lebih dalam Islam.

3. Masjid adalah tempat meluncur terbaik bagi orang yang beriman menuju spiritualitas.

4. Masjidul Aqsa adalah tempat suci yang harus dijaga oleh umat Islam.

 

Ayat ke 2

 

وَآَتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي ‎وَكِيلًا (2)

 

Artinya:

Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), "Janganlah kamu mengambil penolong selain aku.” (17: 2)

 

Setelah menjelaskan perjalanan Nabi Muhammad Saw ke Masjidul Aqsa, ayat ini mengatakan, “Sunnah ilahi sepanjang sejarah adalah memberi petunjuk masyarakat kepada tauhid dan penghambaan. Oleh karenanya, sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw Allah telah mengutus Nabi Musa as kepada Bani Israel. Nabi Musa as berdasarkan Kitab Taurat yang diturunkan Allah mengajak Bani Israel kepada Allah.”

 

Pengutusan para nabi dan penurunan kitab-kitab langit bertujuan menjauhkan masyarakat dari syirik dan menyeru mereka kepada tauhid. Tentu saja tidak cukup hanya dengan menyatakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, tapi tujuan paling penting adalah menyeru manusia kepada tauhid amali (tauhid perbuatan). Tauhid amali ini ditandai dengan terputusnya hati dari semua faktor-faktor materi di dunia ini dan hanya bergantung pada kekuatan mutlak ilahi. Itulah mengapa ayat selanjutnya mengatakan, “Kitab Taurat menyebut hanya Allah yang berpengaruh dalam pekerjaan dunia dan materi, Jangan bergantung pada siapa pun dan hanya kepada Allah kalian bertawakkal.”

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Inti seruan para nabi dan seluruh kitab langit adalah tauhid.

2. Dalam kehidupannya manusia senantiasa membutuhkan sandaran yang dipercaya. Di sini tugas para nabi adalah memperkenalkan Allah sebagai satu-satunya  sandaran yang hakiki. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh