Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 28 Oktober 2014 15:28

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 116-119

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 116-119

Ayat ke 116-117

 

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (117)

 

Artinya:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (16: 116)

 

(Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih. (16: 117)

 

 

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Allah Swt mengharamkan memakan sejumlah daging binatang. Kali ini, dua ayat ini kembali menyinggung orang-orang Musyrik. Ayat tadi menjelaskan, mengapa setiap sesuatu yang keluar dari mulut kalian berusaha menilai hukum Allah serta menghukumi halal dan haram sesuai dengan kehendak kalian? Bukankah kalian mengetahui bahwa perbuatan ini sama halnya dengan berdusta kepada Tuhan. Barangsiapa yang berdusta kepada Allah Swt, tidak akan mendapatkan keuntungan di dunia dan akherat. Tempat bagi orang-orang yang berdusta kepada Allah Swat adalah api neraka.

 

Pada dasarnnya, penjelasan ayat tersebut tidak hanya ditujukan pada orang-orang Musyrik di Mekah. Di dunia moderen saat ini, ada sejumlah pihak berupaya menyusun dan memutuskan undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah Swt. Kelompok seperti ini juga termasuk golongan yang menghalalkan hal yang diharamkan Allah Swt dan mengharamkan hal yang dihalalkan oleh Tuhan. Ayat yang dibacakan tadi juga mencakup kelompok ini. Kelompok seperti ini sama sekali tidak mencapai kebahagiaan dan ketakwaan.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Penentuan halal dan haram merupakan hak penuh Allah Swt. Sementara itu,

segala pendapat yang bertentangan dengan hukum Allah Swt adalah bidah.

2. Sumber bidah dan kebohongan pada hukum ilahi adalah berambisi mendapatkan kenikmatan dunia.

 

Ayat ke 118

 

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (118)

 

Artinya:

Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami harapkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu; dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetap merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (16: 118)

 

Seperti disebutkan dalam ayat sebelumnya yang menyingggung sejumlah hal yang haram dimakan, surat al-An’am ayat 147 juga menyebutkan binatang-binatang lainnya yang haram bagi umat Yahudi. Ayat tadi juga menyebutkan bahwa segala hal haram yang ditambahkan bagi orang-orang Yahudi adalah hukuman bagi mereka. Untuk itu, kami tidak mengharamkannya bagi selain Yahudi. Dengan ungkapan lain, hal-hal tersebut pada dasarnya tidaklah haram, namun itu menjadi haram sebagai peringatan terhadap perilaku orang-orang Yahudi. Untuk itu, hal itu tidak diharamkan bagi umat selain Yahudi.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Hukuman Tuhan tidak akan menyebabkan kezaliman bagi hamba-hamba-Nya. Sebab, resiko perbuatan dosa dan kezaliman hanya dikenakan pada hamba-hamba yang melakukannya.

2. Pengharaman Allah Swt mempunyai dua bentuk. Bentuk pertama adalah pengharaman permanen untuk seluruh ummat di setiap masa, sedangkan bentuk kedua adalah pengharaman permanen yang berlaku untuk kelompok tertentu di masa terbatas.

 

Ayat ke 119

 

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (119)

 

Artinya:

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu mengampuni bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan kerena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki dirinya; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16: 119)

 

Ayat yang baru saja dibacakan termasuk ayat-ayat kunci al-Quran mengenai taubat dan pengampunan dosa-dosa. Dalam ayat itu disebutkan, Allah Swt memberika kabar gembira kepada seluruh hamba-Nya bahwa barangsiapa yang melakukan perbuatan tercela karena kebodohan dan hawa nafsu, maka pintu taubat terbuka baginya. Jika seoarang hamba melakukan kesalahan seperti ini dan kemudian menyatakan penyesalannya di hadapan Allah Swt dan melakukan perbuatan baik dengan tidak mengulangi kesalahannya, maka Allah Swt pasti akan mengampuninya. Rahmat ilahi akan mencakup bagi orang-orang yang berbuat salah karena kebodohannya dan bertaubat tidak akan mengulanginya.

 

Hal yang menarik, istilah kebodohan disinggung dalam ayat ini dan dua ayat lainnya yang menyinggung masalah ini. Sangatlah jelas bahwa maksud dari kebodohan tersebut mempunyai pengertian tersendiri. Yang dimaksud adalah perbuatan tercela yang dilakukan manusia karena pengaruh hawa nafsu dan bisikan luar yang kemudian terlilit dalam dosa, dan setelah itu, disesalinya. Akan tetapi, seseorang yang terus melakukan dosa dan tidak menunjukkan rasa penyesalan akan dosanya tidak mencakup pengertian ayat ini yang menjelaskan rahmat ilahi bagi para pendosa.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dalam ajaran Islam, tidak ada istilah jalan buntu. Allah Swt selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya.

2. Taubat yang sebenarnya harus dibarengi dengan pembenahan diri. Untuk itu, tangisan dan penyesalan akan dosa tidaklah cukup. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh