Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 26 Oktober 2014 08:28

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 112-115

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 112-115

Ayat ke 112-113

 

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (112) وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (113)

 

Artinya:

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (16: 113)

 

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya, karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (16: 113)

 

 

Allah di ayat-ayat terakhir surat an-Nahl yang disebut surat pelbagai nikmat mengisyaratkan desa dan daerah yang memiliki banyak nikmat materi dan spiritual. Sebuah desa yang aman dari serangan musuh dengan rezeki yang melimpah. Sementara Allah juga mengutus nabi kepada mereka agar mendapat petunjuk dapat memilah hak dan batil. Namun masyarakat daerah itu malah mengingkari nikmat-nikmat ilahi yang ada. Mereka tidak memanfaatkan nikmat-nikmat yang ada secara benar, bahkan menggunakannya untuk bermaksiat dan berbuat dosa. Akhirnya mereka ditimpa azab ilahi yang sangat pedih.

 

Kini mereka tidak lagi memiliki nikmatnya merasa aman dalam kehidupan, sementara kelaparan senantiasa menghantui. Mereka juga menentang nabi yang diutus Allah guna menunjuki mereka ke jalan yang benar. Nabi Allah ditentang dan didustai. Oleh karenanya, Allah menurunkan azab-Nya berkali-kali lipat di dunia dan akhirat.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Sejarah punya aturan dan sunnah ilahi tidak pernah berubah baik dahulu, sekarang dan akan datang. Oleh karenanya, manusia harus mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu dan senantiasa bergerak di jalan Allah.

2. Mengingkari nikmat Allah akan disiksa di dunia ini dan mengakibatkan lenyapnya nikmat tersebut.

3. Kemiskinan dan ketidakamanan merupakan dampak dari ketidakpedulian masyarakat akan ajaran-ajaran agama.

 

Ayat ke 114

 

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (114)

 

Artinya:

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (16: 114)

 

Sebagai lanjutan ayat sebelumnya yang menjelaskan nasib orang-orang yang meningkari nikmat dan utusan Allah, ayat ini mengatakan, "Kalian harus mengambil pelajaran dari kelompok itu dan memanfaatkan nikmat-nikmat ilahi secara benar dan tepat. Pertama, karena makanan yang telah diharamkan kepada kalian harus ditinggalkan sama seperti meninggalkan minuman keras dan daging babi. Tidak memakai harta orang lain tidak pada tempatnya dan hanya makan dari makanan yang halal dan suci yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. Kedua, bersyukurlah kepada Allah akan nikmat-nikmat yang telah diberikan. Jadilah seorang hamba yang taat beribadah, berinfak kepada orang lain dan jangan biarkan orang-orang miskin begitu saja tanpa pertolonganmu."

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Islam agama yang sempurna dan tidak hanya memperhatikan masalah-masalah peribadatan. Islam punya program mengenai makanan hingga pakaian manusia.

2. Makanan tidak hanya untuk dinikmati, tapi untuk membantu manusia melaksanakan tanggung jawabnya. Bersyukur akan setiap nikmat berarti memanfaatkannya secara tepat guna.

 

Ayat ke 115

 

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (115)

 

Artinya:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16: 115)

 

Al-Quran dalam ayat ini mengajak manusia untuk menjaga keseimbangannya dalam memakan makanan. Tidak ekstrim kiri dan kanan. Oleh karenanya Allah menyebut makanan apa saja yang dapat dimakan. Al-Quran berdasarkan kebutuhan manusia mengatakan, "Kalian diperkenankan memakan daging, namun tidak setiap daging. Jauhkan diri kalian dari memakan daging yang dicekik, mati (bangkai) dan daging hewan yang tidak disembelih. Begitu juga kalian haram memakan daging hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah."

 

Dalam surat lain ada ayat yang isinya sama dengan ayat yang baru saja kita baca ini dan menjelaskan secara terperinci hewan yang halal dan haram dimakan.

 

Lanjutan ayat 115 surat an-Nahl ini berbunyi, "Bila kalian berada dalam kondisi sulit dan untuk mempertahankan hidup yang membuat kalian terpaksa memakan daging hewan yang diharamkan, Allah akan mengampuni kalian. Namun syaratnya kalian tidak memakannya melebihi batas darurat.”

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Filsafat pengharaman sebagian makanan tidak terbatas pada masalah kesehatan, tapi menjauhkan diri dari kekotoran seperti syirik dan ini menjadi tolok ukur utama pengharaman ilahi. Artinya, seorang muslim dalam hal makan juga harus dalam jalur tauhid.

2. Islam tidak pernah menemui jalan buntu. Dalam kondisi darurat, perbuatan dosa mendapat pengampunan. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh