Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 12 Oktober 2014 07:25

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 108-111

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 108-111

Ayat ke 108-109

 

أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (108) لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْآَخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (109)

 

Artinya:

Mereka Itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka Itulah orang-orang yang lalai. (16: 108)

 

Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. (16: 109)

 

 

Pada pertemuan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa salah satu pokok kekafiran yang disebutkan oleh al-Quran adalah ketamakan terhadap dunia dan memuja kenikmatan. Dalam ayat tadi, Allah Swt berfirman, “Orang yang terjebak dalam mentalitas seperti ini, dipastikan mata, telinga, dan hatinya, akan dipenuhi oleh kilau dunia dan hawa nafsu sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran. Orang-orang seperti ini tidak akan mengetahui masalah-masalah non-materi dan non-duniawi. Karena itu, mereka adalah orang-orang yang terlena oleh dunia dan lalai. Mereka tidak memiliki bekal untuk di kehidupan akhirat kelak dan mereka termasuk orang-orang yang merugi. “

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Jika perhatian terhadap dunia sedemikian besar hingga membuat orang lupa pada kehidupan akhirat, maka manusia akan terjauhkan dari rahmat dan hidayah Allah Swt.

2. Orang-orang yang merugi adalah mereka yang kehilangan dunia mereka dan bangkrut. Namun sesungguhnya orang yang paling merugi adalah mereka yang bangkrut di akhirat kelak dan mereka tidak memiliki kekayaan dan harta apapun di sana.

 

Ayat ke 110

 

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (110)

 

Artinya:

Dan Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16: 110)

 

Ayat ini berkenaan dengan masa pada awal munculnya Islam dan kepada kaum Muslim Mekkah yang berhijrah ke Madinah setelah menghadapai berbagai kesulitan dan penderitaan yang ditimbulkan oleh kaum musyrik. Dalam ayat sebelumnya, Allah Swt berfirman bahwa orang-orang yang karena menghadapi gangguan dari musuh terpaksa mengingkari Allah Swt secara verbal, pada hakikatnya mereka bukan orang kafir dan Allah Swt tidak akan menghukum mereka.

 

Dalam ayat ini Allah Swt berfirman: Allah Swt akan mengampuni orang-orang yang tidak tetap tinggal di Mekkah guna menghindari gangguan dari musuh dan ucapan ucapan kekufuran. Dalam kondisi ini mereka harus berhijrah dan menjaga iman mereka. Jelas dalam hijrah mereka harus menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan serta harus bersabar.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Ketika kita mendapatkan kesulitan untuk menjaga keyakinan kita di satu tempat, maka kita harus berhijrah ke tempat lain. Hukum ini menafikan alasan orang-orang yang mengaku terpaksa meninggalkan tugas-tugas agamanya karena kondisi.

2. Syarat untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Swt adalah kesabaran, komitmen, perjuangan, dan resistensi.

 

Ayat ke 111

 

يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَادِلُ عَنْ نَفْسِهَا وَتُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (111)

 

Artinya:

(ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan). (16: 111)

 

Seringkali manusia lupa akan hakikat eksistensinya dalam menggapai kesejahteraan dan kenikmatan dunia. Namun di akhirat nanti, manusia tidak memiliki apa-apa. Oleh karena itu, perhatian semua orang akan terpaku pada bagaimana mereka menyelamatkan diri mereka sendiri. Di akhirat kelak, manusia tidak memiliki apapun kecuali bekal amal ibadah mereka di dunia. Dan hanya karena amal di dunia pula mereka akan dihisab oleh Allah Swt.

 

Sebagian orang melemparkan dosanya kepada orang lain dan menilai para tokoh atau pemimpin masyarakat sebagai penyebabnya. Namun hal ini tidak dapat diterima karena setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing. Sejumlah orang lainnya menilai setan sebagai pihak yang bersalah. Padahal setan menolak tudingan tersebut dan mengatakan bahwa ia hanya membuat manusia was-was dan tidak pernah memaksa manusia untuk melakukan perbuatan dosa. Kesimpulannya adalah bahwa di akhirat nanti, manusia tidak dapat meminta bantuan dari siapapun dan apapun. Hanya amalnya yang akan menentukan nasibnya.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Pada Hari Kiamat nanti, setiap orang hanya akan memikirkan dirinya untuk mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya atau mencari jalan keluar. Namun upaya manusia itu akan sia-sia.

2. Seluruh perbuatan kita, kecil atau besar dan baik atau buruk, tidak akan hilang, semuanya tercatat dan akan kita saksikan kelak di hari kiamat. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh