Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 07 Oktober 2014 05:27

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 104-107

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 104-107

Ayat ke 104-105

 

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ لَا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (104) إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ (105)

 

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al-Quran) Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (16: 104)

 

 

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (16: 105)

 

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa satu dari sejumlah tuduhan yang dialamatkan para penentang kepada Rasulullah Saw menyebutk beliau memiliki seorang guru yang mengajarkan semua ini. Nabi Muhammad Saw diajarkan agar memperkenalkan ayat-ayat ilahi kepada masyarakat. Ayat ini mengatakan, "Orang kafir dan tersesat tidak dapat memanfaatkan hidayah. Oleh karenanya, ia tidak mampu memindahkan pengertian-pengertian tentang pemberian hidayah kepada Nabi Muhammad saw agar disampaikan kepada masyarakat. Sementara ayat-ayat al-Quran seluruh isinya memberi tuntunan kepada manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan mencapai kebahagiaan. Namun bagaimana orang yang tidak dapat memanfaatkan ajaran-ajaran tinggi ini mampu menjadi guru Nabi Muhammad Saw?"

 

Ayat selanjutnya mengatakan kepada nabi, "Tidak perlu bersedih dan gundah menghadapi tuduhan dan kebohongan semacam ini. Karena sumber dari tuduhan bohong itu kembali pada ketidakpercayaan mereka kepada Allah. Itulah mengapa mereka tidak akan pernah melepaskan diri dari menyatakan kebohongan."

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Hidayah hakiki yang dapat mengantarkan manusia kepada kebahagiaan hanya ada pada kitab langit dan iman kepada ayat-ayat ilahi. Hidayah hakiki tidak dapat ditemukan di tempat lain.

2. Seorang pembohong selalu membayangkan orang lain sama seperti dia suka berbohong dan berdasarkan khayalannya ia memperkenalkan orang lain sebagai pembohong.

 

Ayat ke 106

 

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (106)

 

Artinya:

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap terang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (16: 106)

 

Di masa permulaan Islam, para pemuka orang-orang Kafir Mekah melakukan penyiksaan keras terhadap mereka yang baru masuk Islam agar segera meninggalkan agama ini. Begitu berat siksaan yang dihadapi sehingga ayah dan ibu Ammar bin Yasir menjadi syahid pertama di jalan Islam. Ketika tiba giliran Ammar bin Yasir untuk disiksa, ia mengucapkan kekafiran, sementara dalam hatinya penuh keimanan yang kokoh kepada Nabi Muhammad Saw. Apa yang dilakukannya itu berhasil menyelamatkan nyawanya.

 

Menyaksikan kejadian ini, sebagian umat Islam menyudutkan dan menyebutnya telah keluar dari Islam. Tidak tahan mendengar pernyataan-pernyataan itu, Ammar bin Yasir menemui Rasulullah dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Mendengar semua itu Rasulullah Saw kemudian berkata, "Bila jiwamu kembali berada dalam bahaya, ucapkan lagi kalimat tersebut demi menyelamatkan nyawamu. Seluruh tubuhmu dipenuhi keimanan."

 

Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa perbuatan ini, demi melindungi nyawa dan tidak menyatakan akidah sesungguhnya disebut taqiyah. Pengertian taqiyah ini sejatinya adalah taktik untuk menyembunyikan perbuatan atau keimanan di hadapan musuh. Oleh karenanya, dalam riwayat-riwayat taqiyah diserupakan dengan tameng yang dapat menyelamatkan seorang manusia dari panah dan pukulan musuh.

 

Tentu saja bahwa dalam melindungi agama seseorang harus mengorbankan nyawanya. Hal mana yang dilakukan oleh Imam Husein as, anak-anak dan para sahabatnya. Oleh karena itu, taqiyah dilakukan saat prinsip agama tidak berada dalam bahaya dan tidak merusak agama. Sama seperti kalimat yang diucapkan oleh Ammar bin Yasir saat disiksa oleh orang-orang Kafir Mekah sama sekali tidak merugikan Islam dan umat Islam.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Manusia senantiasa berada dalam bahaya. Mereka yang ahli iman tidak boleh sombong. Karena banyak orang mukmin yang pada akhirnya menjadi kafir dan mati dalam keadaan demikian.

2. Kewajiban seseorang saat terpaksa bisa berubah. Bila ia dipaksa dan dibawah penyiksaan, ia boleh mengatakan yang bertentangan dengan keyakinannya dan itu tidak berarti ia telah mengikuti ucapannya.

 

Ayat ke 107

 

ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآَخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (107)

 

Artinya:

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk  kepada kaum yang kafir. (16: 107)

 

Bila di ayat sebelumnya membagi mereka yang mengingkari Allah dalam dua kelompok; pertama mereka yang menyatakan kekafiran akibat tekanan dan siksaan, namun hati mereka penuh dengan keimanan. Kedua, mereka yang memilih kekafiran dengan wajah tersenyum dan tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Sementara ayat yang baru saja kita simak bersama berbicara kepada kelompok kedua yang mendapat kemarahan Allah. Ayat menyebutkan, "Mereka sendiri yang menginginkan nasib yang demikian. Karena kehidupan sementara di dunia lebih mereka pilih ketimbang kehidupan abadi di akhirat. Mereka bergabung dengan orang-orang kafir dan tidak mendapat hidayah."

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Faktor utama kekafiran dan meninggalkan keimanan adalah terjerat akan kehidupan dunia.

2. Mereka yang menyembah dunia dan hanya mencari kesenangan tidak akan mendapatkan hidayah yang hakiki dan nasib mereka pada akhirnya adalah buruk. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh