Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 02 Oktober 2014 06:37

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 101-103

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 101-103

Ayat ke 101

 

وَإِذَا بَدَّلْنَا آَيَةً مَكَانَ آَيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (101)

 

Artinya:

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang mengada-adakan saja." Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. (16: 101)

 

 

Berdasarkan maslahat, Allah secara perlahan-lahan menurunkan hukum sebagian perbuatan. Hal ini dapat disaksikan dalam hukum pengharaman minum minuman keras yang diturunkan secara bertahap. Mereka yang menentang kebenaran Al-Quran menjadikan alasan bahwa perubahan hukum ini menjadi bukti hukum tersebut tidak diturunkan dari Allah, tapi Nabi Muhammad Saw yang mengeluarkan sendiri hukum tersebut. Oleh karenanya, setiap kali Nabi berkehendak, hukum itu pasti diubahnya.

 

Ayat ini mengatakan, "Setiap kali ayat baru yang memuat hukum baru diturunkan, para penentang yang tidak mengenal maslahat hukum ilahi bakal menuduh Nabi Muhammad Saw. Padahal Allah Swt lebih mengetahui dalam kondisi bagaimana menurunkan hukum dan bila kondisinya memungkinkan akan diubah." Dalam syariat Islam perubahan hukum ini disebut "naskh" dan tidak ada yang berhak mengubah hukum Allah.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Perubahan sejumlah hukum di masa permulaan Islam berdasarkan maslahat dan kebijakan dari sisi Allah.

2. Manusia tidak mengetahui rahasia hukum dan undang-undang ilahi. Oleh karenanya, mereka menyampaikan kritikan dan pertanyaan.

 

Ayat ke 102

 

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (102)

 

Artinya:

Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bari orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (16: 102)

 

Sebagai jawaban atas tuduhan orang-orang musyrik yang disebutkan di ayat sebelumnya, di mana mereka menuduh Nabi  Muhammad Saw ikut campur tangan dalam perubahan ayat-ayat dan hukum ilahi, ayat ini mengatakan, "Jawablah kepada mereka secara transparan bahwa semua ayat-ayat al-Quran diturunkan dengan benar dan jujur oleh Jibril, malaikat wahyu dan tidak ada kekurangan dan penyimpangan dalam al-Quran. Bila ada perubahan parsial di sejumlah hukum, hal itu untuk mempersiapkan orang-orang yang beriman mengamalkan kewajiban sementara agar lebih mudah melaksanakan kewajiban yang asli. Begitu juga penurunan hukum secara bertahan guna memperkuat keimanan mereka dan orang-orang yang keimanannya belum kuat dapat memperoleh hidayah dan kabar gembira dengan cara ini.”

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kandungan al-Quran berisikan kebenaran dan hakikat. Kebenaran itu mulai dari model penurunan ayat-ayat al-Quran kepada Nabi Muhammad Saw hingga penyampaiannya kepada masyarakat. Semuanya berlangsung secara benar dan kokoh agar kebatilan tidak masuk ke dalamnya.

2. Derajat keimanan manusia berbeda-beda. Sekelompok orang beriman sebatas lisan dan sebagian lainnya merasuk hingga ke dalam hatinya. Al-Quran diturunkan kepada semua orang dan menjadi sumber hidayah dan kabar gembira.

 

Ayat ke 103

 

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ (103)

 

Artinya:

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, "Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahawa Ajam (non Arab). Sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang. (16: 103)

 

Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya tentang pelbagai tuduhan orang-orang yang menentang Rasulullah Saw, ayat ini mengatakan, "Sebagian orang yang mengingkari malah bertindak lebih jauh. Mereka tidak hanya mengatakan bahwa hanya ayat-ayat yang diubah saja yang termasuk buatan Nabi Muhammad Saw, tapi juga seluruh sl-Quran merupakan karya Nabi Muhammad Saw, bahkan isi dan bahasanya malah dinisbatkan kepada selain nabi. Mereka mengatakan, "Muhammad terlebih dahulu mempelajari masalah-masalah ini lalu kemudian mengaku sebagai nabi."

 

Pertanyaannya, mengapa orang yang mengajar Muhammad tidak mengaku dirinya sebagai nabi tetapi hanya muridnya yang mengaku nabi? Kedua, mereka yang disebut oleh orang-orang musyrik sebagai pengajar nabi seluruhnya berasal dari luar jazirah Arab dan mereka tidak mengenal bahasa Arab dengan fasih. Oleh karenanya, mereka tidak mampu membawakan yang sama seperti al-Quran, yang oleh teman dan musuh menyebut al-Quran sebagai mukjizat, bahkan sampai pada susunan katanya.

 

Mukjizat al-Quran malah membuat para pengingarnya menyebutnya sebagai sihir dan syair, sementara Nabi Muhammad saw dijuluki penyihir dan penyair. Untuk itu mereka menasihati masyarakat agar tidak mendengar ayat-ayat al-Quran yang dibacakan oleh Nabi Muhammad Saw. Karena tanpa sadar mereka yang mendengarnya langsung terpengaruh dan seperti tersihir.

 

Bila memang ada orang yang menjadi guru bagi nabi dan mengajarkan pelbagai masalah ini, pertanyaannya mengapa ia tidak memperkenalkan dirinya agar masyarakat mengenalnya dan mengimaninya. Pada prinsipnya bagaimana mungkin pernyataan tantangan yang disampaikan al-Quran bahwa "Tidak ada satu orang pun yang mampu mendatangkan satu surat seperti al-Quran", sampai sekarang tidak terjawab oleh seorang pun? Bagaimana dapat membayangkan sebuah kitab yang semua orang Arab non muslim tidak mampu membawakan satu surat, sementara seorang non Arab mengajarkan semuanya kepada Nabi?

 

Ini adalah sebagian dari pertanyaan-pernyataan yang sampai kini belum terjawab. Karena al-Quran juga tidak mirip dengan ucapan Nabi Muhammad Saw yang dikumpulkan dalam buku-buku hadis. Bila dibandingkan secara teliti, ayat-ayat al-Quran benar-benar berbeda dengan hadis nabi.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Mengenal pertanyaan dan ucapan orang-orang yang menentang Islam, harus disertai dengan memberikan jawaban yang tepat dan sesuai kepada mereka.

2. Kita harus waspada akan dampak propaganda luas para musuh agar tidak terjadi masalah dalam keimanan kita akan al-Quran. Kita harus berusaha agar menghilangkan setiap kerancuan yang ada dengan jawaban yang logis dan tepat. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh