Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 30 September 2014 06:25

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 97-100

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 97-100

Ayat ke 97

 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97)

 

Artinya:

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (16: 97)

 

 

Ayat ini meski pendek namun memiliki peran penting dalam menggambarkan kehidupan orang-orang Mukmin baik di dunia maupun di akhirat. Pertama-tama, ayat ini menyatakan bahwa iman merupakan tolok ukur keutamaan di sisi Allah Swt. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita. Mereka sama dalam pandangan Allah. Yang membedakan di antara mereka adalah tingkat keimanan yang mereka miliki. Dalam pandangan Allah, jenis kelamin tidak berpengaruh dalam meraih derajat keimanan, meski utusan Allah atau para nabi adalah laki-laki, namun kenabian ilahi adalah tanggung jawab dan tugas suci yang harus disampaikan ke seluruh umat manusia.

 

Tugas ini tidak mungkin dibebankan kepada kaum wanita mengingat keterbatasan kapasitas yang mereka miliki. Oleh karena itulah, Allah Swt menunjuk utusan-Nya dari golongan kaum laki-laki, namun untuk meraih derajat keimanan dan religius yang tinggi kaum wanita tidak mendapat batasan. Artinya, mereka juga mampu meraih derajat keimanan yang sempurna, seperti Sayidah Maryam yang berhasil mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah Swt, sehingga mendapat pelayanan istimewa berupa hidangan dari langit. Atau Sayidah Fathimah az-Zahra as yang berhasil mencapai derajat keimanan yang tinggi, hingga kedudukannya disamakan dengan Ali bin Abi Thalib as.

 

Keimanan saja tidak cukup untuk menentukan kesempurnaan dan derajat yang tinggi, namun diperlukan juga amal saleh. Iman dan amal saleh adalah tolok ukur kesempurnaan seseorang. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Amal saleh tidak terbatas pada tindakan tertentu, namun setiap perbuatan yang pada dasarnya memiliki kebaikan dan pelakunya meniatkan kebaikan saat mengerjakannya juga dapat disebut amal saleh, meski perbuatan tersebut sangat remeh dan kecil.

 

Dalam lanjutannya ayat ini mengatakan, mereka yang beriman dan beramal saleh akan mendapat kehidupan yang bersih di dunia. Mereka bebas dari segala kejelekan dan perbuatan nista. Selain itu Allah Swt menjaga mereka dari segala perbuatan yang menyeleweng dan maksiat. Adapun di akhirat mereka akan mendapat pahala lebih dari apa yang mereka perbuat di dunia. Karena Sunnatullah dalam pembalasan perbuatan maksiat berdasarkan keadilan, namun dalam hal pahala Allah mendahulukan kemurahan dankasih sayang. Dan hal ini telah disinggung dalam ayat ini.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Usia, jenis kelamin, etnis dan kedudukan sosial tidak mendapat perhatian di sisi Allah. Tolok ukur utama di sisi Allah adalah iman dan amal saleh.

2. Orang-orang Kafir tidak memiliki kehidupan yang bersih dan suci di dunia. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang mati. Karena kehidupan sejati hanya milik orang-orang beriman.

 

Ayat ke 98

 

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (98)

 

Artinya:

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (16: 98)

 

Meski ayat ini ditujukan kepada Rasulullah Saw, namun jelas bahwa seluruh Mukminin juga termasuk di dalamnya. Mengingat urgensitas masalah ini, maka yang menjadi obyek pembicaraan utama adalah Rasulullah Saw. Di dalam sebuah riwayat disebutkan, di saat Rasulullah Saw membaca al-Quran, beliau senantiasa mengucapkan kalimat “Audzu billahi minas Syaithanirrajim”, baik itu saat menunaikan shalat maupun tidak. Setiap perbuatan, baik bisa juga mengakibatkan hal yang tidak diinginkan, seperti membaca al-Quran. Terkadang perbuatan baik ini dibarengi dengan riya dan upaya untuk mengunggulkan diri atau adakalanya seseorang terjerumus kepada pemahaman yang salah dan berani menafsirkan al-Quran sesuai dengan pemikirannya sendiri atau sering disebut tafsir birrayu.

 

Oleh karena itu, di saat manusia membaca al-Quran, ia dianjurkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dari segala godaan setan karena hawa nafsu atau fanatik yang tidak pada tempatnya, kerap menghalangi manusia untuk memiliki kesiapan maknawi saat membaca al-Quran.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kita harus waspada dari godaan setan, meski di saat kita melakukan perbuatan baik seperti membaca al-Quran.

2. Kita harus meminta lindungan dari Allah dari godaan setan yang terkutuk.

 

Ayat ke 99-100

 

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (99) إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ (100)

 

Artinya:

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (16: 99)

 

Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (16: 100)

 

Dua ayat ini merupakan kelanjutan pembahasan ayat sebelumnya yang menggambarkan kepada kita untuk meminta perlindungan Allah Swt dari godaan setan. Ayat ini menyatakan, meski setan berusaha menguasasi hati orang-orang Mukmin, namun mereka yang bertawakal kepada Allah dan meminta perlindungan-Nya akan selamat dari godaan setan. Lanjutan ayat ini menyebutkan, sebenarnya setan hanya mampu menguasai mereka yang mempersekutukan Allah atau orang-orang Muslim yang mengikuti petunjuk setan. Karena tindakan orang muslim tersebut telah memberikan kesempatan setan menguasai dirinya. Dengan kata lain, orang-orang seperti ini, menganggap setan sebagai temannya dan menerima setiap petunjuk dan perintah setan. Karena jika tidak, maka Allah tidak akan mengizinkan setan untuk menguasai orang-orang Mukmin.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Awalnya setan tidak memiliki daya untuk menguasai manusia, namun manusia sendiri yang telah membimbing setan untuk menguasai diri mereka.

2. Orang mukmin sejati tidak akan dikuasai oleh setan. Iman adalah tameng yang kuat bagi seorang mukmin untuk mempertahankan dirinya dari serbuan setan. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh