Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 21 September 2014 09:25

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 85-89

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 85-89

Ayat ke 85-86

 

وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ ظَلَمُوا الْعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ (85) وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ أَشْرَكُوا شُرَكَاءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا هَؤُلَاءِ شُرَكَاؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُوا مِنْ دُونِكَ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ الْقَوْلَ إِنَّكُمْ لَكَاذِبُونَ (86)

 

Artinya:

Dan apabila orang-orang zalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak puIa mereka diberi tangguh. (16: 85)

 

Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain dari Engkau". Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang dusta". (16: 86)

 

 

Ayat tersebut menjelaskan kondisi orang-orang musyrik dan zalim di Hari Kiamat. Tidak ada keringanan azab bagi mereka. Disebutkan, segala alasan untuk kemusyrikan dan kekafiran mereka sama sekali tidak dapat diterima. Bahkan, berhala-berhala yang menyebabkan orang-orang musyrik terjebak dalam kesyirikan, di hari kiamat menyatakan lepas tangan dari mereka. Berhala-berhala tersebut kepada mereka mengatakan, “Kalian berbohong menyebut kami sebagai alasan penyebab kesyirikan. Tetapi sikap keras kepala dan hawa nafsu kalianlah yang menyebabkan berpaling dari ajaran Rasulullah saaw dan mengikuti kami. Pada dasarnya, kalian menyembah hawa nafsu kalian bukan menyembah kami.”

 

Berdasarkan riwayat, kondisi-kondisi di hari kiamat beraneka ragam. Ada yang mulutnya ditutup dan seluruh anggota tubuhnya bersaksi terhadap perbuatannya selama di dunia. Ada kondisi yang mempersilahkan seseorang untuk berbicara, namun segala upayanya untuk memohon ampunan, tidak dapat diterima. Ada yang menyalahkan setan dan menudingnya sebagai penyebab melakukan perbuatan dosa. Namun setan berkata, “Saya tidak memaksa kalian untuk berbuat dosa. Saya hanya sekedar membuat kalian was-was.”

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kezaliman dan kekufuran manusia adalah penyebab azab Ilahi. Allah Swt tidak mengazab seseorang tanpa alasan.

2. Berhala-berhala bersaksi di hari kiamata berlepas tangan dari perbuatan orang-orang musyrik, bahkan tidak ada alasan bagi mereka untuk berlindung.

 

Ayat ke 87-88

 

وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (87) الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ (88)

 

Artinya:

Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah. Pada hari itu hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. (16: 87)

 

Orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Kami tambah-tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (16: 88)

 

Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya, dua ayat ini menyinggung nasib akhir orang-orang musyrik di Hari Kiamat. Dikatakannya, lepas tangan berhala-berhala dari perilaku orang-orang musyrik membuat mereka tidak mempunyai solusi lain, kecuali harus mengakui perbuatan mereka. Orang-orang musyrik saat itu, sama sekali tidak menemukan tempat berlindung untuk menghindari azab ilahi.

 

Penjelasan tadi mengenai nasib orang-orang musyrik biasa. Adapun mereka yang mengajak masyarakat ke jalan kekufuran dan kesyirikan akan mendapat azab yang lebih besar dari orang-orang musyrik biasa. Sebab, selain diri mereka musyrik, juga menjadi penyebab kemusyrikan orang lain. Tentunya, perbuatan mereka akan mendapat azab dua kali lipat.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Mereka yang tak patuh terhadap perintah-perintah Allah Swt, akan tunduk di Hari Kiamat. Namun ketundukan mereka pada hari akhir tidaklah berguna.

2. Kekufuran dan kemusyrikan adalah penyebab kerusakan masyarakat. Para perusak di dunia bukan hanya orang-orang yang membuat kerusuhan dan menimbulkan instabilitas sosial, tapi juga termasuk orang-orang yang merusak pemikiran dan keyakinan seseorang, yakni penyebab kesesatan masyarakat. Menurut al-Quran, mereka tergolong orang-orang perusak di muka bumi atau mufsidin fil ardh.

 

Ayat ke 89

 

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلَاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (89)

 

Artinya:

Dan ingatlah akan hari ketika Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (16: 89)

 

Ayat tersebut menjelaskan dua poin penting. Pertama, kesaksian Rasulullah Saw di antara para saksi di Hari Kiamat menunjukkan posisi Rasulullah Saw di tengah para nabi dan para wali Allah Swt. Para nabi dan wali dengan izin Allah Swt menjadi saksi. Kedua, keagungan al-Quran dan peran besar kitab suci ini dalam membimbing umat manusia. Allah Swt menjadikan al-Quran sebagai penjelas segala masalah yang diperlukan untuk membedakan kebenaran dan kebatilan. Ini merupakan rahmat Ilahi bagi manusia. Akan tetapi hanya ummat Islam yang mengimani kitab al-Quran dan menggunakan kitab suci ini sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Pengawasan para wali terhadap perilaku hamba-hamba Allah Swt di dunia adalah perangkat mereka di Hari Kiamat.

2. Al-Quran adalah kitab sempurna dan komprehensif yang dibutuhkan manusia untuk mendapat petunjuk di kehidupan ini. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh