Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 18 September 2014 05:31

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 81-84

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 81-84

Ayat ke 81

 

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ (81)

 

Artinya:

Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (16: 81)

 

 

Setelah Allah menyebut nikmat-nikmat-Nya dalam ayat-ayat yang telah dijelaskan dalam pertemuan sebelumnya, ayat ini masih juga menyebut nikmat Allah yang lain. Nikmat pertama yang disebut dalam ayat ini adalah tempat bernaung. Nikmat tempat bernaung dapat dikenal dengan baik ketika ia tidak ada. Masalah ini kembali pada kekhususan benda-benda materi, selain kaca dan semacamnya, di mana cahaya tidak dapat melewatinya dan manusia saat istirahat dapat memanfaatkannya untuk melindungi dirinya dari panasnya matahari. Dengan kata lain, peran tempat bernaung dalam kehidupan manusia tidak kurang dari cahaya itu sendiri.

 

Nikmat kedua yang disebutkan dalam ayat ini mengenai goa kecil maupun besar yang berada di perut gunung. Ayat sebelum ini telah mengisyaratkan akan nikmat rumah bagi mereka yang tinggal di kota dan tenda bagi mereka yang tinggal di alam terbuka, sementara ayat ini menyebutkan satu tempat tinggal lain dan itu adalah goa di gunung. Di masa lalu manusia memanfaatkan goa sebagai tempat tinggalnya dan kini hanya dimanfaatkan oleh para penggembala untuk melindungi binatang gembalaan mereka dari sengatan terik matahari.

 

Nikmat ketiga yang disebutkan oleh ayat ke-81 surat an-Nahl adalah pakaian; baik itu pakaian biasa yang mampu melindungi manusia dari panas dan dingin atau pakaian militer yang melindungi manusia dari panah atau peluru musuh. Semua ini adalah nikmat ilahi. Karena materi awalnya diciptakan oleh Allah dan kemampuan manusia dalam menjahitnya juga berasal dari Allah.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Semua yang ada di dunia ini adalah nikmat Allah; cahaya, tempat bernaung, rumah, pakaian dan lain-lain. Menyaksikan semua nikmat besar ini semestinya tidak membuat kita lalai akan nikmat Allah yang kecil.

2. Mengingat nikmat Allah akan menghidupkan semangat berserah diri dalam diri manusia kepada Allah.

 

Ayat ke 82-83

 

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (82) يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ (83)

 

Artinya:

Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebaskan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (16: 82)

 

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. (16: 83)

 

Setelah menyebut tiga nikmat yang dapat melindungi manusia dari panas dan dingin, dua ayat ini kepada Nabi Muhammad Saw berkata, kewajibanmu hanya menyampaikan pesan-pesan ilahi. Bila ada sekelompok orang yang tidak mau menerima pesan yang engkau sampaikan, janganlah bersikap sedih. Karena mereka adalah orang-orang yang keras kepala, padahal mereka telah mengenal kebenaran dan nikmat-nikmat ilahi, namun masih tetap saja kepas kepala dan tidak bersedia menerima pesan ilahi yang engkau sampaikan. Sikap mereka ini membuat mereka kafir.

 

Dalam ayat-ayat lain juga telah ditegaskan mengenai masalah ini bahwa sumber kekafiran mayoritas masyarakat bukan karena tidak mengenal kebenaran dan hakikat, tapi bersumber dari kesombongan, kebencian dan sikap keras kepala yang memaksa mereka untuk menyembunyikan kebenaran dan tidak mau menerimanya.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Allah membebaskan manusia dalam mengenal kebenaran, menerima dan memilihnya. Tentu saja setiap jalan yang dipilih punya konsekwensi khusus.

2. Ilmu dan pengenalan tidak cukup, tapi harus ditambah dengan iman dan amal.

 

Ayat ke 84

 

وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا ثُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ (84)

 

Artinya:

Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf. (16: 84)

 

Ayat ini menjelaskan dua hal yang berhubungan dengan hari kiamat; pertama mengenai para saksi dan kedua penyesalan. Sekaitan dengan masalah pertama ayat ini menyebutkan bahwa antara setiap rakyat akan ada orang yang dibangkitkan menjadi saksi atas perbuatan dan perkataan mereka. Para saksi ini dibangkitkan untuk menjawab segala alasan yang mungkin mereka sampaikan. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, para Imam Maksum sebagai Ahlul Bait Nabi Muhammad saw akan menjadi saksi di Hari Kiamat. Karena mereka menyaksikan dan mengawasi perbuatan umat ini dan keberadaan mereka juga menjadi bukti bagi manusia.

 

Sementara terkait masalah kedua, ayat ini mengatakan bahwa para pendosa tidak diperkenankan berkata untuk meminta maaf atau bertaubat demi menutupi perbuatan salah mereka. Karena catatan setiap perbuatan manusia telah ditutup dan tidak akan pernah dibuka kembali. Taubat dan permintaan maaf dapat diterima sebelum manusia menemui ajalnya dan dengan kematian perbuatan manusia telah berakhir.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Di pengadilan ilahi sekalipun Zat Allah dengan sendirinya cukup untuk mengadili manusia, namun sama seperti pengadilan di dunia, Allah mempersiapkan saksi agar lisan para pendosa tidak dapat mencari alasan lagi.

2. Di hari kiamat tidak mungkin orang yang berdosa meminta maaf apa lagi bertaubat dan diterima permintaan maafnya. (IRIB Indonesia)

 

Add comment


Security code
Refresh