Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 07 Juli 2015 11:55

Imam Ali Menjemput Kesyahidan

Imam Ali Menjemput  Kesyahidan

Pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriah, Imam Ali syahid di usia 63 tahun. Dua hari sebelumnya, Ibnu Muljam, lelaki jahil dan keras kepala menebaskan pedang beracun ke arah Imam Ali yang sedang menunaikan shalat. Sebelum syahid, Amirul Muminin berkata, "Kematian bagiku bukan tamu yang tidak diundang dan tidak dikenal. Antara diriku dengan kematian seperti orang yang kehausan mencari air, atau orang yang menemukan kembali barang bernilai yang pernah hilang".

 

 

Kerinduan Imam Ali terhadap kesyahidan bersumber dari keimanan dan keyakinan yang kuat kepada Allah swt. Pada prinsipnya, manusia mulia seperti Imam Ali senantiasa menjalani kehidupannya di dunia dengan memperhatikan masalah akhirat. Beliau bukan hanya tidak takut kepada kematian. Tapi lebih dari itu, kerinduannya yang besar kepada Yang Maha Kuasa membuatnya ingin segera menjemput kesyahidan.

 

Di malam hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah, Imam Ali bin Abi Thalib menggantikan beliau di tempat tidurnya.Tentu saja, tindakan seperti ini butuh keberanian tinggi, karena berhadapan dengan ancaman kematian. Tapi Ali bin Abi Thalib tidak takut. Yang ada di pikirannya hanya pengorbanan demi Rasulullah Saw dan ridha Allah swt. Terkait peristiwa ini, Allah swt dalam al-Quran menjelaskan pengorbanan Ali bin Abi Thalib. Dalam surat al-Baqarah ayat 207, Allah swt berfirman, "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."

 

Tidak hanya itu, Ali bin Abi Thalib hadir membela Nabi Muhammad Saw dalam perang Uhud. Pada perang yang menimbulkan kekalahan akibat kelengahan sebagian Muslim itu, banyak mujahid yang gugur syahid di medan perang termasuk paman Nabi Hamzah. Ali bin Abi Thalib bersama sedikit Muslim mengorbankan dirinya demi membela Nabi Muhammad Saw dari serangan musuh. Ketika itu, malaikat Jibril berkata, "Tidak ada lelaki seperti Ali dan tidak ada pedang laksana Zulfiqar".

 

Setelah perang tersebut, Imam Ali menyaksikan sekitar 70 orang Muslim syahid. Beliau pun terluka parah. Ali bin Abi Thalib kecewa, karena tidak syahid bersama mujahid lainnya. Rasulullah Saw yang mengetahui kondisi tersebut bersabda, "Aku kabarkan berita besar untukmu, engkau akan syahid nanti".

 

Sekian lama Ali bin Abi Thalib menantikan kematian di jalan Allah swt. Beliau selalu teringat sabda Rasulullah saw tentang datangnya kesyahidan menjemputnya. Rasulullah berkata kepada Ali, "Ya, itu pasti akan terjadi, tapi bagaimana dengan kesabaranmu ?" Ali menjawab, "Ketika itu bukan masalah kesabaran, tapi kabar gembira". Dua hari sebelum kesyahidannya, setelah pedang Ibnu Muljam menebas tubuh Imam Ali yang sedang menunaikan shalat, beliau berkata, "Demi Tuhan Kabah aku bahagia". Ya, Amirul Mukminin syahid di jalan Allah swt, dan tidak ada sedikitpun ketakutan dalam hatinya ketika menjemput kematian.

 

Hanya satu yang dipikirkan Ali, apakah ketika beliau meninggal dunia dalam kondisi menegakkan agama Islam atau tidak. Sebab, sejumlah sahabat Rasulullah yang mukmin, setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw memilih jalan lain. Tapi Rasulullah Saw sangat percaya dan meyakini keimanan Ali bin Abi Thalib. Bahkan berulangkali Rasulullah menunjukkan keutamaan Ali.

 

Suatu hari ketika Rasulullah Saw menyampaikan khutbah mengenai keutamaan di bulan suci Ramadhan, Ali bertanya, "Wahai Rasulullah Saw, apa perbuatan terbaik di bulan ini ?". Rasulullah saw menjawab. "Bertakwalah dan jauhi maksiat". Tapi seketika Rasulullah terlihat bersedih, ketika melihat wajah Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali menanyakan sebab kesedihan mertuanya itu. Rasulullah bersabda, "Wahai Ali! Kesedihanku karena penistaan dan kezaliman yang dilakukan orang lain terhadapmu yang terjadi di bulan [Ramadhan] ini. Aku seperti melihatmu enggkau sedang menunaikan shalat, lalu orang yang dilaknat masa lalu dan masa mendatang, yang tidak lain dari saudara pembunuh unta Tsamud menebaskan pedangnya mengenai kepalamu hingga mihrab dipenuhi darah".

 

Mendengar sabda Rasulullah Saw, Ali bertanya, "Apakah ketika itu agamaku selamat dan terjaga?" Rasulullah Saw bersabda, "Ya, ketika itu agamamu selamat." Lalu, Rasulullah Saw mengungkapkan kalimat indah bahwa Ali adalah penerusnya.

 

Berita gembira mengenai kesyahidan Imam Ali membuat beliau senantiasa menantikan kedatangan ajal di jalan Allah swt menjemputnya. Bahkan, dalam beberapa hari di akhir hayatnya beliau seperti mengetahui penantian panjangnya akan berakhir. Meskipun mengetahui akan kesyahidannya langsung dari Nabi Muhammad Saw, tapi beliau tetap menjalankan tugasnya mengabdi dan melayani sesama demi meraih ridha Allah swt. Terkait hal ini, Ali berkata, "Merugilah orang yang malas dan tidak memperdulikan kehidupan dunianya. Sebab orang yang tidak memperhatikan dunianya, dalam masalah akhiratpun lebih malas dan tidak perduli".

 

Imam Ali adalah pekerja keras. Beliau dengan tangannya sendiri menggali banyak sumur. Ulama terkemuka Sunni, Ibn Abil Hadid menjelaskan tentang keutamaan Imam Ali, "Ia bekerja dengan tangannya sendiri. Menggali tanah dan menyiraminya. Menanam kurma dan setelah berbuah mewakafkan kebun itu untuk orang-orang miskin". Tidak sedikit sumur yang digali Imam Ali diwakafkan untuk orang lain yang membutuhkan demi mencari ridha Allah swt.

 

Puncak penghambaan dan ketaatan Imam Ali bin Abi Thalib terhadap perintah Allah swt terjadi selama lima tahun kekhilafahannya. Beliau menjadi khalifah umat Islam demi menjalankan perintah ilahi serta mewujudkan hak orang-orang yang tertindas dan menegakkan keadilan. Tujuan suci yang diwujudkan Imam Ali menimbulkan kekecewaan sejumlah orang yang merasa terancam kepentingannya.

 

Akhirnya, mereka memberontak dan menghalangi terwujudkan keadilan yang sedang ditegakkan oleh Imam Ali. Tapi dengan keberaniaannya, Imam Ali tetap menjalankan tanggungjawabnya melaksanakan perintah Allah dan memenuhi hak sesama manusia. Selain menghadapi orang yang haus kuasa dan gila harta, Imam Ali berhadapan dengan orang-orang jahil dan beliau syahid di tangan mereka di mihrab masjid Kufah.

 

Hingga kini begitu banyak pernyataan para ilmuwan Muslim dan non-Muslim mengenai kedudukan tinggi dan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib. Setelah Imam Ali dimakamkan, Imam Hassan naik ke atas mimbar, dan dalam keadaan bersedih berkata, "Tadi malam, seorang lelaki meninggalkan dunia ini. Di antara orang yang menjadi pemuka Islam tidak ada menyamainya selain Rasulullah Saw. Beliau berjihad bersama Rasulullah Saw dan memanggul bendera risalah di pundaknya sementara malaikat Jibril dan Mikail mendukungnya. Di malam yang dinugerahi rahmat Allah, ketika Al-Quran turun malam itu kepada Rasulullah dan Nabi Isa putra Maryam diangkat ke langit, serta Yusya bin Nun syahid.... Ayahku tidak mewariskan harta dan kekayaan duniawi bagi kami, kecuali 700 dirham untuk keluarga...."(IRIBIndonesia/PH)

Add comment


Security code
Refresh