Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 19 Desember 2015 10:49

Sepercik Cahaya Hidayah Imam Hasan Askari

Sepercik Cahaya Hidayah Imam Hasan Askari

8 Rabiul Awal tahun 260 Hijriah, umat Islam tenggelam dalam kedukaan mendalam. Pasalnya di hari ini, salah satu mentari Ahlul Bait, Imam Hasan Askari menghembuskan nafasnya yang terakhir dan meneguk cawan syahadah.

 

Para Imam maksum dan Ahlul Bait Nabi adalah manifestasi sempurna nilai-nilai tinggi kemanusiaan. Sirah mereka yang penuh dengan ibadah terindah dan ideologi paling kuat serta pengambilan keputusan paling bijaksana di bidang politik dan sosial, merupakan gambaran sempurna dari sosok Ilahi.

 

Manusia sempurna ini di bidang ibadah, jihad dan ketika menerima tanggung jawab sosial dan politik tak pernah goyah dan memilih menempuh jalan kebenaran. Kesemuanya ini hanya dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan dan berlepas tangan dari musuh-musuh-Nya. Imam Hasan Askari adalah bintang terang dari tata cahaya. Imam Hasan Askari menghabiskan usianya yang pendek bersama ayahnya, Imam Hadi as di kamp militer Askar, di kota Samarra. Setelah Imam Hadi as gugur, Imam Hasan mengambil tampuk imamah dan selama enam tahun beliau aktif menyebarkan ajaran Islam dan memerangi ideologi sesat. Perjuangan ini beliau lakukan di tengah-tengah pembatasan super ketat yang diberlakukan pemerintah zalim saat itu kepadanya.

 

Imam Hasan Askari mulai menata ulang pemahaman umat Muslim saat itu untuk mengarahkan mereka kepada ajaran luhur Islam dan kebaikan. Di antaranya adalah ucapan beliau mengenai nilai akal dan nasehat. Beliau bersabda, “ Hati adalah memori dari hawa nafsu, namun akal adalah pengendali dan melalui beragam pengalaman manusia mampu meraih pelajaran baru. Nasehat dan mengambil pelajaran adalah sumber hidayah.”

 

Terkait takut dan optimisme sebagai sarana untuk mencegah seseorang berbuat dosa, Imam Hasan mengatakan, “Apa untungnya rasa takut dan harapan yang dimiliki seseorang jika keduanya tidak mampu mencegah tuannya menghindari perbuatan buruk dan bersabar ketika tertimpa musibah.” Mengenai perilaku meremehkan dosa, Imam Hasan bersabda, “Di antara dosa yang tidak terampuni adalah ketika pendosa berkata, aku tidak akan diazab hanya karena dosa ini?”

 

Di samping hal ini, pada dasarnya Imam Hasan Askari menilai seluruh lapisan masyarakat sebagai pengikutnya dan menjelaskan bahwa bagaimana ia meluangkan waktu untuk memberi petunjuk bagi kelompok tertentu. Sejatinya Imam Hasan Askari telah mengingatkan pengikutnya soal pengenalan terhadap audiens dalam proses pemberian petunjuk dan hidayah.

 

Salah satu pengikut Imam Hasan bernama Qasim Harawi mengatakan, “Sebuah surat Imam sampai kepada salah satu sahabat beliau. Sejumlah sahabat beliau terlibat perdebatan mengenai surat tersebut. Kemudian Aku menulis surat kepada Imam dan menjelaskan pertengkaran sahabat beliau. Dan Aku mengharap petunjuk beliau untuk menyelesaikan masalah ini. Imam menjawab, “Seperti Allah Swt berfirman kepada mereka yang berakal dan tidak ada yang mengungguli Nabi Muhammad dalam mengungkapkan argumentasinya atas kebenaran kenabiannya, namun demikian orang Musyrik masih mengatakan bahwa Nabi pembohong, dukun dan tukang sihir...”

 

Lebih lajut Imam berkata, “...Allah Swt akan menuntun mereka yang memiliki kelayakan untuk menerima hidayah, karena mayoritas manusia menerima argumentasi. Dengan demikian, ketika Allah menghendaki kebenaran tidak terungkap, maka selamanya kebenaran tidak akan muncul. Ia mengutus nabi untuk memberi manusia harapan dan rasa takut dan di kondisi lemah dan kuat, para nabi secara terang-terangan menyeru manusia kepada kebenaran dan senantiasa berbicara kepada mereka sehingga perintah Tuhan dan ajarannya dapat ditegakkan.”

 

Manusia memiliki berbagai tingkatan, ada yang mendapat pencerahan, mengenal jalan keselamatan, berpegang teguh pada kebenaran dan ada pula yang memilih jalan lain serta tidak ada keraguan di mata mereka dan tidak akan berlindung kepada selain-Nya. Adapun kelompok lain adalah mereka yang mengambil kebenaran tidak dari ahlinya, orang seperti ini ibaratnya orang yang tengah mengarungi laut dan menderita dengan kemarahan laut serta tenang ketika laut tenang.

 

Kelompok lain adalah mereka yang terbelenggu dengan setan dan menolak ajakan kebenaran serta menumpas kebenaran dengan kebatilan. Orang seperti ini pada akhirnya akan terlempar ke sana kemari dan pada akhirnya menyerah.

 

Imam Hasan Askari demi menyebarkan Amar Makruf Nahi Munkar dan memperbaiku umat Islam telah menggunakan beragam metode. Ketika Imam di penjara, beliau mampu mengubah perilaku para tahanan hanya dengan akhlak mulia beliau. Ketika tahanan ini keluar dari penjara, mereka mendapat pencerahan mengenai keagingan dan kautamaan beliau.

 

Di era kegelapan pemikiran dan penyimpangan akidah, Imam Askari as bangkit menyampaikan hakikat agama secara jernih kepada masyarakat. Beliau mengobati dahaga para pencari ilmu dan makrifat dengan pancaran mata air kebenaran. Argumentasi-argumentasi Imam Askari as dalam kajian ilmiah, sangat berpengaruh, di mana filosof Arab Ya'qub bin Ishak al-Kindi mulai memahami kebenaran setelah berdebat dengan beliau dan kemudian membakar buku-bukunya yang ditulis untuk mengkritik beberapa pengetahuan agama.

 

Meskipun Dinasti Abbasiyah bermusuhan dengan Imam Askari as, namun salah satu menteri rezim penguasa dengan nama Ahmad bin Khaqan, mengakui keutamaan dan karamah keturunan Nabi Saw itu. Dia berkata, "Di Samarra, aku tidak melihat sosok seperti Hasan bin Ali. Dalam hal martabat, kesucian, dan kebesaran jiwa, aku tidak menemukan tandingannya. Meski ia seorang pemuda, Bani Hasyim lebih mengutamakannya dari kelompok tua di tengah mereka. Ia memiliki kedudukan yang sangat tinggi, di mana dipuji oleh sahabat dan musuhnya."

 

Semua kehormatan dan kemuliaan itu dikarenakan ketaatan Imam Askari as kepada Allah Swt dan kebersamaan beliau dengan kebenaran. Beliau berkata, "Tidak ada orang mulia yang menjauhi kebenaran kecuali dia akan terhina dan tidak ada orang hina yang merangkul kebenaran kecuali dia akan mulia dan terhormat."

 

Kedekatan dengan Tuhan dan sifat tawakkal telah membantu Ahlul Bait Nabi as dalam memikul beban penderitaan dan membuat mereka berkomitmen dalam memperjuangkan kebenaran. Ibadah dan kecintaan kepada Sang Kekasih, ada dalam fitrah manusia dan daya tarik internal ini mampu membantu mereka dalam peristiwa-peristiwa sulit. Manusia-manusia yang bertakwa dan taat, telah terbebas dari ikatan dan belenggu-belenggu hawa nafsu dan godaan duniawi. Mereka telah mencapai puncak kemuliaan akhlak.

 

Rasul Saw dan Ahlul Baitnya adalah pribadi-pribadi sempurna yang menduduki puncak kemuliaan akhlak. Mereka dengan ketaatan penuh di hadapan kekuasaan Tuhan, mencapai derajat spiritual yang tinggi dan sama sekali tidak merasa kalah dalam melawan kemusyrikan dan kekufuran di tengah masyarakat. Dalam sirah Imam Askari as disebutkan bahwa beliau saat berada di penjara, menghabiskan seluruh waktunya dengan ibadah dan munajat kepada Tuhan. Pemandangan ini bahkan telah menyihir para sipir yang ditugaskan untuk mengawasi dan menyiksa beliau.

 

Beberapa pejabat Dinasti Abbasiyah memerintahkan Saleh bin Wasif, kepala penjara untuk bersikap keras terhadap Imam Askari as. Mereka berkata kepada Wasif, "Tekan Abu Muhammad semampumu dan jangan biarkan ia menikmati kelonggaran!" Saleh bin Wasif menjawab, "Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah menempatkan dua orang terkejam dari bawahanku untuk mengawasinya, keduanya sekarang tidak hanya menganggap Abu Muhammad sebagai seorang tahanan, tapi mereka juga mencapai kedudukan yang tinggi dalam ibadah, shalat, dan puasa."

 

Pengaruh pemikiran dan spiritualitas Imam Askari as membuat para penguasa Abbasiyah ketakutan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menghapus keberadaan beliau. Muktamid Abbasi, penguasa tiran Dinasti Abbasiyah, akhirnya menyusun sebuah skenario untuk membunuh Imam Askari as. Beliau syahid setelah beberapa hari menahan rasa sakit akibat diracun oleh Muktamid. Seorang pembantu Imam Askari as berkata, "Ketika beliau terbaring sakit dan sedang melewati detik-detik terakhir dari kehidupannya, beliau teringat bahwa waktu shalat subuh telah tiba. Beliau berkata, ‘Aku ingin shalat.' Mendengar itu, aku langsung menggelar sajadah di tempat tidurnya. Abu Muhammad kemudian mengambil wudhu dan shalat subuh terakhir dilakukan dalam keadaan sakit dan selang beberapa saat, ruh beliau menyambut panggilan Tuhan." (IRIB Indonesia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh