Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 18 November 2015 15:35

Imam Musa Kadzim, Samudera Ilmu

Imam Musa Kadzim, Samudera Ilmu

Imam Musa Kadzim dilahirkan pada tahun 128 H di desa Abwa, yang terletak antara Mekah dan Madinah. Ayahnya, Imam Shadiq, dan ibunya Sayidah Hamidah yang merupakan wanita paling mulia di zamannya. Ketika Imam Musa Kadzim lahir, Imam Shadiq menyebut putranya itu sebagai penerus imamah sepeninggal beliau. Pada usia 20 tahun, ayahnya syahid, dan Imam Kadzim memimpin umat Islam selama 35 tahun.

 

Imam Kadzim mengalami empat fase dinasti Abbasiyah, yaitu: Khalifah Mansur, Mahdi, Hadi dan Harun. Lembaran sejarah mengungkapkan bahwa Imam Musa Kadzim mendekam di penjara selama 14 tahun. Penguasa lalim saat itu menghendaki Imam Musa menghentikan perlawanannya atas kezaliman. Bahkan Dinasti Abbasiah menjanjikan akan memberikan harta yang melimpah setiap bulan kepada Imam Musa. Namun beliau menolak usulan tersebut dengan menyebutkan ayat 33 surat Yusuf, "Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku."

 

Fase kehidupan Imam Kadzim di era dinasti Abbasiyah dipenuhi berbagai tekanan dari pemerintah zalim. Meskipun demikian, Imam Kadzim sepanjang hidupnya tetap aktif memberikan arahan dan petunjuk tentang ajaran Islam dari Rasulullah Saw. Ibnu Hajar Haitsami, salah satu pemuka Ahlu Sunnah berkata, Musa Kazim pewaris ilmu-ilmu dari ayahnya dan memiliki keutamaan serta kesempurnaan. Beliau mendapat gelar Kadzim karena kesabaran beliau menghadapi cacian dan kelapangan beliau memaafkan orang yang bersalah kepadanya. Di zamannya, tidak ada orang yang menandinginya baik dari sisi keilmuan maupun ketakwaan.  

 

Salah satu nasehat Imam Musa Kadzim mengenai pentingnya ilmu agama, terutama marifatullah. Imam Kadzim berkata, “Kenalilah Tuhan dalam beragama. Sebab marifatullah dan fiqh adalah kunci pengetahuan dan kesempurnaan ibadah.”

 

Dalam pesannya, Imam Kadzim menjelaskan urgensi agama bagi kebahagiaan umat manusia dengan syarat memahami dengan baik, terutama masalah marifatullah. Orang yang menyelami agama dengan baik akan mengetahui mana jalan yang benar dan mana yang sesat. Oleh karena itu, kewajiban Muslim adalah memahami keyakinan keagamaannya dengan sebaik-baiknya.

 

Di bagian lain nasehatnya, Imam Kadzim berkata, “Aku membagi pengetahuan masyarakat terdiri dari empat bagian. Pertama, kenalilah Tuhanmu. Kedua, ketahuilah dengan dan untuk apa sesuatu itu. Ketiga, ketahuilah apa yang diinginkan. Keempat, ketahuilah apa yang akan membuatmu keluar dari agama.”

 

Nasehat Imam Kadzim tersebut menunjukkan keluasan ilmu. Beliau juga menjelaskan ilmu apa yang akan memberikan manfaat bagi manusia, terutama kebahagiaannya sehingga menjadi prioritas untuk dipelajari. Menurut Imam Kadzim, marifatullah, sebagai ilmu yang paling penting. Sebab ilmu ini merupakan kunci dari ilmu lainnya. Setelah mengenal Tuhan, kita akan mensyukuri karunia-Nya yang melimpah. Pengetahuan tentang karunia Tuhan membawa kita untuk mendalami berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

 

Meskipun berada dalam tekanan penguasa lalim, Imam Kadzim dengan berbagai cara melakukan penyadaran kepada umat Islam mengenai sistem politik dan sosial yang ideal berdasarkan ajaran Islam, sehingga masyarakat pun memahami nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial, termasuk dalam politik.

 

Di saat-saat sulit sekalipun, Imam Kadzim tetap konsisten membimbing umat Islam baik secara langsung maupun melalui para muridnya. Arahan dan bimbingan Imam Kadzim tentu saja sangat berpengaruh bagi masyarakat. Hisham bin Hakam adalah salah satu murid Imam Kazim. Ia banyak meninggalkan karya di berbagai ilmu. Imam kerap memberi nasehat kepada Hisham, salah satunya berkenaan dengan dunia dan akhirat. Beliau berkata, bukan dari kami orang yang rela menjual akhiratnya demi dunia atau sebaliknya.

 

Pembahasan mengenai hubungan dunia dan akhirat telah menjadi polemik sejak dahulu kala. Menyikapi masalah ini, Imam Kadzim memandang dunia dan akhirat bukan hanya tidak dapat dipisahkan, namun keduanya memiliki hubungan sangat erat. Sebab dunia merupakan kesempatan dan medan bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, dunia menjadi arena untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.

 

Menurut Imam Kadzim, sikap berlebih-lebihan dalam masalah dunia dan akhirat berarti seseorang telah keluar dari jalan Ahlul Bait. Dunia akan menjadi hina ketika ia dijadikan sebagai tujuan oleh manusia, dan manusia sangat bergantung dengannya. Ketika itu, dunia berubah menjadi arena yang melalaikan manusia, bukannya tempat untuk mencapai kesempurnaan.

 

Masyarakat ideal dalam pandangan Ahlul Bait adalah masyarakat yang mampu menyeimbangkan antara akal, emosi, ibadah, agama dan dunia serta tidak berlebih-lebihan dalam menggunakannya.

 

Di sisi lain, Imam Kadzim menegaskan ajaran agama sebagai dasar bagi aktivitas dunia. Dari sinilah kita saksikan Imam Kadzim memprotes sikap Safwan bin Mahran yang menyewakan unta-untanya kepada Harun al-Rashid, pemimpin zalim untuk pergi haji. Beliau berkata, "Wahai Safwan tindakanmu terpuji kecuali ketika kamu menyewakan untamu kepada Harun al-Rashid."

 

Sepintas ketika Safwan bertransaksi dengan Harun hanya sekedar masalah ekonomi. Namun dalam pandangan Imam Kadzim, transaksi ekonomi yang dilakukan dengan pemimpin zalim akan merusak kebahagiaan akhirat seseorang. Ini adalah masalah yang senantiasa diperingatkan Imam Kazim dengan sabda beliau, “Wahai manusia! berhati-hatilah, jangan kalian rusak akhiratmu dikarenakan dunia. Artinya jangan kalian tenggelam dalam kenikmatan duniawi sehingga kalian melupakan tujuan utama hidup kalian di dunia ini.”

 

Berkenaan dengan para penguasa zalim Imam Kadzim berkata: "Barang siapa yang menghendaki mereka tetap hidup, maka ia termasuk golongan mereka. Dan barang siapa yang termasuk golongan mereka, maka ia akan masuk neraka". Dengan demikian, Imam telah menentukan sikap tegas terhadap pemerintahan Harun al-Rashid, mengharamkan kerja sama dengannya dan melarang para pengikutnya untuk bergantung kepada pemerintahannya.

 

Imam Kadzim sangat menekankan masalah evaluasi diri. Beliau berkata, “Barang siapa yang mengevaluasi diri dan perbuatannya, maka ia termasuk dari kami [Ahlul Bait]. Jika melakukan perbuatan baik, mintalah taufik dari Allah swt

untuk melakukan kebaikan lebih banyak lagi. Tapi, jika melakukan keburukan, maka beristigfarlah dan mohon ampunan dari Allah swt”.  Sekali lagi, kami mengucapkan selamat dan suka cita di hari kelahiran Imam Musa Kadzim.(IRIB Indonesia/PH)

 

Add comment


Security code
Refresh