Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 14 Oktober 2015 12:41

Muharram: Bulan Kebangkitan Imam Husein as

Muharram: Bulan Kebangkitan Imam Husein as

Bulan suci Muharram kembali menyapa kita. Bulan penuh kenangan pahit dan menyedihkan. Bulan penuh tragedi atas gugurnya cucu Nabi Imam Husein as beserta keluarga dan pengikutnya di Padang Karbala. Bulan penuh kenangan perjuangan heroik Imam Husein menegakkan kembali ajaran murni kakeknya. Bulan Muharram senantiasa dikaitkan dengan nama Imam Husein serta perjuangan besarnya di Padang Karbala.

 

 

Setiap tahun, ketika Muharram tiba, hati-hati para pecinta Nabi dan keluarganya penuh gairah dan semangat. Namun tahun ini, muslim dunia memasuki bulan Muharram dan peringatan kebangkitan Imam Husein, selain berduka atas gugurnya cucu Nabi, mereka juga berduka atas tragedi Mina yang dialami para peziarah Baitullah. Tragedi ini berujung pada tewasnya ribuan jemaah haji dengan mulut kehausan dan kepanasan. Seraya mengenang kebangkitan Imam Husein, mari kita berdoa kepada Allah memohon supaya korban tragedi Mina diterima di sisi-Nya dan mendapat ampunan serta pahala sebesar-besarnya dan keluarga yang ditinggal diberi kesabaran.

 

Kebangkitan Imam Husein di Padang Karbala pada tahun 61 Hijriah termasuk peristiwa yang kekal dan abadi sepanjang sejarah. Gerakan agung dan mulia ini melampau sekat-sekat geografi dan sejarah serta terus memberikan pengaruhnya sepanjang masa. Perjuangan Imam Husein bahkan telah banyak menyadarkan manusia dan membangkitkan semangat perjuangan menentang kezaliman dan ketidakadilan. Oleh karena itu, kebangkitan Imam Husein di sejarah Islam dan bahkan dunia memiliki keunggulan tersendiri.

 

Seperti kita ketahui bersama, para nabi dan kekasih Allah Swt telah mengerahkan segenap usaha dan perjuangannya demi menyebarkan agama Ilahi, memerangi kezaliman, kefasadan serta berupaya membebaskan manusia dan menuntun mereka ke arah kebahagiaan. Hal ini dapat kita saksikan dengan jelas di lembaran sejarah sepanjang masa. Satu lagi, yang membuat perjuangan mereka memiliki nilai suci dan agung adalah movitasi perjuangan itu sendiri. Dalam berjuang para Nabi dan kekasih Allah tidak memiliki tendensi pribadi, niat tulus mereka adalah demi keridhaan Allah. Perjuangan Imam Husein pun tak luput dari kaidah ini. Perjuangan cucu nabi ini sepenuhnya tulus dan demi menegakkan agama Ilahi.

 

Secara global motivasi kebangkitan Imam Husein as dapat dicermati dalam cita-citanya menghidupkan kembali agama Ilahi. Tak diragukan lagi, Islam berhutang banyak terhadap usaha Nabi dan Ahlul Baitnya yang diberbagai kesempatan membersihkan ajaran Ilahi dari debu-debu bid’ah dan penyelewengan. Peristiwa yang terjadi pasca meninggalnya Rasulullah menunjukkan realita bahwa sejumlah pihak berusaha menghidupkan kembali sunah, tradisi dan ideologi jahiliyah. Sementara sejumlah lainnya, karena keropos dan lemahnya iman yang dimilikinya memilih mengikuti kelompok pertama. Ada pula kelompok yang memilih bungkam menyaksikan peristiwa yang berlaku saat itu.

 

Seperti yang kita ketahui bersama, Nabi melalui ajaran abadinya dan kepribadian agungnya berhasil menciptakan perubahan mendalam dan mendasar di masyarakat Arab jahiliyah saat itu. Namun setelah kematian beliau, gerakan untuk menghidupkan kembali tradisi jahiliyah semakin santer terjadi dan terbuka peluang lebar-lebar masuknya bid’ah di agama Ilahi ini.

 

Sementara itu kaidah ini tidak boleh dilupakan bahwa setiap terjadi perubahan dan revolusi, jejak, tradisi dan ideologi masa lalu akan masih tetap terlihat dan peluang masyarakat untuk kembali kepada tradisi masa lalu mereka terbuka lebar. Seiring dengan berkuasanya Bani Umayah di kekhalifahan Islam, gerakan untuk menghidupkan kembali tradisi jahiliyah terus berjalan dengan berkedok Islam serta semakin santer untuk menyelewengkan masyarakat dari ajaran murni Islam. Di kondisi seperti ini, sejumlah pihak berusaha menghidupkan kembali ideologi jahiliyah yang diberantas oleh Rasulullah. Kondisi ini mencapai puncaknya di akhir pemerintahan Bani Umayah, tepatnya di saat Yazid bin Muawiyah berkuasa.

 

Setelah Muawiyah, Yazid sang putra khalifah Bani Umayah ini berkuasa. Padahal berdasarkan perjanjian Muawiyah dengan Imam Hasan as, Muawiyah dilarang menentukan pengganti. Pelanggaran perjanjian ini membuat Yazid berkuasa. Untuk mempertahankan kekuasaannya, Yazid tak segan-segan mengabaikan serta menyelewengkan hukum Allah yang paling jelas sekali pun. Ia tercatat sosok paling tidak layak menduduki posisi khalifah umat muslim dalam sejarah Islam. Ia pun tak malu-malu menunjukkan kemaksiatan dan pelanggarannya atas hukum Ilahi.

 

Sementara itu, Imam Husein menyadari realita bahwa orang-orang zalim dengan kedok agama, menguasai rakyat dan mereka berusaha menghidupkan kembali ideologi jahiliyah dengan model baru. Mereka tak segan-segan menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya. Oleh karena itu, Imam Husein saat menjelaskan sebab penentangannya terhadap Yazid berkata, “Aku bangkit untuk memperbaiki umat kakek-ku dan aku ingin mengamalkan amar makruf nahi munkar, serta berperilaku seperti sunah kakek-ku Rasulullah Saw.”

 

Imam Husein yakin bahwa penguasa zalim tidak akan pernah berjalan di jalan yang benar. Sebuah masyarakat yang pernah mengecap kehidupan mulia di bawah kepemimpinan Rasulullah, kini dihadapkan pada kenyataan pahit berkuasanya seorang pemimpin seperti Yazid. Di seluruh wilayah Islam saat itu, tidak dapat disaksikan tanda-tanda keadilan. Di era kekuasaan Bani Umayah, rasisme dan kesukuan yang diberantas dengan gigih oleh Rasulullah, ternyata kembali dihidupkan dan seiring dengan berlalunya waktu, menyusup di tengah-tengah masyarakat Islam. Dengan demikian masyarakat Islam semakin jauh dari ajaran murni agama mereka.

 

Sementara itu, para Ahlul Bait Nabi dan sejumlah tokoh serta sahabat Nabi aktif memberikan pencerahan kepada masyarakat dan memerangi fenomena buruk yang berusaha menghidupkan kembali ideologi dan tradisi jahiliyah. Namun mengingat, sosok yang menduduki kekuasaan dan menjadi pemimpin umat Islam adalah orang yang tidak memiliki kelayakan dan ia banyak memberikan pengaruh negatif terhadap pemikiran serta ideologi rakyat, maka sedikit demi sedikit ideologi Islam sejati dan sendi-sendinya semakin terkucil.

 

Contoh nyata dalam hal ini adalah masjid yang di zaman nabi memainkan peran siginifikan sebagai tempat aktivitas seperti ibadah, politik dan sosial, secara perlahan telah kehilangan fungsi utamanya dan berubah menjadi tempat ibadah individu. Seremonial yang digelar di masjid Makkah, Madinah, Damaskus, Kufah dan Basra atas nama agama adalah ritual yang tidak memiliki semangat atau sekedar penipuan terhadap rakyat.

 

Saat itu dapat dikatakan bahwa seluruh amal ibadah tidak memiliki pengaruh positifinya dan tidak efisien. Di sisi lain, umat Muslim saat itu tidak peduli dengan gerakan dan peristiwa sosial dan politik di sekitarnya. Atau dengan kata lain, mereka telah jauh dari esensi sejati agama yang mereka anut. Artinya, Bani Umayah dengan program yang tersusun rapi, dengan menampilkan Islam di luarnya, sejatinya telah menghancurkan ajaran sejati agama samawi ini. Transformasi ini telah membuat umat Islam tidak peduli. Bahkan sejumlah tokoh Islam saat itu ternyata malah mengkhawatirkan kepentingan materinya ketimbang mengkhawatirkan agama Ilahi tersebut.

 

Di kondisi seperti  ini, sosok seperti Imam Husein tidak dapat berdiam diri dan beliau menyadari sepenuhnya bahwa bungkam dihadapan kebijakan serta strategi manusia seperti Yazid akan berujung pada musnahnya Islam. Meski Yazid berusaha keras mengambil baiat dari Imam Husein, namun Imam menolak memberikan baiat kepada pemimpin Bani Umayah ini, serta bertekad memberikan perlawanan kepada para pemimpin zalim Bani Umayah.

 

Imam Husein selama pergerakannya senantiasa memberi pencerahan kepada rakyat serta tokoh masyarakat. Ini merupakan tugas pemimpin umat Islam memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memiliki pandangan yang benar dan membangunkan hati-hati yang tertidur. Oleh karena itu, Imam Husein di berbagai kesempatan aktif memberi pencerahan kepada masyarakat. Metode perjuangan Imam Husein mengedepankan semangat mencari kehormatan dan menjauhi kehinaan. Dalam perjuangannya, Imam Husein juga menekankan kebebasan dan kehormatan manusia. Di berbagai kesempatan, Imam Husein senantiasa mengingatkan hal-hal tersebut.

 

Imam Husein dengan berpegang teguh pada prinsip seperti ini mampu menghidupkan semangat dan hasrat umat Islam, sehingga perjuangan beliau menjadi abadi. Imam mengingatkan umat Islam bahwa mereka jangan sampai tunduk terhadap penguasa zalim dan hanya tunduk kepada perintah Allah yang diturunkan demi kebahagiaan umat Islam.

 

Husein bin Ali melalui kebangkitannya telah menunjukkan sebuah hakikat indah. Hakikat tersebut adalah ketika kezaliman menguasai umat manusia dan cahaya kebaikan serta keutamaan padam, maka manusia harus bangkit demi menghidupkan nilai-nilai agama, meskipun mereka harus berkorban nyawa di jalan ini.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh