| Halaman Muka |
| Politik |
| Sosial |
| Budaya |
| Islamologi |
| Sejarah |
| Iranologi |
| Iran Aktualita |
| Sepekan Amerika |
| Galeri Foto Harian |
| Surat Pendengar |
| Dinamika Asia Tenggara |
| Islam dan Keindahannya |
Lintas Warta
Ahmadinejad: Tinggalkan Sistem Ekonomi Kapitalis | Ahmadinejad: Tinggalkan Sistem Ekonomi Kapitalis |
|
|
| Wednesday, 29 April 2009 | |
|
Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad dalam pertemuannya dengan ketua Kamar Dagang dan Dewan Pariwisata Negara-Negara Islam, mengatakan, ekonomi negara-negara Islam memerlukan perluasan kerjasama internal guna melepaskan diri dari struktur ekonomi sistem kapitalis dan membangun ekonomi pribumi. Dalam pertemuan yang berlangsung kemarin malam (Selasa, 28/4), Ahmadinejad menuturkan, "Jika hanya setengah dari nilai transaksi negara-negara Islam dilakukan di antara mereka, maka sebagian besar problem ekonomi dunia Islam akan terselesaikan". Negara-negara Islam menyimpan cadangan Sumber Daya Alam (SDA) yang cukup besar ditambah peluang bisnis dan letak geografis. Negara-negara Islam selain dapat menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, juga dapat membantu terwujudnya independensi politik dan ekonomi dunia Islam jika mereka menginvestasikan sebagian dari kekayaannya di dalam negara-negara Islam sendiri. Seraya memaparkan sebab-sebab terjadinya krisis ekonomi dan lumpuhnya sistem kapitalis, Ahmadinejad menilai landasan teoritis ekonomi kapitalis sebagai penyebab munculnya krisis tersebut. Ahmadinejad menegaskan, ekonomi kapitalis dibangun atas prinsip konsumsi dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya untuk para pemilik modal. Ditambahkannya, sistem ini akan berdampak pada penjarahan, peningkatan kemiskinan, dan penumpukan modal di negara-negara tertentu. Proses ini juga telah menyedot kekayaan negara-negara Islam ke dalam sistem kapitalis Barat. Kini, setelah sistem kapitalis mengalami jalan buntu, negara-negara adidaya berupaya membebani negara lain dengan masalah ekonomi yang muncul akibat krisis permodalan. Namun, bagaimana negara-negara Islam mampu mengatasi proses ini dan mengurangi dampak krisis ekonomi global? Meski pertanyaan ini membutuhkan analisa dan kajian mendalam tentang sebab-sebab terjadinya krisis ekonomi dunia, tapi sebagai langkah pertama, negara-negara Islam butuh merancang program reformasi dan restrukturisasi ekonominya. Dengan memperhatikan realita tersebut, Ahmadinejad mengatakan, "Dunia Islam akan bernasib sama dengan Barat jika tetap mempertahankan sistem ekonomi kapitalis". Oleh karena itu, Dunia Islam harus membangun perekonomiannya atas landasan nilai-nilai lokal dan ajaran Islam. Kendati reformasi struktur dunia sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis ekonomi global, namun Dunia Islam jangan sampai melupakan potensi dan kapasitas yang dimilikinya. Negara-negara Islam harus mengidentifikasi kapasistas tersebut dan berupaya maksimal untuk memindahkan transaksi ekonomi ke dalam negara mereka. Menurut Ahmadinejad, kebuntuan sistem kapitalis di satu sisi bisa menjadi peringatan, tapi di sisi lain merupakan peluang emas bagi negara-negara Islam guna melepaskan diri dari hegemoni sistem kapitalis. |
| < Prev | Next > |
|---|
| | ■Biografi Rahbar |
| ■Khotbah Rahbar | |
| ■Situs Rahbar |
| Faktor-Faktor Kejayaan Revolusi Islam Iran |
|
Salah satu pertanyaan penting adalah bagaimana Revolusi Islam Iran hingga kini mampu mengatasi berbagai masalah dan kendala yang sebagiannya tergolong besar dan rumit? Dengan kata lain, faktor-faktor dan kapasitas apa saja yang terdapat dalam revolusi ini hingga mampu menghadapi berbagai tantangan? Di antara kapasitas paling penting Revolusi Islam Iran dalam menghadapi berbagai konspirasi musuh dikarenakan basis massa revolusi tersebut. Rakyat Iran aktif dalam berbagai arena revolusi dan telah mempersembahkan banyak pahlawan demi kemenangan revolusi. Untuk itu, rakyat Iran menilai revolusi dan sistem yang melandasinya adalah milik mereka dan berupaya maksimal untuk menjaga kelanjutannya. Persatuan dan kesatuan bangsa juga faktor lain dalam memajukan cita-cita revolusi. Bapak Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra senantiasa mewasiatkan kesatuan dan persatuan rakyat dalam membela revolusi meski mereka berbeda pendapat dalam masalah-masalah parsial. Sepanjang perjalanan revolusi, persatuan dan kesatuan ini semakin aktual hingga mampu mengatasi berbagai hambatan. Persatuan yang disertai pengetahuan dan kewaspadaan rakyat Iran telah melahirkan kapasitas besar dalam menghadapi krisis internal dan konspirasi asing. Sepanjang perjalanan revolusi, bangsa Iran membuktikan diri bahwa mereka mengenal taktik dan skenario jahat musuh dan juga mengetahui dengan baik cara mengatasinya. Dalam hal ini, pengetahuan dan kearifan rakyat merupakan masalah mendasar, namun bimbingan pemimpin revolusi dalam memberdayakan dan mengarahkan masyarakat memainkan peran penting, sebab rakyat Iran menilai pemimpin revolusi sebagai tokoh yang bijak dan dapat dipercaya. Mereka juga melihat pemimpin revolusi sebagai figur yang mengetahui problema negara dan akan berupaya maksimal untuk memajukan Revolusi Islam Iran. Ideologi Islam bangsa Iran juga berperan signifikan dalam mendukung revolusi Islam. Perang melawan kezaliman merupakan kriteria penting agama Islam dan bangsa Iran menemukan manifestasi itu dalam kebangkitan Imam Husein as dan sahabatnya menentang kezaliman dan kerusakan pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Revolusi Imam Husein as merupakan teladan kebangkitan bangsa Iran dalam melawan rezim despotik Syah dan pendukungnya. Kebangkitan itu kini juga menjadi inspirasi rakyat Iran dalam menghadapi sistem hegemoni dan mendorong mereka untuk mendukung umat Islam di seluruh dunia dalam memerangi penindasan dan pendudukan. Menurut keyakinan umat Islam, dunia akan bebas dari kezaliman dan diskriminasi bersamaan dengan kebangkitan Imam Mahdi as. Keyakinan ini mendorong rakyat Iran menjaga revolusinya sebagai persiapan kebangkitan besar Imam Mahdi as. Faktor-faktor tersebut menjadikan bangsa Iran sebagai bangsa revolusioner, solid, waspada, penuh semangat, cinta revolusi dan siap menjaganya. Selama delapan tahun perang yang dipaksakan rezim Saddam Hussein dan sekutunya, bangsa Iran dengan baik membuktikan kesetiaan mereka terhadap revolusi. Pada tahun-tahun yang sulit itu, ratusan ribu pemuda atas perintah Imam Khomeini ra terjun ke medan perang untuk membela revolusi dan Iran. Di luar medan perang, bangsa Iran juga menanggung segala bentuk kesulitan dan kekurangan, namun pantang menyerah dalam membela cita-cita revolusi dan kedaulatan Iran. Setiap kali Revolusi Islam membutuhkan kehadiran dan partisipasi warga, mereka selalu siap dan waspada. Dalam setiap peringatan ulang tahun kemenangan Revolusi Islam Iran, bangsa Iran selalu menggelar aksi turun ke jalan-jalan dan membuktikan kesetiaan mereka dalam membela revolusi. Partisipasi rakyat dalam berbagai pemilu pasca kemenangan revolusi adalah bukti kesetiaan dan kesiapan mereka dalam menjaga revolusi. Sebagaimana dalam pemilu presiden Juni lalu, sekitar 85 persen pemilik hak suara ikut dalam pesta demokrasi itu. Di antara kriteria sistem Republik Islam Iran dibanding sistem-sistem lain adalah posisi dan peran istimewa Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran. Dalam sistem ini, rahbar atau wali fakih adalah pakar agama Islam, figur yang adil, bertaqwa dan ahli manajemen. Secara undang-undang, rahbar merupakan posisi pertama dalam sistem Republik Islam Iran dan mengemban sejumlah tanggung jawab penting. Dari sisi lain, wali fakih sebagai posisi religius menjalin interaksi dengan warga secara agamis, spiritualis dan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, kepemimpinan dalam sistem Republik Islam Iran memiliki kedudukan istimewa. Keistimewaan kedudukan ini tampak jelas selama proses kemenangan Revolusi Islam. Pemimpin Revolusi Islam, Imam Khomeini ra adalah figur yang mendapat kepercayaan penuh warga dan kebangkitan rakyat hingga mencapai kemenangan terbentuk berkat kejeniusan imam. Setelah kemenangan revolusi, Iran selalu menghadapi berbagai ancaman dari AS termasuk embargo ekonomi dan serangan militer. Namun Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei menjawab ancaman itu dengan penuh keberanian dan kepemimpinan dan selalu menegaskan sikap revolusi. Serangan AS ke Irak dan Afghanistan sebagai dua negara tetangga Iran merupakan ancaman serius bagi keamanan dan stabilitas negara Islam ini. Namun Rahbar dengan manajemen handal di bidang politik luar negeri berhasil mencegah terealisasinya konspirasi anti-bangsa Iran. Kini Republik Islam Iran selain tidak menghadapi gangguan akibat pendudukan Irak dan Afghanistan, tapi menurut mayoritas pengamat, peristiwa tersebut berhasil dijadikan peluang untuk membantu menyelesaikan krisis di negara tetangganya itu dan membuktikan posisinya di kawasan. Kemajuan sains dan teknologi senantiasa menjadi faktor untuk meningkatkan kemampuan nasional dan pertahanan dalam menghadapi ancaman musuh. Oleh sebab itu, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei selalu menegaskan peningkatan level ilmiah negara dalam mengembangkan sains dan teknologi. Berdasarkan perspektif cemerlang ini, Iran kini meraih kemajuan pesat di bidang teknologi Nano, medis, kloning, satelit, industri rudal dan peralatan pertahanan dan bidang-bidang industri penting lainnya. Tanpa ragu, keberhasilan Iran mencapai teknologi nuklir damai di tengah tekanan politik dan ekonomi Barat juga hasil dukungan Rahbar. Konspirasi anti-Revolusi Islam terbaru Barat adalah perang lunak dan lagi-lagi berhasil digagalkan berkat kewaspadaan Rahbar dan rakyat Iran. Skenario busuk itu dilancarkan setelah pelaksanaan pemilu presiden pada Juni lalu dengan dalih kecurangan dalam pemilu. Mendengar itu, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei langsung mengeluarkan perintah menangani masalah tersebut dalam koridor undang-undang. Di pihak lain, Rahbar membongkar skenario busuk itu di tengah propaganda luas Barat khususnya AS dan Inggris. Beliau menyerukan bangsa Iran untuk mewaspadai perang lunak musuh dan politik pecah belah Barat. Faktor lain yang berhasil mencegah lahirnya krisis adalah Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Islam Iran. Dalam UUD secara jelas ditetapkan tugas-tugas lembaga negara dan hubungannya satu sama lain. Berdasarkan UUD, aturan-aturan Republik Islam Iran harus sesuai dengan syariat Islam dan Dewan Pengawal UUD dibentuk untuk memastikan hal tersebut. Selain itu, dibentuk Dewan Penentu Kebijakan Negara untuk menyelesaikan sengketa-sengketa legislatif dengan Dewan Pengawal UUD. Dalam UUD Republik Islam Iran, Rahbar atau Wali Fakih merupakan rujukan tertinggi untuk menyelesaikan perselisihan, menciptakan koordinasi di antara lembaga negara dan menentukan kebijakan umum negara. Oleh sebab itu, undang-undang komprehensif ini menawarkan solusi legal untuk menyelesaikan barbagai masalah dan krisis. Revolusi Islam Iran hingga kini berhasil melewati berbagai konspirasi dan hambatan. Memperhatikan esensi mencari keadilan dan memerangi kezaliman dalam revolusi ini, maka dapat dipastikan konspirasi-konspirasi musuh akan berlanjut. Kapasitas besar Republik Islam Iran termasuk bimbingan Rahbar, partisipasi rakyat dan implementasi UUD juga akan mengatasi berbagai skenario busuk musuh dan masalah internal. |