Dialog Ketiga Antara Imam Shadiq as dan Ibnu Abi Al-Auja
Hari ketiga, Ibnu Abi al-Auja' memutuskan untuk kembali melakukan dialog dengan Imam Shadiq as dan lebih dahulu berbicara. Untuk itu ia mendekati Imam Shadiq as dan berkata, "Hari ini saya ingin menanyakan sesuatu."
Imam menjawab, "Silahkan. Bertanyalah tentang apa saja yang engkau inginkan."
Ibnu Abi al-Auja' bertanya, "Apa argumentasinya dunia itu hadis atau baru (sebelumnya tidak ada kemudia ada)?"
Imam Shadiq as berkata, "Engkau bisa menggambarkan sesuatu itu kecil dan besar. Bila engkau menambahkan sesuatu yang sama dengannya maka benda itu menjadi lebih besar. Perpindahan dari kondisi pertama (kecil) ke kondisi kedua (besar) maka inilah makna baru. Bila sesuatu itu qadim atau lama (sejak awal sudah ada) maka ia tidak akan menjadi sesuatu yang lain. Karena setiap sesuatu yang bisa hancur dan berubah punya potensi untuk ada dan binasa. Dengan demikian, menjadi ada setelah sebelumnya tidak ada memberikan bentuk hadis atau baru. Bila diasumsikan bahwa ia sebelumnya ada atau qadim, maka ia akan berubah dengan menjadi lebih besar dan kondisinya adalah hadis. Inilah penjelasan tidak qadimnya segala sesuatu. Dan sesuatu tidak mungkin sejak dahulu ada atau azal dan tidak ada atau bisa hadis sekaligus juga qadim."
Ibnu Abi al-Auja' bertanya kembali, "Asumsikan bahwa kondisi kecil dan besar yang Anda sampaikan itu sama dan tidak berbeda baik di masa lalu dan akan datang. Kondisi ini menunjukkan hadis atau barunya dunia. Tapi bila kondisi semuanya tetap kecil, maka apa argumentasi Anda terkait hadis atau barunya mereka?"
Imam Shadiq as menjawab, "Inti pembicaraan kita adalah dunia yang ada saat ini dan sedang berada dalam kondisi berubah. Bila kita ambil dunia ini dan membayangkan dunia yang lain untuk dijadikan pembahasan kita, maka kita harus menerima dunia telah hancur dan dunia lain yang menggantikannya. Ini juga makna hadis atau baru yang kita bahas itu. Baiklah. Kini saya akan menjawab asumsimu bahwa setiap yang kecil tetap dalam bentuknya.
Katakanlah bahwa kita sepakat bahwa setiap yang kecil tetap pada bentuknya. Tapi di dunia ini, asumsi yang benar itu adalah setiap benda kecil bila digabungkan dengan benda kecil lainnya maka ia akan menjadi lebih besar. Bila kita menerima gambaran semacam ini, maka itulah yang disebut perubahan dan menggambarkan hadis atau barunya sesuatu."
Imam Menambahkan, "Wahai Abdul Karim! Apakah engkau masih punya pendapat lain di hadapan penjelasan ini?"
Kematian Tiba-Tiba Ibnu Abi Al-Auja
Setahun berlalu dari dialog Ibnu Abi al-Auja' dengan Imam Shadiq as di Mekah. Kali ini seperti tahun lalu, Ibnu Abi al-Auja' kembali mendatangi Imam Shadiq as di dekat Ka'bah.
Salah seorang pengikut Imam Shadiq as berkata, "Wahai Imam! Apakah Ibnu Abi al-Auja' sudah memeluk Islam?"
Imam menjawab, "Hatinya sudah buta dengan Islam. Ia tidak akan pernah menjadi seorang muslim."
Ketika Ibnu Abi al-Auja' melihat wajah Imam dengan segera ia berkata, "Wahai tuan dan junjunganku!"
Imam bertanya, "Mengapa engkau datang ke sini?"
Ibnu Abi al-Auja' berkata, "Saya datang untuk melihat adat dan tradisi negeri ini guna dapat menyaksikan dari dekat kegilaan, menggunduli kepala dan lemparan batu masyarakat yang dilakukan di musim haji."
Imam berkata, "Apakah engkau masih tetap dalam sikap keras kepala dan kesesatanmu?"
Ibnu Abi al-Auja' sejak awal berharap Imam mengeluarkan ucapan ini.
Imam kemudian berkata kepadanya, "Berdebat tida boleh dilakukan di musim haji."
Kemudian Imam menggerakkan jubahnya dan berkata, "Bila hakikat adalah yang kami yakini dan memang demikian adanya, maka yang beruntung adalah kami dan bukan engkau. Tapi bila engkau yang benar dan tidak demikian adanya, maka kami dan engkau sama-sama beruntung. Dalam dua kondisi ini, kami tetap menjadi yang beruntung, tapi engkau akan binasa dalam satu kondisi."
Mendengar ucapan Imam Shadiq as, tiba-tiba wajah Ibnu Abi al-Auja' berubah dan kondisinya langsung memburuk. Ia kemudian melihat orang-orang yang ada di sekitarnya dan berkata, "Aku merasakan sakit di dadaku. Tolong antarkan saya kembali."
Ketika mereka mengembalikannya ke tempat tinggalnya, ia kemudian meninggal dunia dan Allah tidak mengampuninya. (IRIB Indonesia / SL)
Sumber: Dastanha-ye Usul Kafi, Mohammad Mohammadi Eshtehardi, 1371Hs, jilid 1.