Riwayat Qaraati: Mengikat Janji dengan Imam Ridha as

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Mengikat Janji dengan Imam Ridha as

 

Selama satu tahun saya berada di Mashad menziarahi Imam Ridha as. Di makam Imam Ridha as saya mengikat janji dengan beliau bahwa saya akan mengajar para pemuda dan semua kalangan masyarakat secara gratis selama satu tahun dan sebaliknya, saya meminta agar Imam Ridha as hendaknya mohon kepada Allah agar saya ikhlas dalam mengerjakan pekerjaan ini.

 

Waktu bergulir dan saya pun sudah mulai sibuk mengajar. Suatu hari saya hadir dalam sebuah acara di masjid dan keluar darinya bersama-sama masyarakat yang hadir. Seorang pelajar agama yang berjalan di depan saya menoleh ke belakang. Padahal dia melihat saya tapi tidak menyapa dan terus berjalan.

 

"Jangan menoleh ke belakang atau kalau memang menoleh ke belakang, coba persilahkan saya,  "Silahkan anda berjalan terlebih dahulu!" kata saya dalam hati

 

Seketika itu juga saya ingat dengan janji yang saya ikat dengan Imam Ridha as. Saya menyadari kalau saya tidak ikhlas dan saya sangat sedih.

 

Saya berkata kepada diri saya sendiri bahwa terkait para wali Allah al-Quran berkata, "La Nuriidu Minkum Jazaa'an Walaa Syukuran...Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (QS. Insan:9).

 

Mereka para wali Allah tidak meminta upah dan tidak juga berharap orang lain mengucapkan terima kasih kepada mereka. Saya mengerjakan pekerjaan secara gratis tapi berharap masyarakat menghormati saya!

 

Saya pergi mendatangi Ayatullah Mirza Javad Ahga Tehrani dan menceritakan kejadian yang saya alami tersebut untuk mendapatkan jalan keluar. Tiba-tiba ulama tua ini menangis. Saya pun khawatir, jangan-jangan hal ini membuat beliau terganggu, akhirnya saya meminta maaf dan menanyakan apa sebabnya beliau menangis.

 

Beliau berkata, "Pergilah ke makam Imam Ridha as dan ucapkan terima kasih kepadanya! Karena sejak sekarang kamu menyadari bahwa kamu tidak ikhlas. Saya takut akan diri saya sendiri kalau sampai terjadi di akhir usia saya dengan jenggot yang sudah putih ini, di usia sembilan puluh tahun saya tidak ikhlas, sementara saya tidak menyadarinya."

 

Tawassul kepada Imam Ridha as

 

Di tahun-tahun sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, ketika saya baru mulai menyelenggarakan kelas dan mengajar para pemuda di Kashan, saya bermaksud pergi ke Mashad untuk menziarahi Imam Ridha as. Di makam beliau saya berkata, "Alangkah bagusnya kalau dalam beberapa hari selama saya di sini saya selenggarakan acara sekaligus kelas.

 

Seketika itu juga datang seorang ulama yang saya kenal dan berkata, "Pak Qaraati, para guru agama akan mengadakan rapat, mari gabung bersama kami. Saya pun pergi bersamanya dan di sana saya melihat sebuah rapat besar dan hadir juga orang-orang seperti Ayatullah Khamenei, Syahid Murtadha Mutahhari, Syahid Bahonar dan Syahid Beheshti.

 

Saya meminta izin untuk berbicara selama lima menit dan mereka mengizinkan. Saya pun menyampaikan beberapa poin dengan menyebutkan contoh dan perumpamaannya. Mereka sangat menerima apa yang saya sampaikan. Bahkan ketika saya berbicara, Syahid Murtadha Mutahhari tertawa sampai kursinya hampir jatuh. Almarhum Syahid Beheshti berkata, "Sejak lama saya berpikir, mungkinkah agama disampaikan kepada masyarakat dengan dibarengi perumpamaan dan tawa, dan kini saya melihatnya.

 

Di akhir rapat, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei yang pada masa itu sebagai imam shalat jamaah di salah satu masjid penting di Mashad mengundang saya ke rumahnya. Setelah menyambut dan menyuguhi saya, beliau memberikan satu kamar kepada saya, kemudian membawa saya ke masjid tempat beliau mengimami shalat. Masjid yang beliau kelola sangat ramai dan banyak pemuda yang hadir di sana.

 

Ayatullah Khamenei berkata, "Pak Qaraati, kapan saja anda berada di Mashad, silahkan tinggal di sini dan selenggarakan kelas untuk masyarakat dan para pemuda."

 

Semangat Belajar

 

Saya bangga di Qom selama beberapa bulan menjadi tuan rumah bagi Syahid Murtadha Mutahhari. Ketika beliau hendak kembali ke Tehran, saya juga ikut bersamanya untuk mendapatkan ilmu dari beliau selama perjalanan.

 

Suatu hari beliau berkata, "Sebagian orang berkeyakinan bahwa ketika Imam Mahdi af muncul, beliau sendiri yang akan menyelesaikan kezaliman dan semua permasalahan dan tidak memerlukan usaha dan kebangkitan kita. Keyakinan dan ucapan seperti ini tidak benar."

 

Iya, mereka yang menunggu terbitnya matahari di hari esok, malamnya tidak berdiam diri dalam kegelapan. Setidak-tidaknya mereka menyalakan sebuah lentera atau lampu.

 

Bicara Mudah, Bukan Bicara Hambar

 

Saya ingat akan sebuah ucapan yang dikatakan kepada saya oleh dua manusia penting. Mereka adalah Ayatullah Haj Agha Murtadha Hairi dan Ayatullah Syahid Dr. Beheshti. Mereka berkata, "Qaraati, Jangan engkau katakan aku hanya sebagai gurunya anak-anak, sehingga bicaramu hambar. Bicaralah yang mudah tapi jangan yang hambar. Bangunlah generasi ini sebaik-baiknya dan bicaralah untuk mereka, sehingga ketika generasi baru yang lain datang, mereka bisa melanjutkannya dan membangun generasi baru tersebut."

 

Al-Quran berkata, "...Wa Quuluu Qaulan Sadiidan." Katakan perkataan yang kuat dan berargumentasi. (QS. Ahzab:70) (IRIB Indonesia / ENH)

 

Sumber: Khaterat Hujjatul Islam Qaraati, Jilid 1.

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description