Kisah Pernikahan Syahid Murtadha Muthahhari

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Kisah pernikahan Syahid Murtadha Muthahhari diceritakan oleh Ahmad Arablu dalam bukunya yang berjudul "Proses merupakan sebuah peristiwa yang tidak pernah berakhir", Sebuah kisah tentang kehidupan Syahid Muthahhari. Mengingat dari sisi materi beliau termasuk orang yang tidak begitu mampu, siapakah yang siap untuk menjadi pasangan hidupnya sekaligus menjadi faktor kemajuan dan kecemerlangan keilmuannya? Dari semua kebaikan yang beliau miliki, salah satunya adalah beliau senantiasa bertawakal kepada Allah dalam segala urusan.

 

Murtadha Muthahhari telah memilih putri gurunya Ayatullah Rouhani untuk menjadi pendamping hidupnya. Terkait riwayat ini istri beliau menceritakan:

 

"Waktu itu saya berusia sebelas tahun dan suatu malam saya bermimpi datang ke kamar ayah. Di kamar ayah ada selembar kertas jatuh di bawah. Ketika kertas tersebut saya angkat, di situ tertulis, "Si Fulan (yakni saya) akan menikah dengan Murtadha pada tanggal 29. Saya betul-betul keheranan dengan mimpi ini, namun saya tidak menceritakannya kepada siapa pun  sampai beberapa lama.

 

Banyak peminang datang meminang saya, namun ibu saya tidak menerimanya. Sampai akhirnya ketika saya berusia tiga belas tahun, Ustad Muthahhari datang meminang saya. Ibu saya betul-betul tidak menyetujuinya karena ibu saya besar di dalam keluarga non rohaniwan dan kaya raya. Ibu saya berkata, "Aku tidak akan mengawinkan putriku dengan seorang rohaniwan."  Namun setelah beberapa lama akhirnya ibu menyetujui pernikahan kami. Tanggal 23 ibu saya menyetujui dan saat itu juga Ustad Muthahhari mengatakan, "Tanggal 29 hari yang baik untuk menikah"  dan usulan disepakati. Pada tanggal 29 saya menikah dengan beliau dan telah jelas bagi saya hakikat mimpi tersebut."

 

Selanjutnya Arablu dalam bukunya menceritakan tentang wawancaranya dengan istri Syahid Muthahhari tentang keutamaan dan akhlak suaminya.

 

Di dalam riwayat keenam penulis menceritakan tentang perpindahan Ustad Muthahhari dari Qom ke Tehran dan masa itu merupakan masa-masa paling sulit dalam kehidupan Ustad Muthahhari.

 

Selain mengajar di Madrasah Sepah Salar dan banyak anak muda dan mahasiswa yang tertarik untuk ikut hadir di kelas beliau, Ustad Muthahhari setiap minggu juga menemui gurunya Imam Khomeini ra dan ikut hadir di kelas yang diajar oleh Allamah Thabathabai di Qom. Pada akhirnya suatu hari para pengurus perguruan tinggi ilahiah Universitas Tehran mengambil keputusan untuk menugaskan sebagian rohaniwan melalui tes.

 

Mohammad Taqi Muthahhari saudara Syahid Muthahhari menceritakan tentang masuknya beliau ke Universitas Tehran dan bagaimana Syahid Muthahhari mengikuti ujian:

 

Ujian tulis berlangsung selama delapan hari, kemudian ujian lisan. Di hari ketika ujian lisan akan berlangsung, Mirza Ahmad Khan Saidi berjalan di belakang Ustad Muthahhari seraya berkata, "Muthahhari telah menjawab ujian tulis dengan baik, selanjutnya bagaimana dia akan menjawab ujian lisan?"

 

Ujian diambil dari buku Manzumah Haj Mulla Hadi Sabzvari. Ustad Muthahhari membuka buku tersebut dan membahasnya kemudian dilanjutkan ke pembahasan Isyarat dan dari Isyarat ke Asfar. Seketika itu Ustad Rashid menghadap ke Ustad Muthahhari seraya berkata, "Sebentar! Kami tidak punya nilai di atas 20. Nilai Anda 20! Sekarang lanjutkan pembahasannya dan kami akan mendengarkannya."

 

Ujian telah selesai. Guru menjadi murid dan murid menjadi guru. Ustad Muthahhari menjelaskan pembahasannya sampai selesai selama satu setengah jam. Ustad Rashid mengatakan, "Aku betul-betul beruntung mendapatkan ilmu" dan kalimat ini dia ulang sampai dua kali. (IRIB Indonesia/ENH)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description