Dampak Sikap Tebar Fitnah Qaradhawi

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Syeikh Yusuf Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Dunia yang berdomisili di Qatar memulai babak baru Islamphobia dan Syiahphobia. Qaradhawi tidak hanya menyeru para pemuda bermazhab Ahli Sunnah untuk pergi ke Suriah berperang bersama kelompok-kelompok bersenjata melawan pemerintah Bashar Assad, tapi juga mengklaim warga Iran punya rencana untuk membantai pengikut Ahli Sunnah. Syeikh Yusuf Qaradhawi juga menyebut Sayid Hasan Nasrullah sebagai taghut dan menyebut Hizbullah sebagai Hizbusyaithan. Pada saat yang sama, Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Al Syeikh, Mufti Agung Arab Saudi memuji dan mendukung pernyataan tak berdasar dan fanatisme Yusuf Qaradhawi terkait Hizbullah dan Iran.

 

Syeikh Yusuf Qaradhawi setelah tinggal di Qatar dan menjadi ulama istana Qatar dan berkat dukungan televisi Aljazeera akhirnyamendapat posisi di kalangan politik dan media. Fatwa-fatwa ulama ekstrim ini lebih banyak memperluas perselisihan antara Syiah dan Sunni yang masih dalam kerangka Islamphobia dan Iranphobia negara-negara Barat. Patut disayangkan Syeikh Yusuf Qaradhawi kemudian terjebak dalam rencana rezim Zionis Israel dan negara-negara Barat untuk menciptakan perang mazhab di negara-negara Islam, serta memperkuat posisi rezim penjajah Israel.

 

Arab Saudi dan Qatar merupakan pendukung utama kelompok-kelompok bersenjata di Suriah yang ingin menumbangkan pemerintah Bashar Assad. Kelompok-kelompok bersenjata ini berperang dengan militer Suriah dalam bingkai politik rezim Zionis Israel dan pendukung Baratnya untuk mengeluarkan Suriah dari garis terdepan muqawama dalam menghadapi Israel. Syeikh Yusuf Qaradhawi sendiri termasuk dari orang-orang yang memberikan legitimasi kelompok-kelompok bersenjata di Suriah. Saat ini kelompok-kelompok takfiri praktis hampir menghancurkan seluruh negara dan bangsa Suriah dengan alasan kebebasan.

 

Mereka pada dasarnya menjadi wakil dari negara-negara Barat, Turki, Qatar dan Arab Saudi memasuki Suriah dan melakukan banyak kejahatan dan teror. Sebagian media-media independen berhasil mengungkap kebengisan mereka. Menyusul kekalahan kelompok teroris di Suriah, Syeikh Yusuf Qaradhawi dan ulama fanatik yang dipenuhi kedengkian berusaha membohongi para pemuda dengan fatwa-fatwa sesat agar mau pergi berperang di Suriah. Fatwa-fatwa ini seiring dengan keinginan negara-negara Barat, sehingga Yusuf Qaradhawi sekarang dikenal dengan Syeikh atau Mufti NATO. Ia bahkan berani menjamin bahwa kelompok-kelompok takfiri tidak akan membahayakan rezim Zionis Israel.

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar dalam pidatonya saat memperingati hari Mab'ats, hari dimana Nabi Muhammad diutus menjadi nabi menegaskan agar umat Islam menjauhi sikap berselisih dan menekankan persatuan antara umat Islam. Rahbar dalam pertemuan dengan para pejabat tinggi negara, Duta Besar negara-negara Islam, dan sejumlah keluarga syuhada menyatakan bahwa tugas paling penting bagi umat Islam dalam kondisi saat ini adalah waspada, mengenal peta jalan dan mengenal agenda musuh. Beliau menekankan bahwa agenda utama musuh adalah menebar perselisihan dan konflik di tengah umat Islam. Karena itu, yang paling diperlukan saat ini oleh umat Islam adalah persatuan, kesepakatan, kerjasama dan solidaritas.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan bahwa saat inipun seruan yang dikumandangkan Islam juga menghadapi gangguan dan penentangan dari musuh-musuh Allah. Beliau menegaskan, "Setelah seruan ajaran-ajaran yang datang dari selain Allah seperti marxisme dan liberalisme gagal mengantarkan umat manusia kepada kesejahteraan, saat ini hati dan mata umat manusia tertuju kepada Islam. Tak heran jika Islam yang diyakini sebagai pusat pemikiran keadilan dan kemuliaan manusia menjadi sasaran aksi-aksi permusuhan yang masif." Salah satu contoh permusuhan itu, kata beliau, adalah penistaan yang mereka lakukan terhadap Nabi Muhammad Saw. Beliau mengatakan, "Tak bisa dipercaya bahwa penistaan terhadap Islam dan permusuhan terhadap Islam di dunia ini terjadi tanpa didasari oleh program yang dirancang oleh dinas intelijen kekuatan-kekuatan adidaya dan dukungan finansial mereka."

 

Rahbar mengingatkan bahwa permusuhan terhadap Islam ada kalanya dipicu oleh perilaku sebagian umat Islam seperti kejumudan dan sikap reaksionis. Sikap-sikap seperti ini dimanfaatkan adidaya dunia untuk menyulut kebencian terhadap Islam. Beliau menandaskan, "Ajakan kepada Islam harus disampaikan dengan tegas dan berani serta dengan menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Dengan cara itu, hati akan terpanggil untuk mengikuti Islam." Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Dalam menghadapi sikap permusuhan terhadap pesan-pesan yang dibawa Islam, kaum muslimin harus tegar dan resisten seperti yang dilakukan oleh Nabi Saw dan kaum muslimin sepanjang sejarah."

 

Lebih lanjut beliau menyinggung tentang keharusan umat Islam untuk bersikap arif dan mengenal dengan baik peta jalan dan program, baik yang ada di tangan kaum muslimin maupun yang dimiliki oleh musuh. Seraya menyebutnya sebagai hal yang sangat diperlukan, beliau mengungkapkan, "Agenda utama musuh adalah menebar perselisihan di tengah kaum muslimin dan permusuhan di antara pengikut berbagai madzhab Islam. Dengan cara ini, musuh bisa menyibukkan umat dan memalingkan perhatiannya dari agenda sebenarnya yang dirancang oleh musuh, yaitu kaum kapitalis bejat dan kaum zionis keji yang merampas negeri bangsa lain." Ayatullah al-Udzma Khamenei menambahkan, "Kaum muslimin termasuk bangsa-bangsa Muslim, para politikus dan cendekiawan harus mengetahui peta jalan musuh sehingga bisa merancang agenda untuk melawannya dan tidak sampai melakukan kesalahan."

 

Di tingkat negara-negara Islam, pernyataan tebar fitnah dan perpecahan Syeikh Yusuf Qaradhawi mendapat reaksi yang luas. Sayid Sadr ad-Din Qabanji, Imam Jumat Najaf al-Asyraf di khutbah Jumatnya mengatakan, "Qaradhawi semestinya menyeru umat Islam untuk bersatu, tapi yang dilakukannya justru mengajak umat Islam kepada fitnah. Pernyataannya tidak dapat diterima dalam agama Islam sebagai agama persatuan."

 

Persatuan Ulama Syam dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan menegaskan, "Fatwa-fatwa takfiri Syeikh Yusuf Qaradawi dan provokasinya untuk penumpahan darah di Suriah keluar dari Ushuluddin, Hadis dan Sunnah Nabi Muhammad Saw" Persatuan Ulama Syam ini dalam pernyataannya menyebutkan, perilaku dan kinerja Qaradawi sebagai Ketua Persatuan Ulama Internasional telah menyoal posisi lembaga ini. Dalam pernyataan itu juga disebutkan bahwa umat Islam benar-benar membutuhkan tokoh yang melindungi darah anak-anaknya dan berusaha mencari solusi dari fitnah yang telah menjerumuskan umat ke dalam nasib yang tidak menentu dan akhir yang tidak jelas.

 

Koran El Watan Aljazair mengritik keras sikap Qaradhawi dalam tulisannya, "Menurut kami, Syeikh Yusuf Qaradhawi yang berkali-kali mengeluarkan fatwa terkait revolusi-revolusi Arab, sekarang sudah tidak punya kesucian lagi. Karena secara serampangan ia telah menggunakan posisi keagamaannya melayani diplomasi rezim Qatar." Surat kabar Aljazair ini mengumpamakan peran tebar fitnah Qaradhawi ini dengan ungkapan "Burung perdamaian yang rencananya akan turun, telah kembali terbang dikarenakan Qaradhawi dan yang menggantikannya adalah burung elang sang pemangsa."

 

Semua ini merupakan reaksi atas pernyataan tebar fitnah Yusuf Qaradhawi yang membolehkan pembantaian anak-anak dan wanita hanya dikarenakan mereka Alawi. Tapi apakah fatwa yang semacam ini sejalan dengan ajaran Islam? Apakah ada dalam al-Quran yang menyebutkan bila ada orang yang tidak sepaham dengan kita, harus dibunuh? Di masa Nabi Muhammad Saw, ketika ada orang non muslim yang tinggal di daerah kekuasaan Islam dan tidak mengangkat senjata melawan Islam, maka haknya sama dengan umat Islam yang lain. Lalu Syeikh Yusuf Qaradhawi bersandarkan pada ayat dan riwayat yang mana menganggap orang-orang Alawi lebih buruk dari Yahudi dan Kristen dan oleh karenanya membunuh mereka menjadi halal?(IRIB Indonesia)

Tags:


4Comments

Comments

Name
Mail Address
Description