Rusia dan Perannya Sebagai Penawar di Suriah

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Krisis Suriah sedang melalui masa-masa krusial yang dibarengi dengan tsunami propaganda media massa tendensius. Kekuatan-kekuatan adidaya meningkatkan pengaruh mereka dalam krisis ini dan berusaha menjaga kepentingan masing-masing.

 

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dalam kunjungannya ke Moskow pada tanggal 7 Mei lalu, mengisyaratkan kesepakatan pelaksanaan sebuah konferensi internasional di Jenewa, Swiss. Akan tetapi, tampaknya kedua pihak tetap akan menempuh jalan yang berbeda terkait krisis Suriah. Tidak ada indikasi tentang adanya kompromi antara Amerika Serikat dan Rusia.

 

Mengingat dukungan tegasnya terhadap pemerintah Suriah, Rusia menekankan pada solusi Suriah-Suriah. Sejak awal krisis dimulai, Rusia selalu menegaskan dialog Suriah-Suriah tanpa campur tangan pihak asing khususnya Amerika Serikat yang terus berupaya mengobarkan api instabilitas.

 

Krisis Suriah, selain merupakan krisis regional juga telah menjadi berubah menjadi isu internasional. Dalam transformasi terbaru, pasca pengumuman bantuan militer "non-mematikan" dari Amerika Serikat dan kemungkinan pengiriman paket yang sama dari negara-negara Barat kepada kelompok teroris, Rusia memutuskan untuk menjual rudal jelajah anti-kapalnya kepada Suriah. Sergei Lavrov, pada hari Jumat (17/5) kepada para wartawan mengatakan, "Kami tidak menyembunyikan pengiriman senjata ke Suriah berdasarkan kesepakatan kedua negara. Pengiriman senjata ini tidak melanggar ketentuan internasional atau ketentuan kami."

 

Sejak beberapa tahun terkahir, Rusia menjual rudal tipe Yakhont kepada Suriah. Panjang rudal ini mencapai enam meter dan memiliki daya tempuh hingga 290 kilometer. Rudal tersebut juga mampu dipasang dua hulu ledak. Disebutkan pula bahwa dalam kiriman terbarunya ke Suriah, Rusia menyertakan sistem radar mutakhir. 

 

Di sisi lain, televisi nasional Siprus Jumat pagi (17/5) menayangkan tiga kapal Rusia yang merapat di pelabuhan Limasol. Armada laut Rusia itu meliputi sebuah destroyer, sebuah kapal tanker dan satu kapal patroli. Ketiga kapal ini adalah armada Rusia di Atlantik dan pekan lalu telah melintasi Kanal Suez. Spiegel Online juga menyebutkan bahwa dua kapal tempur Rusia berpatroli di antara pelabuhan Siprus dan Suriah.

 

Sebelumnya, Lavrov menyatakan bahwa Rusia akan menyerahkan sistem rudal S-300. Rabu (14/5) dalam kunjungannya ke Polandia menyatakan bahwa Moskow tidak berniat menandatangani kesepakatan baru untuk menjual rudal ke Damaskus dan hanya akan menyerahkan sistem rudal S-300 dalam kesepakatan sebelumnya.  Lavrov dalam mereaksi protes negara-negara Barat dan Amerika Serikat menekankan bahwa S-300 merupakan sistem defensif dan penjualannya ke Suriah tidak melanggar kesepakatan internasional. Sumber-sumber di Rusia Jumat (17/5) menyebutkan, empat sistem pertahanan rudal S-300 yang penjualannya telah ditandatangani pada tahun 2010, telah diserahkan kepada militer Suriah dan telah dipasang di empat titik negara itu dengan dihadiri para penasehat militer Rusia.

 

Seluruh kebijakan Moskow dalam hal ini mengindikasikan bahwa masalah Suriah telah menjadi isu strategis bagi Rusia. Penuntasan krisis di Libya telah menjadi preseden buruk bagi Rusia yang sebelumnya meremehkan campur tangan Barat dengan berbagai alasan. Karena pada hakikatnya Moskow kecolongan di Libya dan sekarang Rusia sejak awal sudah menunjukkan penentangan tegas atas segala bentuk intervensi Barat. Di lapangan, Rusia telah mengambil berbagai langkah untuk menutup peluang intervensi militer di Suriah.

 

Alhasil, kondisi krisis Suriah saat ini lebih seimbang dan Barat sudah tidak dapat lagi merusak keseimbangan tersebut di bidang militer. Dalam hal ini, Rusia sebagai sebuah kekuatan adidaya dan pemain internasional penting, berperan urgen dalam hal ini. (IRIB Indonesia/MZ)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description