Riwayat Heroisme Perang Pertahanan Suci dalam Sinema dan Sastra

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Perang yang dipaksakan oleh rezim Irak terhadap Iran, merupakan salah satu perang terpanjang pada abad 20. Perang yang memiliki pengaruh besar dalam berbagai dimensi kehidupan warga Iran serta mengubah struktur ekonomi, hubungan sosial, politik, kebudayaan dan seni bangsa ini. Perang selama delapan tahun ini menjadi bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari sejarah Iran yang kisah-kisahnya disampaikan dalam berbagai format.

 

Di antara format terpenting yang menceritakan perang tersebut adalah adalah seni dan sastra. Dua sektor ini, mampu memberikan gambaran terdekat seluruh aspek dalam perang delapan tahun itu dengan menggunakan sarana seperti sinema, teater, musik, lukisan dan penulisan berbagai macam buku. Para seniman Iran baik pada saat perang berlangsung maupun era pasca perang yang telah 24 tahun berlalu, menjadi mercu suar dan menceritakan seluruh ungkapan, kisah dan peristiwa dalam perang tersebut. Tidak sedikit pula, orang yang terjun di medan perang, menggeluti bidang seni dan sastra setelah perang berakhir, untuk menceritakan kisah mereka atau menciptakan sebuah karya tentang Perang Pertahanan Suci.

 

Buku dan sinema menjadi dua elemen paling penting di bidang seni Pertahanan Suci dalam menyampaikan pesan kepada generasi baru tentang heroisme dan pengorbanan para pahlawan bangsa. Dunia perfileman Iran memberikan gambaran jelas dari berbagai peristiwa dan kondisi para era perang pertahanan suci. Pemasaran film-film bertema Perang Pertahanan Suci juga mendapat sambutan hangat dari masyarakat khususnya dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, buku-buku yang meriwayatkan catatan dan kenangan para pahlawan di medan terdepan maupun di front belakang, serta mereka yang tertawan, mendapat apresiasi masyarakat bahkan sampai dicetak hingga puluhan kali. Sebagian di antaranya juga bahkan berhasil memecahkan rekor.

 

Tanggal 24 Mei, hari peringatan pembebasan Khoramshahr pada tahun 1982, adalah hari yang tidak dapat dilupakan oleh bangsa Iran. Pada hari itu, kota pelabuhan strategis Khoramshahr berhasil dibebaskan dari cengkeraman musuh setelah perjuangan selama 578 hari. Sejak itu, hari pembebasan Khoramshahr dijadikan sebagai simbol perjuangan, pengorbanan dan kepahlawanan oleh bangsa Iran. Mendekati peringatan tersebut, ditayangkan sebuah film berjudul "Malakeh" di bioskop ibukota. Film tersebut disutradari oleh Mohammad-ali Bashe Ahangar.

 

Film Malakeh, memiliki alur cerita menarik kehidupan seorang pengawas di kilang minyak Abadan, di Iran selatan, di masa-masa akhir Perang Pertahanan Suci. Sebuah kisah yang memvisualisasi panasnya api, ancaman kematian, kekhawatiran mencekam dan berbagai fakta yang tidak dapat dipungkiri dalam perang. Siyavash, adalah seorang tentara penjaga yang sedang mencari kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya di medan perang. Dia menemukan sebuah menara terpencil yang dari situ dia dapat mengidentifikasi titik-titik vital dan penting musuh. Ini adalah sebuah kesempatan emas bagi pihak Iran, akan tetapi dengan munculnya karakter ilusi, muncul pula kekhawatiran dan keraguan pada diri Siyavash. Mendadak kesempatan untuk memuntahkan tembakan ke arah musuh menjadi sebuah momok mengerikan. Akan tetapi setelah dia berhasil melalui keragu-raguannya, Siyavash sampai pada keyakinan bahwa dia tidak punya pilihan lain kecuali bertahan demi menjaga bangsa dan tanah airnya.

 

Film Malakeh, menggambarkan secara menarik pertentangan afeksi dalam diri seseorang dalam menyikapi fakta. Malakeh, adalah riwayat lebah-lebah yang tetap menyengat meski mereka tahu akan mati setelahnya. Karena lebah-lebah itu berpendapat bahwa rumah mereka lebih berharga dari nyawa mereka. Dalam film ini juga dijelaskan dengan baik guncangan dalam perang, akan tetapi ketika yang dipertaruhkan adalah tanah air dan keyakinan, maka menjejakkan kaki ke medan perang menjadi sebuah taklif dan kewajiban. Sang sutradara, Mohammad-ali Bashe Ahangar, termasuk di antara mereka yang merasakan pahitnya perang sehingga dia mampu memvisualisikan pengalamannya kepada pemirsa. Dia mampu menyuguhkan riwayat heroisme dan seluruh aspek dalam perang itu dengan gaya pemikiran masyarakat modern.

 

Para pemeran dalam film Malakeh sukses dalam memerankan karakter yang rumit dan pelik. Salah satu keunggulan film ini adalah perhatian mendalam naskah terhadap dimensi kemanusiaan dalam perang ditambah dengan kemampuan akting yang tinggi. Film Malakeh juga tidak melupakan sisi kualitas teknis, pengambilan gambar dan efek-efeknya. Pada Festival Film Fajr, Malakeh memboyong penghargaan musik terbaik, screening dan kostum terbaik, efek visual terbaik. Selain itu, film pilihan dewan juri mahasiswa pada festival film Siprus juga dijatuhkan kepada film Malakeh.

 

Adegan terakhir film Malakeh, menjadi klimaks terbaik untuk mengakhiri riwayat yang sangat fluktuaktif. Pada adegan tersebut, Sami, seorang anak asal Abadan, yang melalui masa kecilnya bersama pejuang, 20 tahun setelah perang berakhir dan menjadi seorang insinyur muda, sedang menatap kota dan berbincang dengan ruh kawannya yang syahid. Adegan ini menggambarkan harapan untuk masa depan dengan berbekal kebanggaan di masa lalu.

 

 "Buku ini dipersembahkan untuk kolonel Irak, Walid Farhan, pemimpin Kamp 16 Tikrit." Demikian kata sambutan pada halaman pertama buku "Kaki yang Tertinggal" yang telah sampai pada cetakan ke-20. Buku ini memiliki daya tarik dan pesona istimewa. Setelah beberapa saat membaca, kita akan menyadari bahwa semua kisah dalam buku ini benar-benar nyata. Riwayat menarik Sayid Naser Hosseinipour tentang masa-masa penahanannya sebagai tawanan perang serta catatan dari penjara-penjara rahasia rezim Baats Irak, menjadi poros utama buku "Kaki yang Tertinggal".

 

Tidak seperti sebagian besar riwayat dan buku, yang kisahnya berawal dari kamp-kamp tahanan, buku ini justru bermula dari masa-masa sebelum penangkapan, kemudian proses penangkapan dan juga perilaku para tentara Irak terhadap perawi. Rincian dialog dan bahkan debat yang terjadi antaranya dan para interogator Irak, menjadi salah satu keunggulan buku ini. Disebutkan pula tentang penjelasan perang dan kekeliruan rezim Saddam dalam perang tersebut dari mulut para tentara Irak.

 

Perawi buku ini ditawan ketika dia berusia 16 tahun. Dia kehilangan satu kakinya akibat ledakan bom dan akhirnya dia tertawan. Dia mendekam dalam kamp tahanan rahasia di Irak bersama 22 ribu tawanan Iran yang dinyatakan hilang. Nama puluhan ribu tawanan Iran itu tidak tercatat dalam list Palang Merah Internasional dan penahanan mereka dirahasiakan oleh rezim Saddam Hossein. Oleh karena itu, tidak ada orang yang tahu jika terjadi sesuatu pada para tahanan Iran tersebut. Di dalam kamp yang berjarak 15 kilometer dari Tikrit itu, sebanyak 320 tawanan Iran gugur syahid, dan pasca pembebasan para tawanan rezim Baats Irak mengaku tidak menahan para syuhada tersebut.

 

Perawi mampu menjelaskan seluruh peristiwa bersama perinciannya dengan gaya bahasa yang mengalir dan mudah. Sampai Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam catatannya untuk buku "Kaki yang Tertinggal" menulis, "Sampai sekarang, tidak ada buku yang saya baca dan tidak ada ucapan yang saya dengar yang menceritakan kisah para pejuang kita yang dicengkeram oleh para pengecut Baats Irak, seperti yang dijelaskan dalam buku ini. Ini merupakan sebuah riwayat istimewa yang mengisahkan berbagai peristiwa menyayat yang menggambarkan ketabahan dan keteguhan para pejuang kita di satu sisi, dan kebengisan serta brutalitas tentara Saddam di sisi lain, kepada para pembaca secara terperinci. Para pembaca pada saat yang sama merasakan ketakjuban, kemuliaan dan kebesaran di satu sisi, dan juga merasakan kesedihan, kemarahan dan kebencian di sisi lain."(IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description