Gelombang Baru Islamophobia di Inggris
Tersebarnya film dan berita mengenai terbunuhnya seorang tentara Inggris di jalan John Wilson Woolwich, sebelah tenggara London, meningkatkan kekhawatiran minoritas muslim atas eskalasi Islamophobia di negara itu.
Pada Rabu (22/5) pukul 14.20 waktu setempat, seorang tentara Inggris bernama Lee Rigby tewas ditikam dua pemuda kulit hitam yang diindikasi muslim. Sebelum menjadi anggota batalion dua resimen infantri tentara pengamanan Ratu Inggris, Rigby pernah bertugas di provinsi Helmand Afghanistan pada tahun 2009.
Komisi HAM Islam Inggris mengkritik meningkatnya propaganda anti-Islam menyusul tewasnya Lee Rigby, dan mendesak penghentian kampanye kebencian terhadap Muslim. Lembaga ini melayangkan surat kepada kepala kepolisian London untuk menyerukan perhatian serius pihak kepolisian dalam menghadapi kelompok ekstrem dan rasis yang mengail ikan di air keruh dengan menyebarkan propaganda Islamophobia. Komisi HAM Inggris juga meminta pihak kepolisian untuk menjaga keamanan sekitar mesjid, sekolah dan institusi Islam lainnya dari kemungkinan serangan kelompok ekstrem.
Insiden tewasnya tentara Inggris berusia 25 tahun memicu reaksi dari berbagai kalangan, termasuk media massa negara itu. Sebagian dari media massa Inggris mengaitkan insiden penyerangan dengan paham radikal dalam Islam. Dampaknya, minoritas Muslim di sejumlah wilayah di Inggris dalam beberapa hari lalu menjadi sasaran kebencian kelompok ekstrim dan rasis.
Sejumlah media massa Inggris mengaitkan tewasnya Rigby dengan dengan aksi terorisme. Media Inggris melaporkan bahwa pelaku mengaku membunuh Rigby sebagai bentuk balas dendam atas pembunuhan yang dilakukan tentara Inggris di negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah. Insiden ini menyulut gelombang baru Islamophobia di Inggris yang diperkirakan akan menyebar luas ke negara lain.
Besarnya pengaruh media yang meliput aksi ini menyebabkan Perdana Menteri Inggris yang sedang berada di Prancis menghentikan kunjungannya setengah jalan. Cameron kembali ke London untuk menggelar rapat darurat membahas insiden tersebut. Pada hari Kamis, Cameron menyampaikan belasungkawa kepada prajurit yang tewas dalam serangan Woolwich Rabu siang. Menlu Inggris menegaskan tekad bulatnya melawan radikalisme dan ekstremisme.
Walikota London mengatakan aksi ini dilakukan oleh individu dan tidak boleh dikaitkan dengan umat Islam. Meski demikian, sekitar 100 orang anggota kelompok rasis Liga Pertahanan Inggris (EDL) Rabu malam berunjuk rasa meneriakan slogan anti-muslim.
Masyarakat Muslim Inggris menyampaikan kecaman terhadap serangan yang menewaskan Lee Rigby. Islamic Center Woolwich dalam statemennya menyatakan bahwa komunitas Muslim Woolwich senantiasa menjalin hubungan terbaik dengan warga lain di wilayah itu. Insitusi Islam Inggris ini mengecam aksi kejahatan dan mendesak hukuman berat bagi pelakunya.
Sementara itu, Komite Urusan Masyarakat Muslim di Inggris (MPACUK) menilai insiden terbaru yang menewaskan tentara Inggris berkaitan erat dengan kebijakan luar negeri negara itu di negara-negara Muslim.(IRIBIndonesia/PH)