Pemikiran Imam Khomeini ra: Konspirasi Memarjinalkan Ulama dari Politik (Bagian Ketiga)
Berpartisipasi Politik Secara Bersama
Saya berharap kalian dengan kesucian hati mau bersama-sama dan mengajak masyarakat ke arah perbaikan serta yang lebih penting semua bersama-sama berpartisipasi politik. Kalian harus mengajak rakyat untuk ikut berpartisipasi politik. Jangan sampai ada gambaran bahwa ada orang baik yang meminggirkan dirinya dengan tangan memegang tasbih dan berzikir di masjid. Karena bila orang baik itu definisinya demikian, maka Rasulullah Saw dan Imam Ali as sudah pasti melakukan perbuatan itu. Sementara kita tidak pernah tahu dalam sejarah ada yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw dan Imam ali as mengisolasi diri dari kehidupan dan hanya duduk di masjid sambil berzikir. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, mereka hadir dalam setiap peristiwa dan terlibat dalam masalah politik.
Oleh karenanya, bila ada sebagian orang yang duduk menyendiri dan mengatakan bahwa kita harus mengisolasi diri adalah ucapan yang tidak benar. (Pidato di hadapan para Imam Jumat provinsi Khorasan, Sahifah Nour, jilid 17, hal 83)
* * *
Berpartisipasi Aktif dalam Politik Kunci Kemenangan
Saya telah mengatakan kepada ulama agar senantisa mengingatkan rakyat, begitu juga para mubalig bahwa partisipasi mereka di arena politik dan dukungan mereka kepada Republik Islam Iran, parlemen, pemerintah, mahkamah agung, militer, Pasdaran dan semuanya merupakan rahasia kemenangan yang akan kembali kepada kalian sendiri. Sebagai bentuk ucapan syukur akan nikmat kemenangan, kalian harus mengajak rakyat untuk berpartisipasi aktif dalam urusan politik. Rakyat tidak boleh membiarkan masalah yang dihadapi pemerintah, parlemen atau militer dan hanya memandangnya, tapi harus mengontrol dengan cara berpartisipasi aktif dalam urusan politik. Aktivitas kalian yang membuat Republik Islam Iran tetap hidup dan Insya Allah, aktivitas kalian ini akan tetap hidup dan berkembang. (Pidato di hadapan para Imam Jumat dan ulama provinsi Hamedan, Sahifah Nour, jilid 17, hal 95)
* * *
Mengisolasi Diri Termasuk Tipuan Iblis
Para ulama harus bersatu dan jangan sampai mengisolasi diri. Semua harus berpartisipasi aktif dalam urusan politik dan bersatu. Kita ingin menjaga Islam. Dengan mengisolasi diri, kita tidak dapat melindungi Islam.
Jangan pernah berkhayal bahwa dengan menarik diri dari urusan politik berarti kewajiban telah gugur untuk kalian. Karena yang terjadi kewajiban itu menjadi lebih berat bagi kalian. Oleh karenanya, kalian harus berpartisipasi aktif dalam urusan politik. Semua ulama harus berpartisipasi.
Mengisolasi diri merupakan tipuan Iblis. Ia tidak ingin kita bersatu. Karena kekuatan dihasilkan dengan persatuan; baik militer, Pasdaran, Basij, kelompok-kelompok masyarakat. Semua harus bersatu. Bila kalian bersatu, maka Allah Swt akan memberikan pertolongan kemenangan kepada kalian. (Pidato di hadapan Presiden, Ketua Parlemen..., Sahifah Nour, Jilid 20, hal 6)
* * *
Memarjinalkan Ulama Merupakan Tujuan Utama
Kalian, khususnya ahli ilmu, menjadi target utama. Bila kalian berhasil dikeluarkan dari urusan politik, berarti mereka telah meminggirkan Islam. Ilmu kedokteran tanpa seorang dokter tidak bermanfaat. Oleh karenanya kita membutuhkan dokter dan juga orang-orang yang ahli di pelbagai bidang.
Islam tanpa ulama sama seperti ilmu kedokteran tanpa dokter. Bila kita menyaksikan Islam berada dalam kondisi saat ini dikarenakan perjuangan para ulama. Sekarang kalian harus waspada dan berkewajiban untuk menyerahkan Islam dengan penuh keagungan dan kewibawaan kepada generasi yang akan datang. (Pidato di hadapan ulama Tehran, Sahifah Nour, jilid 5, hal 62) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)
Sumber: Rouhaniyat va Siyasat az Didgah Imam Khomeini ra, Rasoul Saadatmand, Qom, Tasnim, 1378, cetakan pertama.
Baca juga:
Pemikiran Imam Khomeini ra: Konspirasi Memarjinalkan Ulama dari Politik (Bagian Kedua)
Pemikiran Imam Khomeini ra: Konspirasi Memarjinalkan Ulama dari Politik (Bagian Pertama)