Masjid Aqsha, Simbol Kesucian dan Ketertindasan (Bagian 5, Habis)
Hari Jumat terakhir di bulan suci Ramadhan dicetuskan oleh Bapak Revolusi Iran Iran Imam Khomeini, sebagai "Hari Quds Sedunia" untuk menggalang persatuan umat Islam demi membebaskan Baitul Maqdis dan Palestina dari pendudukan Israel, yang dibantu negara-negara Barat terutama AS dan Inggris. Hari Quds sedunia menampilkan kekuatan Muslim sedunia dan manifestasi persatuan Islam dengan poros Quds.
Rahbar menilai isu Palestina sebagai salah satu masalah besar peradaban dunia dewasa ini. Sebab di sanalah terjadi pengusiran sebuah bangsa dari negerinya. Terjadi pengusiran sebuah bangsa dari rumah dan negeri mereka. Kemudian sebagai gantinya datang orang-orang lain dari berbagai penjuru dunia yang sengaja dikumpulkan dan didatangkan ke Palestina. Mereka yang didatangkan punya kesamaan, yaitu sama-sama berasal dari satu ras, ras Israel, ras Yahudi. Yang terjadi dalam isu Palestina adalah rasialisme dalam skala negara. Agresi adalah watak rezim Zionis. Pada dasarnya, Israel berdiri di atas pilar agresi, penjarahan, dan perampasan hak-hak bangsa lain. Tanpa hal itu, Israel tidak akan pernah berkembang. Di balik fenonema ini ada tangan Inggris, kemudian Amerika Serikat.
Lantas, apa sebenarnya pokok permasalahan Palestina? Permasalahan utamanya adalah plot ambisius Zionis internasional untuk mendirikan sebuah negara independen bagi kaum Yahudi. Sebelumnya, mereka melirik negeri Uganda untuk mendirikan negara di sana. Kemudian mereka berpikir untuk pergi ke Tripoli, ibukota Libya. Oleh karena itu mereka membicarakannya dengan Italia, sebab waktu itu Tripoli berada di bawah kekuasaan Italia. Namun pihak Italia menolak. Pada akhirnya, mereka bersepakat dengan Inggris untuk menduduki Palestina.
Akhirnya skenario pendudukan pun berjalan. Awalnya para Zionis ini tidak datang dengan perang. Mereka tampil dengan tipu muslihat. Kemudian mereka membeli wilayah luas di Palestina yang digarap oleh para tukang kebun dan petani Arab, yang merupakan tanah-tanah yang sangat subur dengan harga berkali lipat dari harga sebenarnya.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai pendudukan Zionis terhadap Palestina terjadi dengan tiga elemen. Pertama, tekanan dan cara-cara kekerasan terhadap orang-orang Arab. Sikap mereka terhadap pemilik asli negeri Palestina selalu disertai dengan kekerasan, intimidasi, dan keberingasan. Tidak ada toleransi sedikitpun. Kedua, kebohongan terhadap opini umum dunia. Sedemikian seringnya mereka berbohong melalui media massa Zionis menyebabkan banyak pihak yang tertipu dan mempercayai kebohongan mereka. Bahkan seorang penulis dan filsuf sosial Perancis Jean Paul Sartre juga tertipu. Sartre menulis tentang bangsa tanpa negeri, dan negeri yang tanpa bangsa. Yakni orang-orang Yahudi adalah bangsa yang tidak memiliki negeri, lantas mereka datang ke Palestina yang merupakan negeri tanpa bangsa untuk menipu publik dunia.
Zionis berusaha mengesankan bahwa Palestina adalah negeri tanpa penghuni, negeri yang rusak, dan bernasib buruk. Lantas mereka datang dan membangunnya. Ini jelas kebohongan besar terhadap opini publik dunia ! Mereka selalu berusaha mengesankan diri sebagai orang-orang yang tertindas. Di Amerika, jika terjadi peristiwa sekecil apapun terhadap sebuah keluarga Yahudi berbagai majalah seperti Time dan Newsweek, akan menampilkan foto korban dalam ukuran besar lengkap dengan rincian serta usia orang yang terbunuh dan ketertindasan mereka. Namun saat terjadi ratusan bahkan ribuan tindak kekejaman terhadap para pemuda, keluarga, anak-anak, dan perempuan Palestina, di wilayah Palestina pendudukan dan di Lebanon, media-media itu bungkam seribu bahasa.
Ketiga,konspirasi atau lobi Zionis di pusat-pusat kekuasaan Inggris dan AS, serta organisasi internasional semacam PBB. Pada masa itu, kekuatan-kekuatan asing bersama mereka, terutama Inggris. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sebelumnya Liga Bangsa-Bangsa -yang dibentuk pasca perang dunia kedua selalu mendukung rezim Zionis, kecuali pada beberapa kasus saja.
Pada tahun 1948, Liga Bangsa-Bangsa merilis resolusi membagi Palestina tanpa alasan dan sebab. Disebutkan dalam resolusi itu bahwa 57 persen dari wilayah Palestina adalah milik orang-orang Yahudi, padahal sebelumnya, hanya sekitar lima persen dari wilayah Palestina yang menjadi milik orang-orang Yahudi! Mereka telah membentuk pemerintahan di sana dan kemudian terjadilah berbagai peristiwa, agresi ke berbagai desa, kota, dan serangan ke rumah-rumah dan orang-orang yang tak berdosa.
Pada perang tahun 1967, Israel berkat bantuan Amerika dan sejumlah negara lain, berhasil merampas sebagian wilayah Mesir, Suriah, dan Jordania. Kemudian pada perang tahun 1973, dengan bantuan kekuatan tersebut, Israel kembali berhasil memenangi perang dan menduduki sejumlah wilayah. Israel menginginkan perluasan wilayah kekuasaan. Rezim Zionis tidak hanya puas dengan negeri Palestina yang sudah dikuasainya saat ini.
Pada tahap berikutnya, rezim ini mengagresi negara-negara tetangga seperti Jordania, Suriah dan Mesir serta menduduki sebagian wilayahnya. Zionisme memang mencita-citakan berdirinya Israel Raya, walaupun sekarang mereka jarang membicarakan agenda tersebut dan cenderung menutup-nutupinya. Kembali mereka menipu opini umum. Sebab, untuk saat ini yang mereka perlukan adalah merahasiakan program perluasan ini.
Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, muncul dua fenomena penting. Pertama, gerakan kebangkitan Palestina yang merupakan perlawanan berbasis ideologi sekuler berubah esensi menjadi gerakan kebangkitan Islam. Lahirnya gerakan perjuangan muqawamah Islam dengan warna keislaman yang kental. Para pejuang Palestina membawa spirit Islam sebagai kekuatan utama perjuangannya.
Keduaadalah lahirnya intifadah. Intifadah adalah gerakan kebangkitan dan perlawanan yang muncul di dalam negeri Palestina. Orang-orang Zionis sangat mencemaskan gerakan kebangkitan ini yang mereka pandang sangat penting. Memang mereka berusaha untuk menutupi-nutupi fakta sebenarnya dari gerakan intifadah ini. Yang pasti, perlawanan di dalam wilayah Palestina menjadi pukulan telak dan mematikan bagi rezim Zionis. Perlawanan ini bisa melumpuhkan Israel. Sebab, rezim ini telah menjanjikan keamanan, kedamaian dan ketenangan hidup kepada para imigran Yahudi yang didatangkan dari berbagai penjuru dunia ke negeri ini. Kini yang mereka saksikan adalah perlawanan sengit dari generasi muda bangsa Palestina.
Bangsa Palestina telah bangkit. Akibatnya sendi-sendi pemerintahan zionis goyah. Karenanya, mereka terpaksa menyodorkan perdamaian kepada negara-negara kawasan dan berharap perdamaian bisa diwujudkan secepat mungkin, sehingga tidak timbul gejolak di dalam. Di balik itu Israel terus-menerus melakukan penyerangan dan penindasan, memperluas distrik-distrik Zionis dan memperketat blokade dan tekanan terhadap warga Palestina.
Namun dunia Islam tidak boleh membiarkan Zionis berbuat semaunya. Dengan langkah bijak yang jitu, Imam Khomeini mencetuskan hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan sebagai "Hari Quds Sedunia. "Kini gerakan itu menjadi gelombang protes global terhadap Israel. Jika sebelumnya, Palestina hanya menjadi masalah bangsa Arab, tapi kini Palestina menjadi bagian dari Dunia Islam dan kemanusiaan internasional. Sebagaiman ditegaskan Rahbar, "Hari Quds bukan hanya hari bagi bangsa Palestina, tapi hari umat Islam...Hari Quds sedunia adalah hari internasional. Inilah pesan dunia yang menunjukkan bahwa umat Islam akan melawan segala bentuk kezaliman, meski kezaliman itu dilakukan dengan dukungan negara adidaya dunia." (IRIB Indonesia)