KTT GNB Tehran; Menilik Sejarah Pembentukan GNB

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Bagaimana proses pembentukan Gerakan Non Blok? Ini sebuah pertanyaan yang patut dikaji kembali menjelang penyelenggaraan KTT GNB di Tehran. Karena jawaban dari soal ini akan sangat membantu dalam mengenal dan mendefinisikan kembali gerakan ini. Pada peristiwa Perang Dunia Kedua, ketika Jerman menderita kekalahan demi kekalahan, para komandan militer Sekutu melakukan pertemuan di kota Yalta, selatan Rusia pada 4-11 Februari 1945. Pertemuan itu bertujuan untuk membagi Jerman ke dalam empat wilayah pendudukan oleh Amerika, Inggris, Perancis, dan Soviet.

 

Dalam konferensi yang diikuti oleh Winston Churchill dari Inggris, Joseph Stalin dari Soviet, dan Presiden Roosevelt dari Amerika Serikat, setiap negara itu akan menduduki sebagian dari wilayah Jerman. Sementara pengelolaannya diserahkan kepada komisi pengawas yang terdiri dari para komandan pasukan pendudukan di Berlin. Dalam konferensi ini disepakati perlunya dibentuk organisasi internasional yang bertujuan melindungi perdamaian dan keamanan dunia menggantikan Liga Bangsa-Bangsa (LBB).

 

Menyusul kesepakatan ini, dibentuklah Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan tujuan melindungi perdamaian dan keamanan internasional, perluasan hubungan persahabatan antarnegara-negara, menjamin kerjasama sama untuk menyelesaikan masalah ekonomi, sosial dan budaya. Dewan Keamanan pun terbentuk dan menjadi jantung PBB yang berperan melindungi kepentingan negara-negara besar. Di konferensi ini juga mereka mengusulkan adanya hak veto bagi-bagi negara-negara anggota tetap di Dewan Keamanan PBB.

 

Dengan demikian, bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia Kedua dan terciptanya perdamaian, front pemenang perang perlahan-lahan mengambil gaya hidup bermusuhan. Dalam proses ini, Amerika dan Uni Soviet sebagai dua kutub pemenang perang menjadi simbol mutlak kebijakan bermusuhan ini. Perseteruan ini tidak hanya terjadi di Eropa, tapi juga di Asia, Afrika dan bahkan di PBB. Dari persaingan ini muncullah dua blok politik-militer; satu di Timur dengan pimpinan Uni Soviet dan satu lagi di Barat yang dipimpin oleh Amerika. Dengan demikian dunia memasuki Perang Dingin yang berdampak luas.

 

Tidak mengindahkan kepentingan negara-negara kecil dan melanggar hak-hak negara-negara belum berkembang atau sedang berkembang merupakan dampak buruk dari pembagian politik ini. Ketidakpuasan atas pembagian ini menyebabkan munculnya banyak kebangkitan yang menuntut keadilan. Kebangkitan anti imperialisme pertama muncul di Asia dan Timur Tengah dan setelah itu menyebrang ke Afrika. Dari sini mulai tumbuh benih-benih pembentukan konferensi yang terdiri dari negara-negara Asia dan Afrika. Setelah melalui perjalangan panjang akhirnya terbentuklah Gerakan Non Blok. Tidak memihak satu blok merupakan kebijakan para pemimpin negara-negara ini.

 

Langkah pertama yang dilakukan untuk menciptakan solidaritas antara negara-negara yang pada akhirnya mewujudkan gerakan yang dikenal dengan Gerakan Non Blok, pada tahun 1955 dalam konferensi Bandung (Konferensi Asia-Afrika) di kota Bandung, Indonesia. Jawaharlal Nehru, Gamal Abdul Nasser dan Ahmad Soekarno, kepala negara India, Mesir dan Indonesia di Konferensi Bandung menyampaikan ide pembentukan organisasi yang tidak bergantung pada salah satu blok.

 

Perlahan-lahan, setelah melewati beberapa tahapan akhirnya Gerakan Non Blok dibentuk pada 1960 di tengah memuncaknya Perang Dingin. Pembentukan GNB merupakan usaha Jawaharlal Nehru dari India, Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Soekerno dari Indonesia dan Jenderal Tito dari Yugoslavia dengan tujuan menciptakan persatuan negara-negara pendiri organisasi ini. Negara-negara yang belum menjadi bagian dari kamp Komunis atau Kapitalis. GNB pada dasarnya didirikan dengan tujuan menghapus imperialisme klasik dan modern, menciptakan persatuan dan solidaritas negara-negara sedang berkembang. Selain itu, organisasi ini berusaha menciptakan hubungan politik dan ekonomi yang bebas dan independen dari blok Timur dan Barat demi membantu terciptanya perdamaian dan keamanan negara-negara anggota.

 

Secara umum, dari kronologi pembentukan GNB ini dapat dikatakan bahwa ketika Barat dan Timur berusaha membagi dunia menjadi dua bagian dan milik mereka, sejumlah pemimpin pecinta keadilan yang tidak bergantung pada sistem Kapitalisme dan Komunisme berusaha melakukan konsolidasi negara-negara anggota GNB untuk menghadapi dua kekuatan global ini. Mereka berusaha menciptakan kekuatan internasional lainnya sebagai penyeimbang di kancah internasional. Sebagaimana diketahui dari sejarah pembentukan organisasi ini, dasar pendirian organisasi ini sangat diwarnai oleh tujuan mulia kemanusiaan. Piagam GNB yang memuat 10 butir prinsip (Dasasila), menunjukkan hal ini dan diikuti oleh seluruh anggota.

 

Gerakan Non Blok untuk beberapa waktu berhasil bergerak berdasarkan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Tapi perlahan-lahan upaya yang dilakukan organisasi ini mengalami kegagalan dan tidak mampu memainkan peran penting dan meraih posisi di kancah internasional. Tidak berapa lama setelah itu, salah satu blok kekuatan dunia, yaitu Uni Soviet, runtuh dan dunia berjalan mengarah pada satu blok. Di sini Gerakan Non Blok menghadapi masalah serius. Sekalipun pada saat yang sama, anggota gerakan ini terus bertambah, tapi masalah tetap pada tempatnya dan sampai kini masih ada.

 

Kini setelah bertahun-tahun berlalu, para kepala negara anggota organisasi ini berusaha untuk menghidupkan kembali prinsip-prinsip pendirian GNB dan menyempurnakannya sesuai dengan berlalunya waktu. Konferensi GNB tingkat menteri luar negeri di Sharm el-Sheikh, Mesir pada tahun lalu dibicarakan mengenai beberapa tema baru terkait tujuan GNB dan bagaimana gerakan ini bergerak dan pengaruhnya. Sejumlah usulan telah dibicarakan di Mesir, dan usulan itu akan menjadi final dengan rafitikasi yang dilakukan di KTT GNB Tehran.

 

Hingga tahun 1944, anggota Gerakan Non Blok berjumlah 109, dimana Malta dan Siprus berasal dari benua Eropa dan sisanya berasal dari benua Asia, Afrika dan Amerika Latin. Sementara saat ini anggota GNB telah bertambah menjadi 120 negara anggota dan jumlah ini berarti dua pertiga dari keseluruhan anggota PBB. Dari jumlah keseluruhan anggota GNB, 53 negara berasal dari benua Afrika, 38 dari Asia, 26 negara berasal dari Amerika Latin dan satu negara dari Eropa yaitu Belarusia menjadi anggota resmi organisasi ini. Negara Haiti dan Saint Kitts dan Nevis merupakan dua anggota baru organisasi GNB yang bergabung dalam KTT GNB Mesir. 15 negara dan 7 organisasi internasional menjadi anggota pemantau Gerakan Non Blok.

 

Sekitar setengah abad lalu kita menyaksikan banyak fluktuasi yang mewarnai jalannya gerakan ini. Sebagai contoh, menyusul bubarnya Uni Soviet dan Pakta Warsawa, sebagian negara seperti Argentina keluar dari GNB. Negara-negara seperti Honduras dan Thailand justru bergabung dengan organisasi ini. Kirgyzstan diterima sebagai anggota pemantau, sementara Republik Chek dan Slovakia diterima menjadi negara tamu.

 

Gerakan Non Blok hingga kini telah menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi sebanyak lima belas kali. Kepala-kepala negara anggota GNB melakukan konferensi tinggak menteri luar negeri sekali dalam tiga tahun. Saat ini Mesir menjadi ketua periodik GNB, sementara Iran yang akan menyelenggarakan KTT GNB Ke-16 tahun ini akan menjadi ketua periodik GNB untuk tiga tahun ke depan.

 

Pada kenyataannya banyak masalah yang dihadapi oleh manusia saat ini. Kita tidak dapat memberikan jawaban pasti sistem politik, ekonomi dah hukum internasional mana yang dapat menyelesaikan masalah ini. Khususnya banyak organisasi-organisasi internasional berada di bawah tekanan kekuatan-kekuatan besar dunia untuk menjamin kepentingan ilegalnya.

 

Berangkat dari sejarah singkat pendirian Gerakan Non Blok, gerakan ini telah mengetengahkan 10 butir prinsip yang dikenal dengan Dasasila yang ditetapkan di Bandung, Indonesia. 10 butir prinsip ini masih bertahan selama 50 tahun dan masih tepat untuk diperjuangkan. Karena selama itu pula muncul kapasitas baru di dunia internasional yang menyoal kekuatan-kekuatan dunia. Dari sini, pengertian tidak memblok satu kekuatan pada dasarnya penekanan atas hak-hak setiap bangsa untuk mengikuti strategi bersama dengan kepentingan bersama dalam rangka memperluas dan merealisasikan perdamaian dan keamanan lewat partisipasi bersama dalam memberikan solusi atas masalah internasional. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description