Imam Khomeini Bapak Gerakan Kebangkitan Islam

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei di acara peringatan haul Imam Khomeini ke 23 mendapat reaksi luas dari berbagai media massa dunia. Seperti biasa media massa Barat di setiap pemberitaannya selalu membesar-besarkan isu nuklir sipil Iran untuk menutupi masalah internal yang dihadapi pemerintah Barat. Media massa ini menfokuskan seputar isu kemajuan Iran, kian mendalamnya kebencian bangsa Iran terhadap Barat akibat sanksi, pesan kepada pejabat pemerintah Iran untuk menghindari egoisme, sombong, berbangga diri dan lalai serta penekanan terhadap pilpres mendatang.

 

BBC sesi bahasa Persia menurunkan laporan dengan tajuk, Ayatullah Khamenei: Barat Berbohong Soal Nuklir Iran. Media kemudian mereaksi pidato Rahbar. AFP melaporkan, Rahbar mengatakan bahwa setiap langkah keliru Israel akan menimpa mereka sendiri ibarat petir yang menyambar mereka. Sumber ini menambahkan, pemimpin besar Iran menekankan bahwa kekhawatiran masyarakat internasional terkait upaya Iran untuk memproduksi senjata pemusnah massal merupakan kebohongan semata. "Pemimpin Besar Iran atau Rahbar mengatakan, Barat menyebarkan isu nuklir Iran berdasarkan kebohongan dan tujuannya adalah menyelewengkan opini publik dari transformasi yang terjadi di AS dan Eropa," tulis AFP.

 

Sementara itu, Associated Press (AP) menulis, Rahbar menilai sanksi Barat malah membuat kebencian rakyat Iran kepada mereka kian memuncak. AP menambahkan, pemimpin besar Iran menilai tudingan AS dan sekutunya bahwa Iran tengah mengejar senjata nuklir merupakan kebohongan semata. Ayatullah Khamenei juga menyebut Israel sebagai musuh utama Iran.

 

Adapun Reuters menulis, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei menuduh AS menebar klaim palsu terkait nuklir Iran untuk menutupi masalah dalam negerinya. Mengutip Rahbar, Reuters melaporkan, sikap AS yang menebar klaim palsu soal nuklir Iran untuk menutupi krisis internal yang dihadapinya tak realistis.

"Isu nuklir Iran menjadi isu utama transformasi global dan mereka berlebih-lebihan menggunakan istilah senjata nuklir dengan harapan publik tidak memperhatikan masalah internal AS dan Eropa," tulis Reuters.

 

Sementara Kantor Berita Trend News menulis, pemimpin Iran menekankan ketidakefektifan sanksi terhadap Iran. Media ini menulis, pemimpin Iran di pidatonya menekankan bahwa sanksi Dewan Keamanan PBB dan AS serta Eropa tidak berdampak pada Iran. Trend News menambahkan, Rahbar juga menekankan bahwa apa yang ditakutkan musuh Iran bukan program nuklir Tehran, namun sistem pemerintahan Islam lah yang membuat mereka ketakutan.

 

Ayatullah Khamenei sebelum membahas secara luas mengenai politik agresif Barat terhadap program nuklir damai Iran, beliau menjelaskan tentang pribadi Imam Khomeini ra dan peran beliau dalam kemenangan Revolusi Islam Iran dan gerakan Kebangkitan Islam. Rahbar menyebut Imam Khomeini sebagai Bapak Bangsa Iran, simbol kasih sayang, kekuatan dan ketegaran bangsa. Seraya menyinggung upaya cerdas Imam dalam membangkitkan semangat kebanggaan nasional dan pengokohan struktur internal.

 

Rahbar mengatakan, "Bangsa Iran dengan bersandar pada faktor-faktor ini berhasil mengetengahkan teladan yang berhasil dari Iran yang maju dan islami di luar dari kawasan yang menjadi otoritas Barat kepada bangsa-bangsa di dunia. Hal ini berhasil membuat bangsa-bangsa arogan khawatir. Jalan cemerlang ini akan terus dilanjutkan hingga sampai ke puncak kemajuan dan musuh menjadi putus asa. Tak syak, masa depan bagi bangsa-bangsa Islam dan Iran akan lebih baik dari masa lalu."

 

Ayatullah Sayid Ali Khamenei juga berbicara mengenai sebab penamaan hari kelahiran Imam Ali as sebagai Hari Bapak di Iran, yang berjarak sehari dengan wafatnya Imam Khomeini ra dan menyebut beliau sebagai Bapak Gerakan Islam di dunia Islam. Ditambahkannya, "Satu dari garis utama perilaku Imam Khomeini ra adalah meniupkan semangat kewibawaan bangsa di Iran dan menghidupkan bangsa." Sambil menekankan bahwa Imam Khomeini juga simbol kemuliaan diri dan spiritual, beliau juga berhasil menghidupkan harkat dan martabat bangsa. Rahbar mengingatkan, "Bangsa Iran dengan kemuliaan yang dimilikinya mampu menyingkap kemampuan yang ada dan dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan terealisasinya banyak janji ilahi, seperti kemenangan mustadh'afin atas mustakbirin."

 

Tak seorangpun yang meragukan bahwa Imam Khomeini ra merupakan satu dari fondasi asli kemenangan Revolusi Islam Iran dan berlanjutnya revolusi ini, sekalipun ada banyak permusuhan baik dari dalam maupun luar negeri. Menurut para cendekiawan, Imam Khomeini ra adalah tokoh yang mampu menghidupkan Islam. Karena beliau memulai kebangkitannya berdasarkan prinsip-prinsip keagamaan. Sama seperti Nabi Muhammad Saw yang membawa Islam untuk menyelamatkan manusia dari kebodohan dan kezaliman. Dengan Revolusi Islam, Imam telah meniupkan semangat baru kepada Islam dan berhasil membebaskan Islam dari kondisinya yang selama ini terisolasi. Imam membawa Islam ke tengah-tengah masyarakat sebagai agama yang menuntut keadilan dan melawan kezaliman.

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei di bagian lain dari khotbah mengulas gerakan dan revolusi di kawasan mulai dari Yaman, Bahrain, hingga Mesir, Libya, Tunisia dan negara-negara lainnya yang tampaknya bak api dalam sekam. Gerakan yang mereka lakukan semua itu dalam rangka meraih martabat bangsa, keadilan dan kebebasan di bawah naungan Islam.

 

Beliau menegaskan, "Bila berbicara tentang Kebangkitan Islam dalam gerakan-gerakan ini, maka pembahasan akan mengakar dan bersandar pada argumentasi. Karena bangsa-bangsa ini menuntut keadilan, kebebasan dan demokrasi berdasarkan prinsip-prinsip mereka, yaitu Islam. Dengan dasar ini, substansi gerakan-gerakan di kawasan ini adalah Kebangkitan Islam."

 

Negara-negara Barat telah berusaha keras untuk mempromosikan bahwa kebangkitan rakyat di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah hasil dari ketiadaan demokrasi dan krisis ekonomi. Untuk itu mereka mengistilahkannya dengan "Musim Semi Arab". Garis propaganda ini pada dasarnya upaya untuk menyimpangkan kebangkitan rakyat dan menutup mata dari tuntutan rakyat akan keadilan dan kebebasan berdasarkan agama Islam. Rahbar juga menyinggung upaya Barat dan negara-negara yang bergantung kepada Barat untuk menutupi masalah yang sebenarnya dan menyebut gerakan ini tidak ada manfaatnya. Oleh karenanya, Rahbar mewanti-wanti dengan ucapannya, "Tokoh-tokoh masyarakat dan bangsa-bangsa di kawasan harus berhati-hati dan tetap waspada, jangan sampai mereka tertipu."

 

Rahbar menegaskan bahwa telah terjadi perubahan atmosfir politik dan sosial kawasan akibat kebangkitan yang terjadi di sana dan mengingatkan, "Apa yang terjadi saat ini hasil dari sihir dan ke depannya kita akan menyaksikan perubahan yang lebih besar lagi." Dalam menjelaskan perubahan sosial dan politik kawasan beliau mengatakan, "Ketika kebangkitan rakyat Mesir mencapai puncaknya, kebanyakan negara-negara Barat dan negara-negara despotik kawasan mendukung rezim Hosni Mubarak. Tapi ketika kebangkitan rakyat Mesir mencapai kemenangan, mereka yang sebelumnya mendukung rezim Mubarak, berbalik berbicara tentang hak-hak rakyat dan demokrasi. Padahal sebelumnya mereka tidak bersedia menyebut gerakan itu sebagai gerakan rakyat dan hak rakyat. Ini menunjukkan terjadi perubahan penting dalam situasi kawasan."

 

Mengenai kondisi Barat dan Amerika saat ini sebagai pendukung mutlak rezim Zionis Israel sangat tidak mendukung. Rahbar mengatakan, "Kini, Barat sendiri kebingungan menghadapi rakyat akibat masalah ekonomi dan sosial. Pada dasarnya mereka menampar pipinya sendiri untuk tetap mempertahankannya tetap terlihat merah." Ayatullah Khamenei juga menyebut jatuhnya sejumlah pemerintahan yang mengekor kebijakan Amerika di Eropa dan semakin tingginya kebencian bangsa-bangsa terhadap AS sebagai contoh lain dari krisis serius yang dihadapi Barat. Rahbar mengingatkan, "Mereka berusaha menciptakan masalah guna memindahkan krisis mereka ke Asia, Afrika dan Timur Tengah."

 

Beliau menyebut upaya menciptakan perselisihan etnis, dan agama di negara-negara yang baru saja melakukan revolusi dan menjadikan revolusi ini memakan anaknya sendiri merupakan cara Barat dan Amerika untuk memindahkan krisis mereka. Rahbar menambahkan, "Kini AS memanfaatkan pengalaman Inggris dalam menciptakan perselisihan agama dan etnis. Oleh karenanya, semua bangsa, ulama, cendekiawan dan kalangan akademis di Timur Tengah, tidak peduli itu Syiah atau Sunni untuk tetap waspada agar tidak membantu strategi musuh." Beliau menegaskan, "Tidak diragukan lagi masa depan milik bangsa-bangsa Islam dan bangsa Iran serta lebih dari dahulu." (IRIB Indonesia/SL/NA)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description