Kekayaan Terbaik Menurut Islam

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Manusia yang dihiasi dengan akhlak yang mulia tidak hanya memiliki kekayaan yang besar dan dipuji Allah Swt , namun juga akan menjadi manusia yang bermanfaat dan berpengaruh di masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat akan memujinya.

 

Sejak awal kehidupan manusia, kepemilikan kekayaan menjadi kekhawatiran sebagian manusia di sepanjang hidupnya. Kekayaan manusia di setiap masa mempunyai bentuk yang bermacam-macam, contohnya; ada satu masa di mana emas dan barang-barang berharga lainnya atau memiliki perkebunan dan tanah yang luas sebagai bukti kekayaan seseorang. Sementara pada masa sekarang, memiliki harta melimpah dan uang yang banyak di berbagai bank terkenal, dijadikan ukuran kekayaan seseorang.

 

Tuhan Yang Maha Mengetahui segala dimensi fisik dan ruh manusia, telah memberikan perhatian khusus terhadap berbagai kecenderungan manusia. Allah Swt mencela orang-orang yang menjauhkan diri dari kekayaan, harta, kesejahteraan dan kenyamanan. Dalam surat al-Araf ayat 32, Allah Swt berfirman:

 

"Katakanlah kepada mereka, hai Muhammad, dengan mengingkari dusta mereka kepada Allah dalam hal penghalalan dan pengharaman, "Siapakah yang dapat mengharamkan hiasan dari Allah yang diciptakan untuk hamba-Nya? Dan siapa pulakah yang mengharamkan rezeki yang halal dan baik?" Katakan kepada mereka, "Segala sesuatu yang baik itu adalah nikmat dari Allah. Tidak ada yang pantas menikmatinya kecuali orang-orang yang beriman di dunia, sebab mereka telah melaksanakan kewajiban dengan bersyukur dan taat. Akan tetapi kasih sayang Allah yang luas juga dirasakan orang-orang yang kafir dan melanggar di dunia. Pada hari kiamat nikmat-nikmat tersebut khusus dirasakan hanya oleh orang-orang yang beriman, tanpa yang lainnya. Kami menjelaskan ayat-ayat hukum dengan cara yang jelas seperti ini untuk orang-orang yang mengetahui bahwa Allah itu Esa, Pemilik segala kerajaan. Dalam kewenangan-Nyalah masalah halal dan haram."

 

Al-Quran adalah kitab samawi dan kekal, di mana dalam ayat-ayat lainnya menyebutkan tentang kecenderungan-kecenderuan manusia terhadap berbagai kekayaan.

 

"Manusia dijadikan fitrahnya cinta kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita, anak-anak, emas dan perak yang banyak, kuda bagus yang terlatih, binatang ternak seperti unta, sapi dan domba. Kecintaan itu juga tercermin pada sawah ladang yang luas. Akan tetapi semua itu adalah kesenangan hidup di dunia yang fana. Tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya ketika kembali kepada-Nya di akhirat nanti."(Surat al-Imran ayat 14).

 

Dalam ayat tersebut disinggung tentang enam modal materi kehidupan manusia, di mana merupakan pembentuk pilar kehidupan materi. Enam modal itu adalah wanita (istri), anak, uang tunai, kendaraan mewah, hewan yang digunakan untuk perkebunan dan produksi pertanian.

Dengan menyebutkan bermacam-macam kekayaan, al-Quran telah memberitahukan kepada manusia bahwa kekayaan tersebut bukan tujuan utama kehidupan manusia, namun hanya perantara dan alat manusia untuk sampai kepada kebahagiaan abadi. Terkait hal itu, dalam tafsir al-Amsal disebutkan bahwa Allah Swt menumbuhkan rasa cinta kepada anak, harta dan kekayaan sebagai ujian manusia untuk menuju jalan kesempurnaan dan menggunakan kekayaan itu hanya untuk meraih kebahagiaan dan pembentukan diri, bukan untuk jalan kesesatan dan kebinasaan.

Oleh sebab itu, al-Quran dalam ayat-ayatnya tidak mencela kecintaan yang seimbang kepada istri, anak, harta dan kekayaan. Sebab pedoman-pedoman Islam tidak bertentangan dengan naluri dan aturan penciptaan.

 

Sebenarnya, Islam tidak menentang manusia untuk memiliki harta dan kekayaan serta upaya untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Namun Islam melarang penimbunan kekayaan, ketergantungan yang melebihi batas terhadap kekayaan, dan tidak memperhatikan kepada orang-orang miskin dan mereka yang mengalami penderitaan.

 

Kini muncul pertanyaan, apakah benar kekayaan yang fana dapat menjadi kekayaan utama seseorang? Apakah hanya orang yang kaya dan menggunakan berbagai fasilitas seperti rumah dan mobil mewah dapat dinilai sebagai orang yang kaya yang sesungguhnya? Dalam menjawab pertanyaan tersebut, al-Quran menilai bahwa salah satu sifat orang-orang kafir adalah penilaian salah mereka terhadap sesuatu dan menegaskan bahwa mereka menilai kemuliaan manusia dapat dilihat dari sisi kecantikan fisik, baik wajah, pakaian, kekayaan dan fasilitas yang digunakan.

Kecantikan fisik yang fana saja tidak akan pernah dapat menjadi ukuran penilaian terhadap kemuliaan manusia. Sebab, di samping kekayaan materi ini, manusia memerlukan kekayaaan yang sebenarnya. Kekayaan yang sebenarnya itu adalah sifat baik dan layak. Kekayaan ini tidak akan pernah dapat diperjualbelikan dengan uang.

 

Memiliki akhlak yang baik adalah salah satu kekayaan manusia yang sesungguhnya dan terbaik. Menyempurnakan akhlak adalah salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw. Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.

 

Akhlak dalam konteks ketuhanan memiliki posisi yang sangat penting. Kaidah akhlak yang tinggi merupakan petunjuk yang paling baik untuk penyucian diri dari kotoran. Tumbuh dan sempurnanya manusia berada dalam bayangan akhlak yang mulia. Pada dasarnya, akhlaklah yang menghiasi manusia dengan nilai-nilai tinggi sehingga menghantarkan manusia menjadi wujud yang memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia.

 

Terkait akhlak, banyak ayat al-Quran yang menjelaskannya, di mana sebagian ayat itu menyinggung tentang nilai-nilai yang menjadi bagian untuk manusia  melalui akhlak. Menurut al-Quran, salah satu dampak akhlak yang baik adalah menghantarkan manusia menjadi hamba yang paling mulia di sisi Allah Swt. Sebab, manusia yang berakhlak mulia akan bersikap baik kepada orang-orang bodoh di masyarakat.

 

Dalam al-Quran Surat al-Furqan ayat 63, Allah Swt berfirman, "Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah mereka yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, bersikap rendah hati di dunia ini. Apabila berjalan di muka bumi, mereka selalu berjalan dengan tenang. Demikian pula dalam segala amal perbuatan. Jika mereka dicaci oleh orang-orang musyrik yang jahil, mereka membiarkannya dan mengatakan kepada mereka, "Kami tidak ada urusan dengan kalian, bahkan kami berdoa untuk keselamatan kalian."

 

Dampak lain dari akhlak yang baik menurut al-Quran adalah mempengaruhi hati. Pada hakekatnya, satu-satunya keistimewaan yang membangun hubungan manusia antara satu dan lainnya berdasarkan hak dan keadilan adalah akhlak. Manusia yang tidak memiliki akhlak yang baik akan berada dalam kegelapan. Manusia seperti itu tidak akan pernah mampu hidup bersama masyarakat dengan baik. Sebagaimana orang yang tidak memiliki iman, dia akan menginjak-injak hak orang lain. Begitu juga manusia yang tidak mempunyai akhlak mulia, dia akan mengabaikan hak-hak orang lain.

 

Allah Swt mencintai Nabi Muhammad Saw karena akhlak mulia yang dimiliki beliau. Allah Swt berfirman, " Sebagai wujud kasih sayang Allah kepada kamu dan mereka, kamu bersikap lemah lembut dan tidak berkata kasar karena kesalahan mereka. Dan seandainya kamu bersikap kasar dan keras, mereka pasti akan bercerai berai meninggalkanmu."  Surat Al-i-Imran ayat 159.

Tokoh-tokoh Irfan terkait akhlak mengatakan, "Akhlak adalah petunjuk manusia untuk menghiasi dirinya dengan sifat baik dan mulia, dan menjahui sifat-sifat buruk dan tercela. Sebenarnya akhlak adalah kerangka berfikir yang menentukan perilaku manusia."

 

Dapat dikatakan bahwa akhlak adalah bagian kekayaan batin manusia, oleh karena itu fasilitas materi adalah bagian dari kekayaan lahiriah manusia. Dengan begitu, kekayaan materi dapat mengantarkan manusia ke dalam kebahagiaan dunia dan akhirat  jika dihiasi dengan akhlak yang mulia. Pada dasarnya, orang yang tidak memiliki akhlak yang baik, dia tidak mempunyai sinar penerang, dan orang yang tidak memiliki cahaya, maka tidak ada yang dapat diharapkan darinya kecuali kejahatan, kezaliman dan perampasan serta ketidakadilan.

 

Dalam agama Islam secara gamblang telah dijelaskan tentang jalan untuk sampai kepada akhlak yang mulia. Penjagaan takwa kepada Allah Swt dan mengikuti pedoman Islam adalah jalan untuk mengubah jiwa dan pembersihan ruh serta mengantarkan kepada akhlak yang mulia. Imam Ali as menilai salah satu jalan menuju kekayaan yang abadi yaitu akhlak yang baik adalah melatih perilaku yang baik. Beliau mengatakan, jinakkanlah perilakumu dengan kebaikan dan bawalah ke arah budi pekerti yang luhur.

 

Untuk sampai kepada kesempurnaan akhlak, sejak awal manusia harus memelihara sifat yang baik dalam dirinya, sehingga sifat baik ini akan melembaga dalam dirinya. Kadang kala sebagian orang tersenyum kepada orang lain hanya sekedar untuk pamer, sementara  ketika berada di antara keluarganya, mereka adalah orang yang pemarah dan galak. Orang-orang tersebut tidak dapat disebut sebagai orang yang berakhlak mulia, karena perbuatan mereka hanya untuk mementingkan diri sendiri.  Namun manusia yang benar-benar mengambil keputusan untuk membangun diri dan hanya mengharap ridho dari Allah Swt, maka dia tidak akan bertindak baik dengan tujuan pamer, tetapi benar-benar untuk memelihara ruh dan membangun diri. Manusia seperti itu akan mampu meraih kekayaan yang sebenarnya, yaitu meraih akhlak yang luhur.

 

Dalam agama Islam, puncak yang paling tinggi dari akhlak adalah sampai pada akhlak yang sempurna. Akhlak sempurna dimaknai sebagai keluhuran budi dan sifat yang tinggi dan itulah kekayaan yang kekal yang mendidik jiwa manusia sehingga semua perilakunya akan menjadi baik dan luhur. Manusia seperti ini di manapun akan berperilaku baik. Fisik yang baik tidaklah cukup, namun harus disertai dengan akhlak yang baik dan dalam hubungan sosial dan individu harus berperilaku dengan akhlak yang baik.

 

Manusia yang dihiasi dengan akhlak yang mulia, dia tidak hanya memiliki kekayaan besar dan dipuji Allah Swt, tetapi di masyarakat akan menjadi orang yang bermanfaat dan berpengaruh. Oleh sebab itu, masyarakat akan memujinya. (IRIB Indonesia/RA/NA)

Tags:


1Comments

Comments

Name
Mail Address
Description