Kebudayaan dan Peradaban Islam; Masjid Pusat Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Dalam peradaban Islam, institusi dan pusat-pusat ilmiah menjadi perhatian luar biasa. Peninggalan budaya yang sangat berharga dari abad ke abad mencerminkan kecemerlangan peradaban Islam. Bahkan lembaga-lembaga itu dapat dikatakan sebagai pondasi utama masyarakat Islam.

 

Pusat-pusat agama dan sosial seperti masjid, sekolah, akademi, perpustakaan dan Baitul Hikmah dapat berdiri kokoh di tengah masyarakat, dan bahkan menjadi simbol perdamaian dan kemajuan. Karena peradaban tinggi Islam itu, akademi-akademi dan perpustakaan berkembang cepat. Selain itu, lembaga-lembaga yang ada menjadi pusat budaya di masa itu. Tujuan utama pendirian pusat–pusat budaya adalah menjadikan seseorang muslim sebenarnya yang berwawasan luas.

 

Masjid menurut peradaban Islam, dapat disebut sebagai pusat sosial agama bagi umat Islam. Rasulullah Saw membangun masjid pertama di kota Madinah dengan tujuan mencerahkan umat dan mengenalkan risalah ilahiah. Untuk pertama kalinya, masjid dibangun di Madinah untuk pusat kegiatan pendidikan, pencerahan, pengadilan dan pemerintahan untuk urusan politik, militer dan budaya.

 

Setelah Rasulullah Saw, Imam Ali as juga melakukan hal yang sama dan menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan dan pencerahan. Imam Ali as dalam berbagai kesempatan menyampaikan pencerahan keislaman dan melakukan diskusi ilmiah. Setelah Imam Ali as gugur syahid, tradisi menghidupkan pusat-pusat pendidikan seperti perpustakaan dan sekolah dilanjutkan para pengikut Ahlul Bait as. Tradisi ilmiah secara bertahap mengalami perkembangan di Baghdad dengan berdirinya berbagai akademi, perpustakaan dan institusi pendidikan seperti Baitul Hikmah.

 

Di masa Imam Jakfar Shadiq as, berbagai ilmu berkembang pesat. Bahkan Imam Jakfar Shadiq as mempunyai banyak murid di bidang masing-masing. Sebagai contoh, Aban bin Taghlab adalah murid Imam Jakfar yang pakar di bidang fikih. Imam Jakfar juga mempunyai murid yang pakar di bidang teologi seperti Hisyam bin Hakam. Murid lain Imam Jakfar adalah Jabir bin Hayyan yang merupakan pakar di berbagai bidang termasuk ilmu kimia. Semua murid Imam itu beraktivitas di masjid dengan memberikan penjelasan sesuai dengan bidang masing-masing.

 

Imam Jakfar Shadiq as dapat disebut sebagai pendiri Mazhab Jakfari. Di Madinah, Imam Jakfar mempunyai ribuan murid yang menuntut ilmu di berbagai bidang. Dalam sejarah disebutkan bahwa lebih dari 4 ribu orang menjadi Imam Jakfar di bidang fikih dan ilmu-ilmu Islam.

 

Yang menariknya, Imam Jakfar pada umumnya, menyampaikan kajian di masjid. Para murid Imam Jakfar juga menjadikan masjid sebagai tempat berdiskusi. Mereka biasanya membentuk lingkaran-lingkaran diskusi di masjid dan masing-masing membahas kajian-kajian yang disampaikan dalam kuliah Imam Jakfar. Masjid  di masa itu merupakan pusat pendidikan dan kajian ilmiah. Bahkan setelah itu, sekolah-sekolah yang dibangun mempunyai bentuk seperti masjid. Ini menunjukkan hubungan erat antara sekolah dan masjid.

 

Meski sekolah-sekolah berkembang pesat dan berubah menjadi instansi pendidikan independen, masjid tetap tidak kehilangan aspek mutifungsinya, termasuk pendidikan. Sebagai contoh, ada sebuah masjid di Sistan yang dibangun di abad pertama hijriah. Pada masa itu, masjid Sistan juga menjadi pusat pendidikan agama.

 

Di Bukhara juga ada beberapa masjid yang berfungsi untuk pendidikan hukum dan berbagai ilmu agama. Adapun di Neishabour ada sejumlah masjid jami seperti Masjid Matarzi, Masjid Aqil dan Masjid Qadim yang juga berfungsi sebagai pusat pendidikan.

 

Di awal perkembangan Islam, masjid-masjid dibangun di berbagai kota yang juga dilengkapi dengan perpustakaan. Di antaranya adalah masjid-masjid seperti Masjid al-Aqsha, Masjid Jami Umawi Damaskus, Masjid Jami al-Kabir Tunisia dan Masjid Jami al-Azhar Kairo. Semua masjid itu mempunyai perpustakaan yang kemudian dikenal dengan Masjid Peradaban Islam.

 

Di kota-kota suci juga terdapat perpustakaan-perpustakaan besar. Diantara kota suci yang juga diistilahkan dengan haram adalah Haram Makkah atau Masjidul Haram, Haram Nabawi di Madinah, Haram Imam Ali as di Najaf, Haram Imam Musa bin Jakfar as di Kazhimain, dan Haram Imam Ali ar-Ridho as di Mashad. Di samping itu ada perpustakaan besar di samping makam-makam tokoh besar seperti makam Mowlana di Qunieh, makam Ghazan Khan di Tbriz, makam Sheikh Ahmad Jaam di Turbat-e Jam. Tempat-tempat peribadatan sufi juga seringkali difasilitasi dengan perpustakaan.

 

Selain pusat pendidikan, rumah sakit juga menjadi salah satu pusat peradaban sosial. Rumah sakit selain berfungsi menyembuhkan para pasien, juga menjadi tempat riset para dokter. Lebih dari itu, rumah sakit saat itu juga dillengkapi fasilitas perpustakaan. Rumah Sakit Qosath di Mesir, AlKabir Mansouri di Kairo, Motadari di Baghdad dan Rumah Sakit Rey adalah di antara rumah sakit terkenal dalam peradaban Islam.

 

Sekolah juga termasuk pusat pendidikan dunia Islam. Sekolah di berbagai negara Islam selalu dilengkapi perpustakaan. Bahkan dapat dipastikan bahwa sekolah selalu dilengkapi perpustakaan. Sekolah Nizamiya di Baghdad, Shamisatiah, dan Khasrawiyah di Damaskus, Halawiyah dan Sharafiah di Halab, Soltaniyeh di Kairo dan ratusan sekolah lain adalah sekolah-sekolah terkenal dalam peradaban Islam.

 

Meksi banyak perpustakaan menjadi bagian dari fasilitas masjid dan sekolah, tapi banyak juga perpustakaan yang berdiri secara independen. Di antara perpustakaan terkenal di peradaban Islam adalah Perpustakaan Darul Kutub dan Khazanah Al-Hikmah. Perpustakaan-perpustakaan itu menjadi fasilitas umum yang melayani masyarakat. Khazanah al-Hikam milik Ali bin Yahya Munajim.

 

Bersamaan dengan gerakan terjemah, ilmu-ilmu Islam juga berkembang pesat. Banyak peninggalan berupa karya dan buku-buku hasil rampasan perang atau ghanimah di masa peradaban Islam. Kondisi masa itu membuat pesatnya tradisi keilmuan di negara-negara Islam.(IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description