Sandra Nowey: Aku Memilih Nama Selma Saat Masuk Islam!
Senantiasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan saya. Mungkin saya sedang mencari arti kehidupan. Sayangnya saya berada di tempat yang salah dan dengan cara yang salah.
Akhir Perang Dunia Kedua, Eropa berada dalam kehancuran. Perjalanan saya bermula sebelum saya lahir. Pada tahun 1957, kedua orang tua saya pindah ke Kanada dari Mannheim, Jerman. Keluarga saya adalah Yahudi, mereka bersembunyi pada masa perang. Kakek dari ayah telah ditahan dan dipenjarakan dalam kamp tahanan, sementara ibu saya juga kehilangan ayahnya.
Kedua orang tua saya merasa kecewa dan benar-benar ingin memulai hidup baru di sebuah negara baru. Mereka berusaha keras menjadi orang Kanada. Mereka menukar nama dan menyembunyikan identitas mereka. Tidak seperti kedua orang tua saya, saya memeluk keyakinan Yahudi, tetapi saya masih mencari sesuatu. Dan ketika pencarian itu berakhir, Sandra pun hilang dan Selma mengantikannya. Saya memilih nama Selma saat memeluk agama Islam. Selma (Ummu Salamah) merupakan salah seorang isteri Nabi, dan dia adalah seorang pemelihara. Dia menjaga semua orang. Ia paling dekat dengan nama saya sendiri karena asal kata Sandra juga membawa arti pembantu kemanusiaan.
Cat Stevens Seorang Muslim?!
Minat saya kepada Islam bermula pada tahun 70-an. Pada saat itu saya baru berusia sekitar 13 tahun. Saya mendapat kabar bahwa Cat Stevens memeluk agama Islam, dan dia dikenali dengan Yusuf Islam. Saya merasakan ia sebagai sesuatu yang menakjubkan dan saya ingin tahu lebih mengenai Islam.
Kami berpindah randah beberapa kali. Kami besar di ladang. Kami agak terasing dan hanya bergaul dengan sesama kami anggota keluarga. Usia remaja memang amat menantang. Bukan saja saya seorang penentang, saya juga tidak merasa gembira. Saya benci tinggal di rumah. Pada usia 17 tahun, saya meninggalkan rumah.
Pada tahun 2001, seorang supir mabuk menabrak mobil saya, sehingga saya terpaksa belajar untuk berjalan semula. Saat mobil saya melayang, saya merasa amat takut sekali dan berkata, Apakah begini cara saya menemui ajal?" Pada ketika itu, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk kehidupan saya.
Yang menjadi titik perubahan terbesar dalam kehidupan saya adalah ketika ibu saya menderita kanker dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 2005. Inilah yang menjadi penggerak untuk saya melangkah kearah Islam.
Azan di India
Selepas dua minggu kematian ibu, saya pergi ke India. Saya tiba di sana saat bulan Ramadhan. Malam pertama saya di sana, azan berkumandang pada jam lima pagi. Saya terpesona dengan suara azan. Sayapun berdiri di jendela dan merasa sungguh bahagia, damai dan tenang. Inilah detik-detik yang membuat saya berubah.
Syahadah adalah kesaksian ketika seseorang ingin memeluk agama Islam. Syahadah mudah sekali. Sebuah kesaksian bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah, dan itulah yang anda yakini.
Apa yang menarik pada saya ialah kesamaan antara Judaisme dan Islam. Kedua agama ini mempunyai ikatan yang erat.
Anda akan mulai melangkah ke arah Islam dengan menyatakan keyakinan anda dengan menyebut dua kalimah syahadah.
Tanpa membuang waktu, kami akan meneruskan dan meminta Allah untuk mengaruniakan Rahmat-Nya serta memberikan keberkahan kepada kita semua.
Tiada Tuhan yang ku sembah melainkan Allah, dan Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah.
Tahniah
Terima kasih
Allah hu Akbar
Alhamdulillah
Aneh sekali untuk saya memberitahu kawan dan keluarga. Tidak ada kata-kata untuk saya sampaikan kepada mereka bahwa saya telah memeluk agama Islam.
Memakai Hijab
Saat mula-mula memakai hijab, selain merasa cemas untuk 4 minggu pertama, saya berubah menjadi lebih baik, memikirkan apa yang harus saya katakan dan memikirkan perilaku saya saat berhadapan dengan orang lain.
Saya sering heran melihat reaksi orang terhadap hijab. Saya tidak memahaminya. Mungkin orang-orang Amerika Utara menganggap wanita berhijab sebagai orang yang tertindas. Mungkin ini berlaku dalam negara-negara lain, tetapi tidak di Kanada. Kami bebas membuat pilihan di sini. Dan saya memilih ini. Apa yang mereka tidak paham ialah keperluan wanita untuk menutup diri mereka. Perkara tersebut memang terdapat dalam al-Quran.
Saya memang menyenanginya. Saya merasa amat gembira mengenakan hijab. Malah saya tidak dapat bayangkan diri saya keluar tanpa mengenakan hijab.
Pada hari pertama saya mengenakan hijab ke tempat kerja, saya merasa sungguh cemas. Saya bekerja sebagai asisten legal, maka pakaian di sini agak konservatif dan tidak banyak yang mengenakan hijab.
Sambutan dari teman-teman sekerja begitu besar sekali. Banyak yang tertegun. Banyak yang kelihatan lucu dan banyak yang terhenti saat mereka melewati meja saya.
Apa yang menyedihkan, salah satu pengalaman paling pahit datang dari masyarakat Islam. Ketika saya ingin menunaikan shalat berjamaah pada Zuhur Jumat, hp saya berbunyi dan kebetulan ia datang dari teman muslimah yang saya kenal. Dia berkata kepada saya, "Anda masih mengenakan hijab?"
"Ya," jawab saya.
Dia berkata, "Semua teman saya bertanya siapakah perempuan berkulit putih yang berlagak seperti seorang muslimah?"
Hancur hati saya. Saya bukan baergaya. Bukan juga sekadar bergaya.
Orang lain sering berasumsi bahwa karena saya seorang warga Amerika Utara dan memeluk agama Islam maka saya sedang membuat kenyataan politik, dan sebenarnya saya pikir hal ini lebih dari sekadar sebuah kenyataan siapa saya. Dalam hidup, saya adalah seorang muslim. Dan saya memilih untuk mengenakan hijab, tidak ada bedanya dengan seorang yahudi yang mengenakan ‘yarmulke'.
Salah satu mitos lain yang sering dibuat oleh orang lain ketika seorang wanita Amerika Utara memeluk Islam, secara otomatis orang akan menganggap bahwa dia telah menikah, maka dia melakukankannya untuk suaminya karena itulah satu-satunya cara mereka menyenangkan hati suami mereka. Bukan demikian.
Saya adalah seorang muslimah yang mengenakan hijab sebelum bertemu pasangan saya. Pasangan saya, Sheikh Jamal Zahabi, datang ke Kanada pada tahun 1980-an. Dia adalah seorang Imam di Pusat Islam. Saya mengetahuinya, tetapi kami saling kenal hanya ketika kebetulan seorang teman memperkenalkan kami.
Ayah saya belum pernah melihat saya mengenakan hijab, dan ia belum bertemu suami saya. Kami akan menemuinya, saya merasa sedikit cemas. Saya tidak pasti apa yang akan diucapkan oleh ayah saya. Saya juga tidak tahu apakah reaksinya. (IRIB Indonesia/onislam)