Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 158-161

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 158

 

Artinya:

Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula)". (6: 158)

 

Dalam penjelasan sebelumnya diketengahkan Al-Quran sebagai kitab utama dan mukjizat Nabi Muhammad Saw, sebuah kitab undang-undang Islam sekaligus mukjizat. Namun kaum Musyrikin dan orang-orang Kafir tidak bisa berdalil tanpanya, atau mereka tidak mampu mendatangkan sebuah surat apapun seperti al-Quran. Akhirnya mereka mencari segala macam alasan untuk menolak al-Quran dengan meminta mukjizat yang lain. Mereka meminta agar malaikat diturunkan kepada mereka, atau yang lebih lucu adalah meminta agar Allah turun ke bumi, begitu juga petir yang menakutkan.

 

Tapi semua permintaan itu dihadapi Nabi Saw dengan tegas bahwa kalian bukan orang yang ingin beriman. Karena sekalipun semua itu terjadi, tetap saja kalian tidak akan beriman dan tidak bermanfaat bagi kalian. Selain itu, bila hal itu terjadi dan kalian tidak beriman, Allah Swt akan menurunkan azab yang teramat pedih kepada kalian. Kalian harus sadar bahwa iman itu memiliki nilai dan jadilah orang yang merdeka, tidak merasa takut apalagi terpaksa.Diturunkannya ayat-ayat seperti ini yang merupakan permintaan kalian akan dapat menafikan kebebasan kalian untuk beriman dan menjadi penyebab hancurnya kalian semua. Lihatlah bagaimana Nabi Saleh as mengeluarkan onta dari sebuah gunung, tapi tetap saja ada orang yang tidak beriman, bahkan membunuh onta tersebut. Akibatnya, Allah menurunkan azab kepada mereka.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Orang-orang Kafir yang keras kepala tetap tidak mau menerima dan tunduk dengan menyaksikan berbagai mukjizat Ilahi. Padahal sebuah mukjizat saja sudah cukup untuk menjadikan seseorang beriman.

2. Iman tanpa amal saleh samadengan beramal tanpa iman, tidak ada artinya samasekali.

 

Ayat ke 159

 

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.(6: 159)

 

Tidak saja orang-orang Kafir dan Musyrikin, bahkan orang-orang Mukmin yang mengaku beriman, maka siapa saja yang melakukan bidah dan penyelewengan serta menafsirkan agama ini dengan pendapatnya sendiri, pada Hari Kiamat akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Terlebih lagi ketika perbuatan itu mengakibatkan munculnya golongan-golongan dalam agama ini. Salah satu kritikan al-Quran terhadap para pengikut agama lain adalah penyimpangan dan penyelewengan baik secara lafdzi maupun maknawi yang telah mereka lakukan terhadap berbagai pengetahuan kitab samawi mereka.

 

Dalam al-Quran tidak disebutkan penyelewengan dan penyimpangan lafdzi maupun maknawi, tetapi dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran dan berbagai riwayat mereka telah melakukan berbagai penyimpangan dan bidah. Karena  perkara ini justru telah menyebabkan terjadinya perpecahan di kalangan kaum Muslimin, sehingga pelaku perbuatan ini harus mempertanggungjawabkan perbuatan dosa besarnya ini. Mereka tetap terhitung telah melakukan dosa besar, sekalipunn para ulama dapat menyingkap berbagai perbuatan bidah dan penyelewengan ini dan agama dapat dibersihkan dari segala bentuk penyimpangan, sehingga dalam hal ini persatuan yang sebenarnya juga hakikat Islam akan dapat diperoleh.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Iman harus total terhadap segala ajaran Islam. Karena hanya mengimani setengah dan mengingkari lainnya tidak sesuai dengan semangat Islam.

2. Perpecahan dikalangan umat Islam sebagai pertanda adanya penyimpangan dalam menafsirkan al-Quran dan Hadis. Karena itu perkara ini harus segera dibenahi dan diluruskan.

 

Ayat ke 160

 

Artinya:

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (6: 160)

 

Kelebihan aturan ilahi atas undang-undang buatan manusia adalahpemberian pahala bagi orang yang melaksanakan kewajiban ilahi itu. Sementaradalam undang-undang buatan manusia yang ada adalah sanksi bagi orang-orang yang menentang atau melanggar undang-undang. Tidak ada istilah pahala bagi mereka yang telah melaksanakan undang-undang. Dalam aturan ilahi, bagi mereka yang melakukannya akan mendapat pahala, sedangkan yang meninggalkan atau melanggar akan mendapat siksa. Terkait pahala yang diberikan tidak hanya sesuai dengan amalnya, tapi dilipatgandakan 10 kali atau kadang-kadang lebih banyak. Hal ini menandakan kelembutan dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba­-Nya yang berbuat baik.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Berdasarkan metode pendidikan Islam, pemberian semangat harus lebih dari hasil perbuatan tersebut.

2. Sesuatu yang senantiasa bersama manusia baik didunia maupun diakhirat hanya perbuatan baik atau buruk.

 

Ayat ke 161

 

Artinya:

Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik". (6: 161)

 

Sejak dulu orang-orang Musyrik mengaku sebagai pengikut agama Nabi Ibrahim as. Tapi pelaksanaan haji mereka membuktikan hal lain. Allah Swt dalam ayat ini memerintahkan kepada Nabi-Nya agar menyatakan kepada mereka bahwa Nabi Ibrahim juga tidak senang dengan perilaku mereka semacam ini. Segala perbuatan syirik yang sangat menghinakan ajaran Nabi Ibrahim as menunjukkan mereka tidak sedikitpun condong kepada ajaran beliau. Karena ajaran Nabi Ibraim as dibangun dari landasan yang kokoh, memiliki logika yang kuat dan kebenaran yang tidak dapat dibantah. Itulah mengapa tidak ada jalan bagi syirik untuk dapat menyusup ke dalamnya.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.Nabi Muhammad Saw merupakan teladan jalan yang lurus, sedang berpegang teguh pada pernyataan dan perbuatan beliau Saw akan menjadikan manusia berpijak pada jalan yang lurus.

2. Dasar semua agama tauhid adalah satu dan ajaran Islam yaitu ajaran nabi Ibrahim.(IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description