Rasisme dan Kemiskinan Kronis di Amerika Serikat

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Telah banyak langkah yang diupayakan selama 150 tahun untuk membasmi sikap anti-warga kulit berwarna khusus warga kulit hitam di Amerika Serikat, namun hasilnya sangat sepele. Demikian disebutkan hasil analisis baru dari data sensus dan jajak pendapat.

 

Dalam apa yang diyakini sebagai laporan pertama yang secara kuantitatif menunjukkan efek berkesinambungan perbudakan dalam politik kontemporer di American South, sebuah tim ilmuwan politik dari Universitas of Rochester memeriksa para pejabat partai dan pandangan mereka tentang ras terhadap lebih dari 39.000 orang kulit putih di wilayah selatan Amerika Serikat.

 

Hasilnya, sebuah "efek perbudakan" telah mengakar di antara warga kulit putih di Selatan yang saat ini tinggal di Cotton Belt tembat berkembangnya perbudakan dan ekonomi perkebunan dari abad ke-18 ke abad ke-20.

 

Tentunya masalah rasisme ghalib dibarengi dengan kemiskinan Keluarga Amerika semakin terpolarisasi dan menderita akibat ketimpangan ekonomi yang diperburuk oleh resesi besar. Sebagian besarnya adalah komunitas miskin di Amerika Serikat adalah warga kulit hitam yang tidak mendapatkan akses dan layanan setara seperti warga kulit putih.

 

Demikian disebutkan sebuah laporan baru yang dirilis Rabu 11 September lalu.

 

Laporan bertajuk "Jalan Berbeda Keluarga Amerika," menunjukkan celah melebar dalam beberapa tahun terakhir antara keluarga kulit putih, berpendidikan atau kaya dan minoritas dan keluarga miskin.

 

"Saya terkejut dengan besarnya perbedaan yang terjadi dalam masalah pendidikan," kata penulis laporan itu Zhenchao Qian, seorang sosiolog di Ohio State University.

 

"Tidak diragukan bahwa kesenjangan antara si kaya dan miskin Amerika tumbuh lebih besar dari sebelumnya selama tahun 2000-an," katanya.

 

Studi ini menganalisis data sensus dari tahun 2000 , 2008 dan 2010 untuk mengamati efek dari Resesi Besar terhadap keluarga .

 

Studi ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan dengan tingkat pendidikan atau pendapatan yang tinggi lebih mungkin untuk menikah dan anak-anak mereka kecil kemungkinannya untuk hidup dalam kemiskinan, sebaliknya lebih mungkin diuntungkan dari stabilitas keluarga.

 

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Resesi Besar kemungkinain memperburuk kecenderungan untuk menunda pernikahan dan tingginya jumlah orang yang lajang.

 

"Sebagian besar orang ingin memiliki keluarga jangka panjang yang stabil," kata Philip Cohen, sosiolog dari University of Maryland yang mempelajari ketimpangan keluarga. "Fakta bahwa orang kaya lebih mampu untuk melakukan itu daripada orang miskin hanya indikator lain dari ketimpangan dalam masyarakat yang kita hidup di dalamnya."

 

Sejarawan Keluarga Stephanie Coontz mengatakan polarisasi keluarga Amerika adalah hasil dari "perluasan ketimpangan ekonomi ini akan bertambah buruk, kecuali kita memutuskan agar masyarakat berinvestasi pada lapangan kerja dengan upah layak dan sistem pendidikan yang benar-benar egaliter."

 

Sebuah studi baru oleh Internal Revenue Service juga menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan antara 1 persen terkaya di Amerika Serikat dan seluruh rakyat Amerika sejak tahun 1928 mencapai titik puncaknya pada tahun 2012.

 

Menurut hasil penelitian Internal Revenue Service, kelompok jetset AS dengan total 10 persen meraup 48,2 persen dari total pendapatan pada tahun 2012.(IRIB Indonesia/MZ)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description