Amalan yang Mengubah Kesengsaraan Menjadi Kebahagiaan

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Bersilaturahmi dalam Islam memiliki posisi dan peran penting menciptakan empati dalam diri manusia.

 

Silaturahmi berarti menjalin hubungan dengan keluarga dan termasuk kewajiban agama, sementara memutuskan silaturahmi hukumnya haram.

 

Sayidah Fathimah az-Zahra as terkait pentingnya masalah silaturahmi dan ketika ditanya mengapa manusia harus melakukan silaturahmi, beliau menjawab, "Allah Swt menjadikan silaturahmi agar manusia berkembang biak dan bertambah banyak."(1)

 

Rasulullah Saw bersabda, "Memberi sedekah pada tempatnya, berbuat baik, berbuat baik kepada orang tua dan silaturahmi akan mengubah kesengsaraan menjadi kebahagiaan, memanjangkan umur dan mencegah kematian yang buruk."(2)

 

Bersilaturahmi sedemikian bernilainya dalam Islam, sehingga banyak hadis yang berbicara tentangnya.

 

Imam Ali as berkata, "Silaturahmi membawa kasih sayang dan membuat musuh menjadi hina."(3)

 

Imam Baqir as mengenai penting dan posisi silaturahmi dalam ibadah dan bagi kemanusiaan berkata, "Pahala silaturahmi lebih cepat sampai kepada pelakunya ketimbang perbuatan baik yang lain."(4)

 

Imam Ali as saat ditanya apa zakat orang yang mampu, beliau menjawab, "Zakat orang yang mampu adalah berbuat baik kepada tetangga dan bersilaturahmi."(5)

 

Rasulullah Saw juga bersabda, "Barangsiapa yang berusaha untuk bersilaturahmi dengan jiwa dan hartanya, maka Allah Swt akan memberikan pahala 100 syahid kepadanya."(6)

 

Berdasarkan hadis-hadis dari Maksumin as, pengaruh dan berkah akibat bersilaturahmi banyak sekali seperti panjang umur, rezeki yang bertambah, akhlak yang baik, amal yang ikhlas, menolak bala dan bencana, pengitungan amal yang mudah, kota yang makmur dan lain-lain. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Catatan:

1. Bihar al-Anwar, 74/94/23, Muntakhab Mizan al-Hikmah, 232.

2. Nahjul Fashahah, hadis 1869.

3. Ghurar al-Hikam, jilid 4, hal 209, hadis 5825.

4. al-Kafi, jilid 2, hal 152, hadis 15.

5. Ghurar al-Hikam, hadis 5453.

6. Man Laa Yahdhuruhu al-Faqih.

 

Sumber: ISNA

Tags:


1Comments

Comments

Name
Mail Address
Description