Eskalasi Intoleransi Takfiri di Yogyakarta

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Oleh: Muhammad Anis*

Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia—yang terlihat dari keberagaman suku,agama, dan bahasa—memang menjadi kota yang potensial terhadap isu SARA. Namun demikian, kota ini senantiasa mampu memberikan kedamaian dan kenyamanan bagi penghuninya. Bahkan kota ini kerap memperoleh predikat Kota Toleran (city of tolerance).Riak-riak kecil memang sesekali muncul, tetapi dapat segera diatasi dalam tempo yang relatif singkat. Namun, akhir-akhir ini predikat ini terganggu secara masif dengan munculnya kelompok-kelompok intoleran takfiri (orang-orang yang suka mengafirkan dan menganggap sesat selain keyakinan mereka). Dalam dua tahun belakangan tercatat sudah beberapa kali terjadi aksi anarkis dan teror atas nama agama oleh kelompok-kelompok intoleran tersebut. Saya akan sebutkan beberapa saja.

 

Pada 9 Mei 2012 sekitar dua ratusan massa dari Majelis Mujahidin Indonesia menyerbu pendopo LKiS di kawasan Sorowajan Bantul. Mereka membubarkan diskusi yang diisi Irshad Manji, sembari memukuli dan mengumbar takbir. Nama Tuhan sedemikian murahnya dieksploitasi. Serangan yang berlangsung hampir setengah jam itu menyebabkan beberapa peserta terluka, termasuk peserta perempuan. Terlepas dari kualitas Irshad Manji dan ketidaksetujuan terhadap pandangannya, kejadian ini menunjukkan betapa polisi dan pemerintah sudah tidak punya wibawa di hadapan kelompok-kelompok garis keras dan intoleran.

 

Padahal, mestinya kedatangan Irshad Manji bisa menjadi kesempatan untuk menyanggah pandangan-pandangannya secara ilmiah dan santun. Kekerasan hanya akan menjadikan Irshad Manji dan kaum islamofobik menang sebelum bertanding.

Kejadian berikutnya pada tanggal 15 Juli 2012, ketika majelis maulid Nabi Saw Habib Zaki Assegaf didatangi seseorang yang berpenampilan khas Salafi/Wahabi radikal. Ia dengan congkaknya meminta agar majelis maulid dibubarkan, dengan alasan mengganggu warga. Padahal, acara tersebut sudah rutin terselenggara setiap bulan dan sudah memperoleh ijin resmi dari Ketua RW setempat. Bahkan sang abu intoleran ini tanpa ragu menyebut kegiatan maulid sebagai syirik, yang kontan memancing emosi salah seorang peserta dan nyaris terjadi bentrok fisik. Rekaman videonya bisa didownload di youtube.

 

Peristiwa yang sama juga menimpa Yayasan Islam Rausyan Fikr (RF), yang dianggap sebagai sarang Syiah sesat oleh kelompok intoleran takfiri. Pada 14 November 2013, acara peringatan Asyura (10 Muharram) terpaksa dihentikan mendadak, dikarenakan RF menerima informasi dari aparat kepolisian bahwa kelompok Front Jihad Islam akan membubarkan acaraSyiah. Padahal, acara haul semacam ini telah lazim diadakan sejak berdirinya RF tahun 1995 dan diterima dengan baik oleh warga sekitar. Pada 21 November 2013, RF kembali memperoleh ancaman serangan anarkis dari kelompok gabungan Majelis Mujahidin Indonesia dan Front Jihad Islam. Namun, ancaman ini berhasil digagalkan oleh kesigapan Gubernur DIY Ngarso Dalem Sultan HB X dan Polda DIY.

 

Namun, kelompok-kelompok tersebut tidak berhenti begitu saja. Aksi-aksi teror psikologis dan provokasi masyarakat terus mereka lakukan secara masif, dengan menebar seminar-seminar kebencian dan pemasangan spanduk-spanduk anti-Syiah di jalan-jalan bahwa "Syiah Bukan Islam". Aksi berlanjut lagi melalui undangan yang disebar melalui SMS (18 Desember 2013) yang berisi ajakan untuk mendatangi MUI DIY dan menuntut lembaga ini untuk mengeluarkan fatwa Syiah sesat. Mereka mengancam, jika dalam waktu satu minggu MUI DIY dan Pusat tidak mengeluarkan fatwa tersebut, maka mereka akan mengacu pada fatwa MUI Jatim tentang kesesatan Syiah dan tentunya akan ditindaklanjuti dengan aksi penutupan RF.

 

Padahal, keberadaan RF selama hampir 20 tahun ini tidak pernah meresahkan warga. Hal ini ditegaskan oleh Sujiman (Ketua Dukuh setempat) bahwa mereka yang belajar di RF adalah warga negara yang baik dan terbuka, serta berbaur dengan masyarakat sekitar. Sujiman juga membantah tudingan kelompok intoleran bahwa aktivitas keagamaan di RF berbeda dengan penganut Islam lainnya, bahkan anak-anak RF rajin salat berjama'ah di masjid kampung, seperti yang dilansir Sorot Jogja (22 November 2013). Ia berharap agar polisi dapat mencegah aksi anarkis di pendukuhan yang dipimpinnya yang selama ini telah berjalan baik antarwarga tanpa terjadi gesekan yang berbau SARA.

 

Pengaruh Asing dan Kegamangan Pemerintah

 

Kondisi tragis yang menimpa Rausyan Fikr dan minoritas Syiah di berbagaidaerah lainnya tentu tidak dapat dilepaskan dari pergolakan politik di Timur Tengah. Bukan rahasia lagi bahwa Saudi Arabia sangat kecewa karena AS batal menyerang Suriah dan melunakkan sikap terhadap Iran. Bahkan Kepala Badan Intelijen Saudi Arabia, Pangeran Bandar bin Sultan, pernah nekat mengancam Vladimir Putin bahwa jika Rusia tetap mendukung Suriah, maka Saudi Arabia akan mengkoordinasi para teroris Chechen untuk mengacaukan Olimpiade Musim Dingin Rusia (7-23 Februari2014). Eskalasi intoleransi takfiri terhadap minoritas Syiah di Indonesia tampaknya tak dapat dilepaskan pula dari kunjungan rahasia Bandar bin Sultan ke Jakarta sekitar dua bulan yang lalu. Sayang, kunjungan ini tidak terendus oleh media lokal.

 

Ketika AS dan Saudi Arabia gagal menggasak Suriah dan Iran secara politik, maka digunakanlah isu ideologis dengan menstigmatisasi Syiah. Hasilnyamemang efektif. Hal ini juga diamini oleh Sidney Jones, pengamat terorisme dari ICG (International Crisis Group). Menurutnya, penting untuk diteliti lebih lanjut mengapa ancaman kelompok radikal yang pada awalnya menyasar aparat kepolisian, kini malah beralih kepada Muslim Syiah. Sidney mensinyalir adanya suntikan dana dari Saudi Arabia sebagai pihak yang berkepentingan dalam membendung aktivitas Syiah di Indonesia. Selain itu, konstelasi politik Timur Tengah, khususnya Suriah, tak pelak juga sangat berpengaruh terhadap nasib minoritas Syiah di Indonesia.

 

Ironisnya lagi, dalam kunjungan kerjanya di Yogyakarta (23 November 2013),Menteri Agama Surya Dharma Ali (SDA) bersama rombongan menjalani berbagai agenda kegiatan. Salah satunya adalah bagi-bagi 19 miliar beasiswa untuk pelajar MI-MTs-MA dan 50 juta bantuan sertifikat halal untuk LPOM MUI Yogya. SDA mengusung slogan bina kerukunan antartokoh dan antarumat beragama, yang secara simbolik diprosesikan dengan seremoni pelepasan balon dan pelepasan enam ekor burung merpati sebagai simbol enam agama resmi yang diakui di Indonesia.

 

Padahal, sehari sebelumnya, beberapa ormas intoleran takfiri telah menebar ancaman terhadap Yayasan Islam Rausyan Fikr, sebuah lembaga yangbergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan sumber daya manusia,dengan tuduhan tak berdasar dan beraroma adu domba. Lebih mengejutkanlagi, berdasarkan informasi terbatas, aksi teror terhadap RFditengarai sebagai rancangan partainya SDA. Konon, itu dilakukan demike pentingan pragmatis mendulang suara pada Pemilu 2014 nanti. Tidak mengherankan, karena sebelumnya SDA juga telah mengeluarkan komentar-komentar negatif terkait Syiah Sampang.

 

Ini juga amat disesalkan oleh Sidney Jones. Ia menghimbau pemerintah Indonesiauntuk memberikan pernyataan publik bahwa Muslim Syiah adalah bagian yang tak terpisahkan dari rakyat Indonesia. Segala bentuk seruan kebencian (hate speech) terhadap Syiah harus ditindaklanjuti oleh aparat dan diproses ke pengadilan, karena telah jelas-jelas mengganggu ketertiban umum dan melanggar Undang-Undang.

 

Syiah Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan keindonesiaannya. Gerakannya sangat berbeda dengan gerakan transnasional ala Ikhwanul Muslimun dan Hizbut Tahrir. Syiah Indonesia tidak sedang mengarah kepada IslamPolitik yang terinspirasi Revolusi Islam Iran. Sama sekali tidak. Sejak masuknya ke Nusantara sekitar seribu tahun yang lalu, Muslim Syiah turut berbaur dengan budaya dan agama lokal melalui pendekatan kultural dan damai.

 

Karena itu, rakyat dan pemerintah Indonesia harus waspada bahwa politik adu domba dan pecah belah pada gilirannya akan menghancurkan pilar kebangsaan dan mendisintegrasi NKRI. Sikap intoleran dan kekerasan dalam bentuk apa pun, terlebih lagi dengan mengatasnamakan agama, pada hakikatnya adalah musuh keadilan dan kemanusiaan.(IRIB Indonesia/PH)

*Dosen UIN Yogyakarta.

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description