Kudeta Politik Junta Mesir dan Barat untuk Mursi

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ketika upaya untuk mencegah kemenangan kelompok islamis di Mesir tidak membuahkan hasil, maka propaganda baru dari Barat dan antek-anteknya di dalam negeri pun bergulir yang termasuk di antaranya penggulingan kubu islami secara lunak dari panggung politik.

 

Fars News melaporkan, dalam beberapa hari terakhir dikemukakan berbagai isu terkait pemilu presiden Mesir di berbagai media massa, namun apa yang menjadi fokus saat ini adalah sesungguhnya siapa pemenang pilpres putaran kedua ini. Muhammad Mursi, calon dari Ikhwanul Muslimin atau Ahmad Shafiq, mantan perdana menteri terakhir era rezim Mubarak.

 

Hasil penghitungan awal dan juga hasil pemungutan suara di luar negeri menunjukkan Mursi terdepan mengalahkan Shafiq. Bahkan sejumlah anggota Komisi Pemilu Mesir mengkonfirmasikan keberhasilan Mursi dengan meraih 52 persen suara. Bahkan Ikhwanul Muslimin dan Mursi mengumumkan pelantikan Mursi akan digelar Jumat pekan ini (22/6) di Bundaran al-Tahrir.

 

Berita ini dimuat dan disebarkan di seluruh media massa Mesir begitu pula sumber pemberitaan cetak dan visual asing seperti Reuters, Aljazeera, al-Arabiya, Press TV, dan lainnya.

 

Namun tim sukses Ahmad Shafiq, selang sehari setelah pengumuman yang dilansir oleh media-media massa ternama internasional itu, menepis hal tersebut dan mengklaim bahwa calon dukungan para jenderal ini yang menang dengan perolehan suara 51,5 persen. Tim sukses Shafiq berusaha menunjukkan kemenangan mereka dengan menggelar pesta dan konsentrasi dalam skala kecil. Shafiq dengan hanya bersama puluhan pendukungnya, berkumpul di depan kediamannya untuk mengesankan bahwa dirinyalah pemenang pilpres.

 

Konsentrasi rekayasa dan berskala kecil ini, jelas tidak dapat dibandingkan dengan partisipasi warga di bundaran Tahrir untuk menyambut pidato Mursi. Namun konsentrasi ala-Shafiq itu mengindikasikan kemungkinan digulirkannya makar hebat dalam waktu dekat oleh kelompok pro-Barat tidak lama lagi, guna menyabotase hasil pemilu.

 

Di lain pihak, Dewan Tinggi Angkatan Bersenjata Mesir jelas akan menggunakan berbagai macam cara untuk mencapai tujuannya, seperti berhasil memasukkan mantan perdana menteri era rezim Mubarak dalam daftar calon presiden dan bahkan mengantarkannya hingga putaran kedua. Tampaknya, pengumuman kemenangan Muhammad Mursi sudah pasti, ini tercermin dari kekhawatiran Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa waktu terakhir pasca pemilu.

 

Dengan membubarkan parlemen dan penetapan amandemen UUD dalam mereduksi wewenang presiden mendatang, junta Mesir pada hakikatnya sedang menggulirkan kudeta politik lunak terhadap Mursi. Akan tetapi yang paling dikhawatirkan adalah skenario penyebaran instabilitas dan kerusuhan di dalam negeri dengan klaim telah terjadi kecurangan dalam pemilu untuk merongrong pemerintah mendatang Mesir. (IRIB Indonesia/MZ)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description